PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Lomba Foto

Diadakan sampai 28 Februari 2016

Edisi Januari 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya
camera slider joomla

Infeksi nosokomial dapat berasal dari dalam tubuh mau­pun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganis­me yang semula memang sudah ada di dalam tubuh dan ber­pinda­h ke tempat baru yang disebut self infection atau auto infection. Sementara, infeksi eksoge­n (cross infection) disebabkan mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lain.

Infeksi nosokomial terjadi di seluruh dunia, termasuk di negara berkembang. Survei WHO terhadap 55 rumah sakit di 14 negara yang dibagi menjadi 4 wilayah, yakni Eropa, Medi­terania Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat, menunjukkan bahwa di sekitar 8,7% rumah sakit, pasien mengalami infeksi nosokomial. Survei lain meng­ungkapkan sekitar 1,4 juta pa­sien di seluruh dunia mengalami infeksi nosokomial. Frekuensi paling tinggi terjadi di rumah sakit di Mediterania Timur, sebesa­r 11,8 %, diikuti Asia Tenggara 10%, Pasifik Barat 9%, dan Eropa 7,7%. Diper­kira­kan pada 2002 terdapat 1,7 juta penderita pneumonia nosokomial atau setiap 4,5 per 100 kasus rawat inap, dengan 99.000 kasus kematian disebabkan atau dihubungkan dengan infeksi nosokomial sebagai penyebab kematian nomor enam di Amerika. Biaya kesehatan di Amerika Serikat yang dikeluar­kan adalah 5-10 miliar dolar pertah­un.

Di Indonesia, pneumonia nosokomial berada di urutan kedu­a infeksi nosokomial setelah infeksi saluran kemih, de­nga­n angka kematian berkisar 20-50% dan terus meningkat bila lama rawat di rumah sakit ³ 5 hari (PDPI, 2003). Insidensi­nya juga cukup tinggi, antara 5-15 kasus per 1.000 pasien, ditambah jumlah yang meningkat 6-20 kali pada pasien ICU dan menggunakan ventilator.

Pneumonia nosokomial dibagi menjadi health-care associated pneumonia (HCAP) dan hospital-acquired pneumonia (HAP). Infeksi pada HCAP terjadi ketika ditemukan kultur positif bakteri pernapasan selama 2 hari setelah perawatan di pe­layanan kesehatan, hemodialisis jangka panjang, atau perawatan di rumah sakit 30 hari sebelumnya, tanpa penggunaan ventilator. Sedangkan HAP dibagi menjadi dua subtipe, yaitu Ventilator-associated pneumonia (VAP) dan Non-ventilator assoc­iated pneumonia (NVHAP). VAP terjadi ketika intubasi endotra­keal dihubungkan de­nga­n ventilator mekanik untuk membantu proses pernapasan pasien, dan ditemukan positif bakteri lebih dari 48-72 jam setelah pemasangan ventilator. Sedangkan NVHAP terjadi pada instalasi rawat inap tanpa penggu­naan ventilator, ataupun ditemu­kan positif bakteri pada pasien dengan ventilator selama kurang dari 48 jam setelah pemasan­gan.

Berdasarkan penelitian, HAP dapat ditangani dengan antibotik spektrum luas. Pengguna­an antibiotik merupakan dasar terapi, namun penggunaannya bervariasi tergantung umur, tipe pneumonia, adanya penyakit pe­nyerta, dan beratnya penya­kit. Salah satu antibiotik yang ba­nyak digunakan untuk meng­atasi pneumonia adalah sefalos­porin generasi ketiga, khususnya Seftazidim. Produk ini dihadir­kan oleh PT Dexa Medica pada pameran stan Kongres Nasional IV Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI) – Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) XI 2014 yang digelar di Trans Luxury Hotel, Bandung, 15-17 Mei 2014.

Banyak penelitian yang mengungkapkan keunggulan Seftazidim. Menurut Widya­ningnis, R (2012), seftazidim lebih efektif mengatasi infeksi disebabkan Pseudomonas aeru­ginosa dibandingkan cifrofloxacin dan cefriaxone. Yohannes et al (2009) dan Jae Hoon Song (2008) merekomendasikan seftazi­dim untuk terapi late-onse­t HAP di negara-negara Asia. Sedangkan Norrby (1998) menyebutkan bahwa efikasi sefta­zidim tidak berbeda ber­makna dibanding­kan sefalosporin generasi ke-4.

Pada acara yang sama, per­usahaan farmasi yang memiliki Dexa Laboratories of Biomo­lecular Sciences (DLBS) ini juga menghadirkan rangkaian produk antibiotik lengkap untuk berbagai kebutuhan, baik oral, injeksi, maupun kombinasi kedua­nya. Untuk antibiotik oral dan injeksi, tersedia Volequin® (levofloxacin tablet 500 mg, infu­s 500 mg/100 ml) dan Celocid® (cefuroxime). Produk antibiotik injeksi dihadirkan melalui Zitadim® (ceftazidim); Cefratam® (cefoperazone/ sulbact­am); Tripenem®  (meropenem 0.5 & 1 g); Tizos® (ceftizoxime 1 g); Amiosin®  (amikacin 0.5 g); Tricefin® (cefria­xone 1 g); dan Dynacef®  (cephradine 1 g). Sementara, untuk antibiotik oral tersedia dalam Azomax® (azithromycin 500 mg, dry syrop 200 mg/ 5 ml); Starcef® (cefixime 100 mg, 200 mg, dry syrop); Dexaflox®  (pefloxacin 400 mg); dan Dexyclav® (amoxicillin, clavulanate potassium). (Dian A.)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Login Form

Who's Online

Kami memiliki 36 tamu dan tidak ada anggota online