| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Fokus |
Peranan Suplementasi Koenzim Q10, Vitamin C, E, dan Ekstrak Jahe pada Penyakit Degeneratif hingga Infertilitas
D. MARTINA
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Seiring bertambahnya usia, produksi enzim di dalam tubuh menurun. Sedangkan jumlah kebutuhan untuk membantu proses biosintesis cenderung mengalami peningkatan. Salah satu enzim yang sangat esensial bagi tubuh adalah koenzim Q10 atau ubikuinon, yaitu komponen yang terdapat pada membran dalam (inner membrane) mitokondria. Sebagai satusatunya organel yang berperan dalam memproduksi energi berupa adenosin trifosfat (ATP), mitokondria menentukan kelangsungan fungsi setiap sel di dalam tubuh. Di dalam mitokondria, koenzim Q10 berperan pada jalur fosforilasi oksidatif yang sangat penting dalam pembentukan ATP. Bagian tubuh yang terbanyak mengandung enzim ini adalah jantung, disusul dengan ginjal dan hepar.
Selain berperan dalam menghasilkan ATP, koenzim Q10 juga memiliki aktivitas antioksidan kuat yang bekerja dengan cara mengikat radikal bebas, yaitu komponen yang merusak DNA, membran sel, dan menyebabkan kematian sel. Radikal bebas yang terdapat secara alami di dalam tubuh dan lingkungan luar (sinar ultraviolet, radiasi, asap rokok, dan polusi udara) tersebut dipercaya bertanggung jawab terhadap terjadinya penuaan dini dan berbagai penyakit seperti kelainan degeneratif, kelainan jantung, keganasan, hingga infertilitas.
Kadar koenzim Q10 yang normal di dalam darah dan jaringan telah dipelajari oleh berbagai studi di dunia. Diketahui bahwa kadarnya yang rendah berkaitan dengan meningkatnya kejadian berbagai penyakit, baik pada uji hewan maupun manusia. Penurunan kadar koenzim Q10 di antaranya dapat mengakibatkan penuaan dini akibat peningkatan radikal bebas yang merusak sel dan DNA serta menimbulkan berbagai kelainan degeneratif dan kardiovaskular. Defisiensi koenzim Q10 tersebut dapat disebabkan oleh asupan yang kurang, gangguan biosintesis koenzim Q10, penggunaan koenzim Q10 yang berlebihan (aktivitas berat, kondisi hipermetabolisme, dan syok akut), atau kombinasi ketiganya. Di samping itu, konsumsi inhibitor HMG-CoA reduktase sebagai penurun kolesterol darah, selain memblokir produksi kolesterol juga menghambat biosintesis koenzim Q10. Dengan demikian, pada beberapa kasus dengan gagal jantung, kondisi ini dapat berbahaya sehingga mengharuskan suplementasi koenzim Q10 oral.
Masih banyak manfaat berbagai vitamin seperti vitamin C, E, serta tanaman rempah seperti jahe yang telah ditelaah secara luas selama ini. Namun demikian, belum banyak yang mengetahui bahwa konsumsi suplemen ini bersamaan dengan beberapa zat tertentu lainnya dapat memiliki efek sinergisme. Di antaranya adalah konsumsi vitamin-vitamin tersebut bersamaan dengan ubikuinon. Berbagai peran koenzim Q10 terhadap pencegahan dan terapi penyakit telah terbukti ditingkatkan oleh kombinasinya bersama beberapa antioksidan lainnya seperti vitamin E, C, dan ekstrak jahe. Berikut akan dibahas mengenai manfaat suplementasi koenzim Q10 bagi tubuh.







