| Edisi No 07 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Terapi Syok Septik yang Adekuat untuk Mencegah Acute Kidney Injury

Kondisi gagal ginjal memberikan kontribusi yang tidak baik pada keadaan sepsis. “Kondisi gagal ginjal berbeda dengan organ lain,“ demikian ditegaskan oleh Dider Payen, MD., PhD., dari Hôspital lariboisière Ap-HParis Université Paris, saat menjadi pembicara tamu dalam simposium bertajuk “Acute Kidney Injury (AKI) in Septic”. Simposium ini merupakan bagian dari acara peringatan 10 tahun Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI). Acara ini diselenggarakan dalam bentuk simposium ilmiah dengan tema ”ICU: Where Are We Now?” yang diselenggarakan pada 6 – 7 Juni 2009, di Jakarta. Selain Payen, simposium ini juga menghadirkan Prof. DR. Dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, dari divisi ginjal dan hipertensi, Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Kondisi gagal ginjal tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa tahap yang harus dilalui hingga organ ginjal dinyatakan gagal. Selama ini, untuk menilai gagal ginjal selalu diperhatikan nilai bersihan kreatinin (Creatinine clearance/ CrCl) dan produksi urin (Urine Output /UOP). Untuk menilai kondisi gagal ginjal akut dapat digunakan kriteria RIFLE (Risk, Injury , Failure). Organ ginjal dinyatakan mengalami jejas ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) bila terjadi peningkatan CrCl hingga 2 kali lipat dan produksi urin kurang dari 5 ml/kgBB/jam yang terjadi selama 12 hari. Identifikasi dini kondisi ginjal sangat penting untuk menentukan langkah–langkah pencegahan kerusakan ginjal lanjut.
“Pada pasien yang dirawat akibat sepsis di unit perawatan intensif, AKI merupakan penyebab mortalitas hingga 53%,“ jelas Prof. Endang. Patogenesis AKI akibat sepsis disebabkan oleh kondisi demam yang akan menghasilkan hiperendotoksin hingga terjadi iskemia dan hipoperfusi ginjal. Bila sepsis mengakibatkan syok maka akan mempermudah terjadinya AKI yang disebabkan oleh keadaan hipovolemia, hipermetabolisme, depresi miokardium, dan vasoparesis. Resistensi pembuluh darah sistemik tidak dapat meningkat walaupun tekanan arteri rata –rata (Mean Arterial Pressure /MAP) menurun.
Terapi sepsis yang berat mencakup upaya pencegahan infeksi nosokomial, terapi antibiotik yang efektif, tata laksana hemodinamik, dan strategi ventilator mekanik. Selain itu, untuk mencegah AKI, upaya tata laksana hemodinamik juga dilakukan melalui pendekatan farmakologik untuk optimalisasi perfusi renal. Pendekatan farmakologik ini ditujukan untuk memperbaiki cardiac output (CO) dengan menggunakan cairan yang bersifat inotropik sehingga dapat tercapai CO yang adekuat. Kemudian, dengan memperbaiki tekanan arteri rata-rata hingga mencapai 60 – 80 mmHg. Untuk resistensi pembuluh darah ginjal digunakan vasodilator.
Sementara itu, untuk memperbaiki perfusi renal dapat digunakan vasopresor untuk meningkatkan MAP hingga 60–80 mmHg . Vasopresor yang sering digunakan adalah norepinephrine dan dopamine. Norepinephrine meningkatkan nilai MAP dan indeks resistensi pembuluh darah sistemik. Efek norepinephrine pada kasus syok septik adalah meningkatkan produksi urin (UOP) hingga 23 ml/jam sampai 66 ml/jam dan meningkatkan nilai CrCl hingga 29 ml/min - 71 ml/ min setelah 24 jam pemberian norepinephrine. Tata laksana hemodinamik dalam kasus syok septik dapat mencegah kolaps kardiovaskular dan disfungsi beberapa organ, termasuk AKI.
Peringatan 10 tahun PERDICI ini juga didukung oleh PT Pharmasolindo dengan produk Levosol ampul yang mengandung norepinephrine 8 mg. Sediaan vasopresor ini diindikasikan sebagai terapi suportif pada kasus syok septik. (Tiara)











