| Edisi No 07 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Tata Laksana Penanganan Varises Tungkai
Seminar yang membahas tata laksana penanganan varises tungkai dilaksanakan di Hotel Horison, Bandung, pada 13 Juni 2009. Topik yang menarik tersebut disajikan oleh pembicara tunggal Prof. Hendro Sudjono Yuwono, Dokter Spesialis Bedah Vena dari Departemen Bedah UNPAD/RS Hasan Sadikin. Tidak kurang dari 300 dokter dan calon dokter duduk terpukau mencermati dua sesi presentasi yang disampaikan dengan tenang dan simpati itu. Dokter bedah senior itu secara jernih menjelaskan berbagai aspek varises tungkai yang mencakup pengertian, tanda/gejala, klasifikasi, patofisiologi, faktor risiko, komplikasi, pencegahan, pengobatan, dan tindakan varises tungkai.
Varises vena adalah kondisi pembuluh darah vena yang melebar dan berkelok-kelok yang umumnya terlihat di bawah kulit di daerah tungkai, meskipun dapat pula ditemukan di tempat lain di seluruh tubuh. Tanda dan gejala dilatasi vena yang terlihat pada kulit,
sweiling/ edema ringan pada tungkai dan kaki, rasa terbakar, sakit, tungkai berat, gatal pada tungkai, perubahan warna, dan pigmentasi. Lipodermatosklerosis, khususnya vena di pergelangan kaki mempunyai katup satu arah yang terdapat pada tungkai, berfungsi mendorong darah menuju ke arah jantung melawan gravitasi. Varises vena terjadi ketika katup tidak bekerja secara baik karena melemah atau rusak. Kelemahan pada katup mungkin terjadi pada dinding vena yang berhubungan dengan berbagai faktor seperti umur, riwayat keluarga, hipertensi vena, kegemukan, atau kehamilan. Dinding vena yang lemah kehilangan elastisitas normal mengalami dilatasi yang menyebabkan pembuluh vena memanjang dan berkelok. Katup yang tidak kompeten membuat aliran darah tertahan, bahkan mundur.
Secara internasional, klasifikasi varises vena mencakup aspek etiologi, anatomi, dan patologi yang disingkat CEAP. Klasifikasi ini terdiri dari enam level, meliputi C0 = tak ada tanda kelainan penyakit vena; C1 = telangioektasis (diameter 1-2 mm ); C2 = varises vena (diameter >2 mm); C3 = edema tanpa kelainan kulit; C4 = perubahan kulit lipodermato sklerosis; C5 = ulkus sembuh; C6 = ulkus aktif. Tergolong penyakit vena kronis (Chronic Vein Desease) adalah varises tungkai pada rentang level C0-C3 dan tergolong insufisiensi vena kronik (chronic vein insufisiency) adalah level C4-C6.
Varises dapat ditimbulkan pula dari pola aktivitas sehari-hari seperti kebiasaan berdiri dan duduk lama. Sekitar 60% orang dengan varises vena mempunyai riwayat keluarga/ proses penuaan menyebabkan vena melemah dan tidak berfungsi baik. Wanita berisiko mengalami varises vena 2-3 kali lebih besar daripada pria. Perubahan hormon akibat pubertas, kehamilan, monepouse, atau menggunakan obat kontrasepsi meningkatkan risiko varises pada wanita. Pada kehamilan, pertumbuhan janin berpengaruh meningkatkan tekanan vena tungkai, tetapi varises mengalami perbaikan 3-12 bulan setelah melahirkan. Kelebihan berat badan dan obesitas dapat menambah tekanan pada vena dan mengakibatkan varises. Berdiri atau duduk terlalu lama, terutama dengan tungkai bersilang, menyebabkan vena bekerja lebih keras untuk memompa darah ke atas.
Yang paling menarik adalah pernyataan Prof. Hendro Sudjono tentang terapi varises, yaitu bahwa apapun dan di mana pun varises terjadi, tindakan bedah tidak dianjurkan, karena lebih banyak kerugiannya. Pernyataan yang terasa tidak lazim tersebut disampaikan oleh seorang dokter spesialis bedah vena, konsulen senior yang sepanjang pengabdiannya berada di samping meja operasi. Tak dapat dipungkiri, itu petanda ketulusan. Beliau menyarankan untuk mencegah varises vena kepada setiap individu dengan menghindari berdiri dan duduk lama. Jika mungkin, ambil istirahat yang sering selama periode berdiri lama. Upaya penting untuk mencegah varises meliputi menekuk kaki ketika duduk dan istirahat atau tidur dengan kaki di atas level jantung. Latihan menggerakkan tungkai dan memperbaiki tonus otot membantu sirkulasi darah di dalam vena. Mengurangi berat badan juga dapat membantu sirkulasi darah vena Anda.
Pengobatan utama yang dinyatakan efisien dan efektif adalah menggunakan stocking kompresi sepanjang hari dengan tekanan khusus sesuai dengan saran dokter. Untuk varises vena asimtomatis seperti pada kehamilan dan post–operasi, gunakan stocking kompresi dengan tekanan 16-20 mmHg. Varises vena simtomatis post-skleroterapi, gunakan stocking kompresi 21-30 mm Hg; post-trombotic syndrome gunakan stocking kompresi 31-40 mm Hg. Terakhir, pada phlebolimpoodem gunakan stocking kompresi dengan tekanan > 40 mm Hg. Upaya ini harus dilakukan terus menerus seumur hidup. Untuk varises di tempat lain dapat menggunakan obat yang tentu saja relatif mahal karena harus dibeli dan digunakan secara berkesinambungan. (NK)











