steroids
Banner
Translate
Edisi No 03 Vol XXXVIII - 2012 - Kegiatan

Kondisi Lembab Mempercepat Penyembuhan Luka

 

 Tindakan yang paling penting dalam penyembuhan luka adalah menciptakan kondisi luka tetap lembab. Jika kondisi luka kering maka harus dibuat sedemikian rupa sehingga luka tersebut menjadi lembab. Sebaliknya, jika luka basah maka digunakan berbagai modalitas agar menjaga kondisi luka tetap lembab.

1203KEG1-gambar1

dr. Ali Sundoro, SpBP salah satu pembicara, saat menjelaskan tentang penatalaksanaan luka bakar pada acara Indonesian Burn and Wound Care Meeting di Bandung, 2 Februari 2012.

 

Untuk menciptakan kondisi lembab dapat digunakan berbagai cara, seperti penggunaan dressing yang menciptakan kondisi lembab. Tindakan ini penting dilakukan mengingat kondisi lembab akan mempercepat penyembuhan luka. Demikian dikatakan dr. Irra Rubianti Widarda, SpB, SpBP, saat memandu peserta dalam melakukan pengkajian kasus dalam Indonesia Workshop Burn and Wound Care Meeting di Hotel Aston Primera - Bandung, 2 Februari 2012.

 

Pada awal acara, dalam presentasinya dr. Irra menjelaskan pembagian luka berdasarkan klasifikasinya. Menurut klasifikasi tersebut, luka dapat dibedakan berdasarkan integritas kulit, berat-ringannya luka, penyebab luka, kebersihan luka, dan kualitas deskriptif luka. Klasifikasi integritas kulit luka dibedakan menjadi luka terbuka dan luka tertutup. Luka terbuka biasanya karena insisi bedah, sedangkan luka tertutup lebih disebabkan oleh benturan benda tumpul, keseleo, atau sobeknya organ viseral. Jika dilihat dari penyebabnya, luka dibagi menjadi luka disengaja seperti luka bedah dan luka tak disengaja seperti trauma dan luka tembak.

Untuk mempermudah perawatan luka biasanya digunakan algoritma proses penyembuhan luka berdasarkan warna “Coloric Algoritm”. Hitam untuk luka nekrotik, hijau untuk luka infeksi, kuning untuk luka bernanah, merah untuk luka granulasi, dan merah muda untuk luka epitelisasi.

Dr. Irra juga menekankan pentingnya memperhatikan beberapa kondisi yang mempengaruhi penyembuhan luka. “Jaga luka tetap bersih dan bebas keropeng,” katanya. Kondisi lain yang harus diperhatikan di antaranya menggunakan bidai untuk melindungi kulit yang luka. Selain itu, hal yang harus dilakukan adalah menjaga agar kondisi luka tetap lembab. Untuk mencapai tujuan tersebut, dressing merupakan salah satu cara yang paling efektif. Dressing memiliki beberapa jenis seperti verban, kasa, hidrokoloid, hidrogel, film transparan, foam, dan alginate.

Pada acara yang merupakan bagian dari Indonesian Burn and Wound Care Meeting ini juga hadir dr. Ali Sundoro, SpBP, sebagai pembicara. Beliau menjelaskan tentang penatalaksanaan luka bakar. Menurut klasifikasinya, luka bakar terbagi dalam Grade I burn, Grade II Superficial, Grade II Deep, dan Grade III Full Thickness. Untuk penatalaksanaan luka bakar, beliau menyarankan penggunaan dressing. Di sini dressing berfungsi untuk melindungi kulit yang rusak, mengisolasi luka, memungkinkan mobilisasi sejak dini, oklusif, dan menimbulkan rasa nyaman.

Sebagai ilustrasi, dr. Ali menggambarkan penatalaksanaan luka Superficial Burn. Pada luka jenis ini, yang harus dilakukan adalah mengaplikasikan agen antimikrobial topikal, misalnya Cutimed Sorbact. Kemudian, pada luka diaplikasikan dressing tertutup dan dressing diganti setiap 12-24 jam. “Saat mengganti dressing, luka harus dibersihkan dahulu dan jangan lupa memperhatikan nyeri agar pasien merasa nyaman,” sarannya.   

Pada bagian akhir peserta melakukan dry workshop untuk aplikasi ke berbagai jenis phantom luka, PT BSN medical Indonesia yang menjadi sponsor tunggal acara workshop ini mempresentasikan produk-produk dressing yang dipasarkannya. Salah satu  rangkaian produk dressing yang mereka miliki terdiri dari Cuticell Epigraft. Dressing ini terbuat dari bahan film sellulosa yang berfungsi sebagai pengganti sementara untuk jaringan epitel yang hilang. Dengan demikian, dressing ini dapat melindungi luka dan mendukung proses penyembuhan dalam waktu relatif singkat tanpa adanya faktor gangguan eksternal. Selain itu, perusahaan yang berbasis di Jerman ini juga memiliki produk rangkaian produk Cutimed yang dikenal dengan istilah Cutimed Advanced Wound care yang terdiri dari Cutimed Gel untuk luka nekrotik, Cutimed Sorbact, dan Cutimed Sorbact Gel yang digunakan untuk luka infeksi, Cutimed Siltec untuk luka granulasi dan luka epitelisasi, serta Cutimed Cavity untuk luka granulasi yang berongga. Untuk produk dressing sekunder, BSN mengunggulkan Elastomull haft, yakni perban elastis kohesif untuk fiksasi luka pada bagian tubuh yang memiliki mobilitas tinggi seperti siku dan lutut.

Para peserta mengikuti rangkaian acara workshop dengan sangat antusias. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang bertanya pada sesi tanya jawab. Salah satu peserta dari Yogyakarta menanyakan penanganan hipergranulasi pada luka. Peserta lain dari Sampang, Madura, menanyakan perawatan luka bakar grade 2A. Secara umum, peserta mendapat banyak manfaat dengan mengikuti workshop ini. ”Saya mendapat banyak pengetahuan tentang perawatan luka dari workshop ini dan pengetahuan ini akan saya bagikan kepada teman-teman saya di Sampang,” kata salah satu peserta kepada Medika di sela-sela sesi dry workshop.  (hidayati)

 

 

 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm