Peremajaan Miss V dan Ginekologi Estetika

Tanggal : 02 Sep 2019 09:42 Wib



Dr. Pribakti B, SpOG(K)
Dosen FK Universitas Lambung Mangkurat dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin.


Harus diakui gencarnya perkembangan teknologi informasi dan komun ikasi turut menyumbang gambaran ideal tentang kecantikan. Tak terkecuali dengan penampilan organ intim wanita ini. Tren kecantikan terus berkembang seiring waktu . Tahun 90‐an tren kecantikan berpusat pada wajah. Lima tahun kemudian, berlanjut ke payudara. Lalu memasuki tahun 2000 an turun ke bokong. Sejak 2007, arahnya mulai ke miss V yang sekaligus paling banyak mendapat sorotan.
Sampai sejauh ini sebenarnya masih banyak orang yang bingung dengan pengertian “peremajaan” ini. Prosedurnya menjadi kontroversi karena bukan hanya dilakukan pada bagian internal miss V, namu n juga area eksternal meliputi labia mayora, labia minora dan klitoris. Celakanya, siapapun di negeri ini boleh melakukannya walau cuma kursus 3‐5 hari di negeri tetangga yang lebih mengarah ke bisnis tanpa indikasi medis. Padahal prosedur peremajaan miss V juga mengala mi inovasi yang terus dikembangkan. Tindakannya dapat invasif (operasi), semi invasif hingga non invasif yang nyaman dan dilaku kan dalam keadaan sadar.
Sudah semestinya tenaga kesehatan yang menangani juga khusus yakni ginekologi estetika . Ginekologi estetika adalah saalah satu cabang subspesialisasi uroginekologi dan termasuk spesialis pada bidang ginekologi, urologi dan bedah plastik. Hal ini berkaitan dengan tindakan kosmetik muntuk meingkatkan penampakan pada miss V, serta perbaikan fungsional miss V dalam upaya untuk memperbaiki reproduksi seksual yang dapat terjadi setelah melahirkan ataupun penuaan. Ada yang mengistilahkan “desainer miss V”. Sebuah istilah yang tidak salah‐salah amat, karena memang urusannya terkait masalah bentuk dan fungsi organ intim ini. Saat ini peremajaan miss V sudah mulai marak di Indonesia, walau masih ada sebagian masyarakat kita memang belum sepenuhnya menerima. Alasannya tabu karena seakan‐akan mengeksplotasi masalah seksual.
Mungkin tak banyak disadari, harus diakui seiring perjalanan waktu, organ intim wanita juga mengalami perubahan anatomi. Kehamilan dan proses melahirkan misalnya, banyak berpengaruh pada bentuknya. Selain itu, ada sebagian perempuan yang setelah melahirkan, mengalami perubahan sensasi ketika berhubungan intim. Sebagaimana diketahui masalah paling umum terutama setelah melahirkan dimana jaringan menjadi kendur, menciptakan rasa longgar serta berkurangnya kepekaan didaerah miss V. Kondisi ini bisa diikuti juga kesulitan mengontrol urine akibat berkurangnya kekuatan di uretra karena struktur pendukung panggul yang lemah.
Daerah sekitar miss V mungkin juga terasa renggang dan kering.
Terutama pada perempuan yang menopause. Lapisan dinding vagina menjadi kering, elastisitas berkurang dan meradang. Dengan peremajaan miss V akan tercipta jaringan yang sehat terutama perbaikan dilabia maupun miss V. Kelenturan dinding miss V juga ikut diperbaiki, meningkatkan sensasi saat bersetubuh, hingga memperbaiki kulit labia yang kendur dan kehilangan kekenyalannya. Sama persis seperti kulit pipi yang melorot, maka pipi kita yang dibawah bisa melorot juga.
Sebelum menjalani prosedur peremajaan, pasien harus berkonsultasi dengan dokter ahli untuk mendapatkan informasi serta menyatakan keluhannya. Konsultasi akan membantu dokter dalam menentukan solusi dan tindakan yang tepat. Biasanya pada tahap awal, beberapa pemeriksaan kesehatan juga perlu dipastikan. Sudah tentu tidak ada kontraindikasi. Misalnya, apakah ada diabetes mellitus yang bisa memperlambat proses penyembuhan. Tindakan dengan prosedur invasif sama seperti operasi pada umumnya. Penyembuhan akan memakan waktu sekitar 6‐8 minggu sebelum kembali berhubungan intim atau berolahraga. Jika diukur dari tingkat kesulitan , prosedur semi invasif dapat dilakukan dengan cepat dan tidak melukai permukaan kulit dan mukosa miss V. Bahkan pasienbisa tetap sadar selama tindakan berlangsung.
Salah satu contoh prosedur semi invasif ini adalah perbaikan penampilan miss V sehingga terlihat lebih kencang dan berisi (labio mayora augmentation). Prosedur ini dilakukan dengan menambah volume pada bagian bibir miss V maupun labia luar supaya lebih kenyal dan berisi. Kini telah ditemukan untuk tindakan ini dilakukan dengan menggunakan filler atau serum Platelet Rich Plasma (PRP) yang berasal dari darah pasien dimana darah akan melewati proses sentrifugasi, yaitu pemisahan bagian menggunakan mesin pemutar.
Prosedur semi invasif lain adalah injeksi G spot untuk mening katkan kemampuan orgasme. Prosedur ini dapat membantu perempuan yang tidak dapat menikmati hubungan seks akibat kehilang an titik sensitifnya. Caranya dengan menginjeksikan PRP pada area sensitif tersebut hanya berdurasi 20 menit, tindakan non invasif bisa dilakukan secara sadar dan nyaman. Pasien hanya akan merasakan kenaikan temperatur yang menimbulkan rasa hangat didaerah miss V maupun labia. Kenaikan ini dibutuhkan untuk memicu pengencangan pada bagian yang dituju.
Malahan setelah tindakan non invasif , pasien diizinkan pulang dan melakukan aktivitas sehari‐hari termasuk berhubungan intim. Hanya saja, prosedur ini sebaiknya tidak dilakukan pada masa premens trual syndrome karena saat itu tubuh sedang sensitif. Untuk tindakan non invasif pengerjaaannya mudah, cepat tanpa rasa nyeri dan tidak perlu anestesi. Perawatan dilakukan dengan radiofrequenc y yakni gel dan alat yang dialiri listrik pada bagian yang diinginkan. Prosedur hanya sekitar 10 menit dan hasil perubahan bisa bertahan antara 6‐24 bulan bergantung pola hidup.
Akhirnya peremajaan miss V memang bisa dilakukan perempuan dewasa dari berbagai tingkat usia. Namun tetap saja mestinya ada indikasi medis, dan jelas siapa yang boleh melakukan. Tentu harus punya kompetensi sebab sebelum tindakan peremajaan miss V pasien akan menjalani konseling agar betul‐betul yakin. Sesungguhnya tiap perempuan memiliki miss V yang unik dengan ukuran bentuk dan warna yang berbeda‐beda. Tidak ada miss V yang ideal. Yang ideal adalah menurut diri kita sendiri dan menurut suami. Ideal adalah ukuran masing‐masing orang. Dengan perkembangan zaman dan keinginan masing‐masing individu maka ginekologi estetika menjadi salah satu hal yang kontroversi dan menjadi perdebatan berbagai pihak. Namun dengan berbagai polemik yang ada kita harus dapat memilah agar ginekologi estetika masih berada di jalur yang tepat sesuai dengan tujuan awalnya.
 

Post Terkait

Keluarga Berencana dan Kualitas Penduduk

Tanggal Publikasi: 14 Aug 2019 13:31 | 46 View

Harus diakui kesuksesan Keluarga Berencana (KB) era Orde Baru adalah suatu prestasi. Mampukah pada Era Refor masi ini pemerintah mengerem laju pertambahan pendudu k? Saat ini laju pertumbuhan penduduk kita…

Selengkapnya

Gaya Hidup dan Ancaman Kanker

Tanggal Publikasi: 12 Jul 2019 15:01 | 82 View

Harus diakui untuk mengubah gaya hidup tak segampang menulisnya. Kalau dari kecil lidah anak terbiasa mengecap cita rasa gurihnya daging bakar atau steak, tak mudah membujuknya jadi suka menu nenek.

Selengkapnya

Defisit BPJS, Rumah Sakit, dan Farmasi

Tanggal Publikasi: 13 Jun 2019 10:25 | 214 View

Seperti diketahui permasalahan keuangan BPJS Kesehatan terjadi dari tahun ke tahun belum mampu menemukan solusi jitu. Setiap tahun selalu mengalami defisit dan semakin besar. Pada 2014 defisit sebesar Rp3,8 triliun.…

Selengkapnya

Saatnya Regulasi Layanan e-Kesehatan

Tanggal Publikasi: 08 May 2019 09:30 | 141 View

Tidak diragukan lagi, saat ini sektor kesehatan mulai memasuki era disrupsi. Pasien kini dapat berkonsultasi dengan dokter melalui berbagai aplikasi seluler. Layanan perawatan di rumah, pemeriksaan laboratorium maupun pemesanan obat,…

Selengkapnya

Evidence Based Medicine dan Kedokteran Modern

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:17 | 892 View

Pada beberapa dekade terakhir ini berkembang paradigma baru yang disebut Evidence Based Medicine (EBM), yang banyak dianut oleh para klinisi, ahli kesehatan masyarakat, perencana dan manajer kesehatan.

Selengkapnya