| Edisi No 07 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Curcumin sebagai Terapi Pendamping untuk Kanker

Kanker merupakan suatu penyakit sel yang ditandai dengan gagalnya fungsi kontrol sel dalam mengatur daur sel maupun fungsi homeostasis sel pada organisme multiseluler. Akibatnya, sel tidak dapat berproliferasi secara normal, tapi berproliferasi terus menerus dan menimbulkan pertumbuhan jaringan abnormal yang disebut kanker. Beberapa materi di sekitar kita dapat menjadi karsinogen, seperti bahan kimia, radiasi, pestisida, dan pengawet. Demikian dinyatakan Shanti Lesmana S.Farm., Apt., nara sumber dalam salah satu simposium pada acara “The 13rd Course Basic Science of Oncology “. Acara yang diselenggarakan di Bandung, 14-17 Mei 2009, ini mengangkat tema “To Improve Cancer Control Using Advanced Biotechnology”.
Selama ini, terapi untuk kanker dilakukan dengan operasi, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi serta terapi hormonal. Selain dengan terapi tersebut, untuk terapi kanker dibutuhkan terapi pendamping yang aman dan dapat menyembuhkan kanker.
Terapi pendamping ternyata dapat diperoleh melalui pengobatan komplemen (Complentary Medicine). Termasuk dalam pengobatan ini adalah bahan herbal. Sebagai terapi pendamping kanker, bahan herbal Curcuma longa (turmeric/kunyit) yang lazim digunakan sebagai bumbu masakan di Indonesia, ternyata sejak 2500 tahun lalu banyak digunakan sebagai obat untuk mengobati berbagai penyakit. Aktivitas curcuma sebagai antikarsinogenik didasarkan pada mekanisme inhibisi jalur proliferasi dan pertumbuhan sel kanker serta inhibisi aktivasi colonic mucosa cyclooxygenase (COX) dan Lipooxygenase (LOX).
Seperti diketahui bahwa aktivasi beberapa mediator inflamasi ternyata berperan dalam proses keganasan di tingkat sel. Aktivasi NF-kB (Nuclear Factor Kappa B) oleh beberapa karsinogen akan menimbulkan karsinogenesis. Peran NF-kB pada perkembangan kanker adalah melalui proses anti-apoptosis, proliferasi, promosi sel tumor, sampai terjadinya metastasis. Penelitian dari Texas MD Anderson Cancer Center yang dipublikasikan di Journal Cancer, 15 Agustus 2005, memperlihatkan bahwa curcuma memiliki kemampuan sebagai anti-kanker poten dengan menghambat jalur biologi melanoma melalui hambatan aktivasi NF-kB.
Beberapa penelitian memperlihatkan efektivitas curcuma pada kasus kanker. Penelitan in vitro oleh Shankar dkk., dari Department of Biochemistry , University of Texas, menyebutkan bahwa curcuma menyebabkan apoptosis sel kanker prostat. Penelitian mengenai kasus kanker payudara pada tikus betina membuktikan bahwa curcuma dapat menghambat insiden dan multiplikasi kanker payudara.
Selain efektivitas pada beberapa kasus kanker, sebagai terapi pendamping curcuma juga meningkatkan efektivitas terapi antikanker lain. Penelitian in vitro menunjukkan sensitivitas sel tumor serviks manusia meningkat terhadap radiasi ion. Selain itu, curcuma juga dapat meningkatkan efek Paclitaxel dengan cara menghambat kelangsungan hidup sel kanker dan menghambat metastasis sel kanker payudara ke paru.
Namun, efektivitas curcuma sebagai terapi antikanker bukanlah tanpa kendala, karena secara umum curcuma hanya mengandung 1,5–4% curcuminoid yang bioavailabilitasnya rendah. Lebih dari 75% curcuma diekskresikan melalui feses dan sebagian kecil urin, sehingga jumlah yang diabsorpsi sangat rendah. Akibatnya, efek terapi yang diharapkan tidak tercapai atau membutuhkan waktu yang lama. Inilah yang membuat curcuma disebut sebagai Ghost agent.
Untuk mengatasi kendala ini, PT Soho Industri Farmasi bekerja sama dengan Dolcas-Biotech LLC-USA berhasil membuat suatu ekstrak curcuminoid dengan bioavailabilitas 7 – 8 kali lebih tinggi, yaitu BioCurkem yang mengandung Bio-curcumin/BCM-95TM 900. Sediaan ini terdiri dari 100% ekstrak alami curcuma longa yang terstandarisasi dan telah dipatenkan. Selain itu, sediaan ini mengandung curcuminoid dan minyak atsiri sesquiterpene, di mana spektrum alami dan sinergisasi dari komponen dalam curcuma longa tetap dipertahankan. Bahan ini 100% bebas GMO (Genetically Modified Organism) dan bebas pestisida. Mekanisme kerjanya sama dengan tanaman curcuma lain, yaitu dengan menghambat transformasi, proliferasi, dan invasi sel kanker. Bio-curcumin diabsorpsi 90–95% secara oral dan distribusi ke organ. Sebagai terapi pendamping kanker, curcumin oral relatif aman. Beberapa penelitan menunjukkan bahwa dosis toksisitas tidak teramati dan pada dosis 8000 mg/hari selama 3 bulan tidak memberikan efek toksik.
Penelitian terhadap efektivitas biocurcumin sebagai terapi pendamping kanker terus dilakukan. Saat ini sedang berjalan penelitan mengenai efektivitas kemopreventif dan keamanan biocurcumin pada Oral Premalignant Lesions (OPL)/ servical cancer. Penelitian ini berbasis multisenter, fase II, acak , dan tersamar ganda dengan kontrol plasebo. Sebagai subjek adalah 102 pasien dengan Oral Premalignant Lesions (OPL)/ servical cancer dengan dosis 3600 mg/hari, terbagi dalam 2 dosis selama 6 bulan. (Tiara)











