Hubungan Antara Sindroma Metabolik, Obesitas dan Analisis Faktor Risiko terhadap Kejadian Bromhidrosis

Tanggal : 30 Aug 2018 14:44 Wib


ARIS CAHYONO, MIRA TRISNA
MURTI, WISUDA PUTRA NEGARA,
PRASETYADI MAWARDI,
HARIJONO KARIOSENTONO
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
RSUD dr. Moewardi Surakarta
ABSTRAK
Pendahuluan: Bromhidrosis merupakan kombinasi dari hiperhidrosis dan osmidrosis. Hiperhidrosis adalah suatu kondisi produksi keringat berlebih yang berasal dari kelenjar ekrin, sedangkan osmidrosis ditandai secara khas dengan adanya bau mengganggu berasal dari kelenjar apokrin. Bromhidrosis dapat terjadi dipengaruhi infeksi bakteri, gangguan neurologis, penyakit endokrin, gangguan metabolik, hormonal, obat-obatan dan genetik. 
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan sindroma metabolik dan obesitas pada penderita bromhidrosis Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, dengan melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, tekanan darah, trigliserida dan gula darah puasa pada pasien bromhidrosis yang berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin selama periode April 2015. Analisis statistik masing-masing variabel dan kesatuan variabel yang mendukung sindroma metabolik dan obesitas dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Pasien bromhidrosis sebanyak 15 orang diikutsertakan dalam penelitian. Didapatkan hasil pasien dengan Body Mass Index (BMI) > 25 33,3%. lingkar pinggang ≥ 90/80 cm 53,3%, kadar trigliserida ≥ 150 mg/dl 13,3 %, tekanan darah ≥ 130/85 mmHg 40%, gula darah puasa ≥ 100 mg/dl 66,7%. Dari uji statistik lingkar pinggang, trigliserida dan tekanan darah secara signifikan berpengaruh terhadap sindroma metabolik (p ≤ 0.05), akan tetapi sindroma metabolik tidak berkorelasi dengan kejadian bromhidrosis (p > 0,05). Pasien dengan sindroma metabolik berpotensi 0,75 kali terkena bromhidrosis. Obesitas yang ditandai dengan BMI > 25 juga tidak memiliki korelasi dengan kejadian bromhidrosis 
Kesimpulan: Pasien bromhidrosis dengan peningkatan lingkar pinggang, trigliserida dan tekanan darah, beresiko mengalami sindroma metabolik. Pasien sindroma metabolik dan obesitas tidak beresiko mengalami bromhidrosis 

Kata Kunci: bromhidrosis, obesitas, sindroma metabolik 

Abstract
Introduction: Bromhidrosis is a combination of hyperhidrosis and osmidrosis. Hyperhidrosis is a condition of excessive sweating production derived from the ecrin glands, whereas osmidrosis is characterized typically by the presence of a disturbing odor derived from apocrine glands. Bromhidrosis can occur by bacterial infections, neurological disorders, endocrine diseases, metabolic, hormonal, medicinal and genetic disorders. 
Objectives: To determine the relationship of metabolic syndrome and obesity in patients with bromhidrosis 
Methods: This study was a cross-sectional study, by examining body weight, height, waist circumference, blood pressure, triglycerides and fasting blood sugar in bromhidrosis patients treated at the Skin and Gynec Polyclinics during the period of April 2015. Statistical analysis of each variables and unity of variables that support metabolic syndrome and obesity is done by using Chi-Square test.
Results: 15 bromhidrosis patients were enrolled in the study. Patient results obtained with Body Mass Index (BMI)> 25 33.3%. waist circumference ≥ 90/80 cm 53.3%, triglyceride levels ≥ 150 mg/dl 13.3%, blood pressure ≥ 130/85 mmHg 40%, fasting blood sugar ≥100 mg / dl 66.7%. From statistical test of waist circumference, triglyceride and blood pressure significantly influenced to metabolic syndrome (p ≤ 0.05), but metabolic syndrome did not correlate with incidence of bromhidrosis (p> 0,05). Patients with metabolic syndrome are potentially 0.75 times exposed to bromhidrosis. Obesity characterized by BMI> 25 also has no correlation with the incidence of bromhidrosis. 
Conclusion: Bromhidrosis patients with elevated waist circumference, triglycerides and blood pressure, are at risk for metabolic syndrome. Patients with metabolic syndrome and obesity are not at risk of developing bromhidrosis 

Keywords: bromhidrosis, obesity, metabolic syndrome

Pendahuluan
Sindroma metabolik (SM) merupakan kelainan kompleks berupa rangkaian faktor berkaitan yang meningkatkan resiko penyakit aterosklerotik kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2.1 Komponen utama SM berupa peningkatan trig liserida dan High-Density Lipoprotein, peningkatan tekanan darah, gula darah terganggu, peningkatan lingkar pinggang dan resistensi insulin.1,2,3 Reavan dkk pertama kali memberikan konsep dari SM yang awalnya disebut sebagai syndrome X. Setelah itu banyak organisasi internasional dan kelompok ahli seperti, World Health Organization (WHO), European Group for study of Insulin Resistance (EGIR), National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP:ATPIII), American Association of Clinical Endocrinology (AACE), International Diabetes Federation (IDF) dan American Heart Association/National Heart, Lung, and Blood Institute (AHA/NHLBI) telah berusaha mengumpulkan semua parameter yang berbeda untuk mendefinisikan SM.1,2 Meskipun telah banyak kemajuan tentang patofisiologi dan deliniasi dari faktor resiko SM, masih banyak aspek penting yang belum jelas. Selain obesitas dan resistensi insulin sebagai inti dari patofisiologi SM, ada beberapa faktor lain yang berperan diantaranya, stres kronik, disregulasi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA), sistem saraf otonom, penigkatan stres oksidatif seluler, aktivitas sistem renin-angiotensinaldosterone dan aksi glukokortikoid intrinsik jaringan, dan yang terbaru adalah penemuan molekul seperti micro RNAs yang bisa terlibat dalam patogenesis.1 Obesitas secara umum ditentukan berdasarkan Body Mass Index (BMI) yaitu merupakan berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Angka BMI lebih dari 25 dapat dikategorikan obesitas.4
 

Post Terkait

Diagnostik Reference Level (DRL) pada Pemeriksaan Radiologi Torax Pediatri di RSUP Dr. Saiful Anwar Malang

Tanggal Publikasi: 30 Aug 2018 14:36 | 179 View

Latar belakang: Pasien pediatri memiliki potensi resiko efek radiasi sinar-x yang lebih besar dibandingkan dengan pasien dewasa. UNSCEAR melaporkan ada 23 tipe kanker yang berbeda ditemukan pada pasien pediatri. Lebih…

Selengkapnya

Efek Toksik Ekstrak Ethanol Purwoceng (Pimpinella puratjan molk) Terhadap Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan yang Diinduksi Stres Model Paradoxycal Sleep Deprivation Sutrisno, Vitasari Indriani, Ika Murti Harini

Tanggal Publikasi: 24 Jul 2017 00:00 | 345 View

ABSTRAK Latar Belakang: Melakukan identifikasi tingkat toksisitas pemberian purwoceng terhadap ginjal hewan coba yang dinilai berdasarkan toksisitasnya terhadap ginjal. Tujuan: Mengetahui perbedaan gambaran histopatologi ginjal antara tikus putih (Rattus norvegicus)…

Selengkapnya


Jurnal Medika CME