Banner
Translate
Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Kegiatan

Batuk Kronik: Gangguan yang Menjengkelkan

 

Anak-anak mengalami beberapa episode infeksi virus saluran pernapasan setiap tahun. Infeksi virus saluran pernapasan ini meliputi rhinovirus, influenza, parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV), entero­virus, dan sejumlah strain adenovirus. Umumnya gangguan ini akan sembuh sendiri, namun pada beberapa kasus infek­si virus pernapasan bukan penyakit ringan yang sembuh sendiri. Demikian dikatakan dr. Nastiti Kanwandani, SpA diha­da­pan peserta Simposium Res­pi­ratory Care Indonesia (RESPINA), di Jakarta, 3 Desember 2011.

Salah satu gejala infeksi virus saluran pernapasan adalah batuk. “Batuk yang menyertai in­feksi virus pernapasan ber­langsung selama 3-8 minggu,” kata dr. Nastiti. Salah seorang pakar di Afrika Selatan, Maras, melakukan penelitian pada anak-anak berusia di bawah 13 tahun dengan batuk lebih dari 2 minggu dan tidak responsif de­nga­n pemberian terapi anti­bio­tik lini pertama (amoksisilin oral selama 5 hari). Penelitian tersebut menemukan bahwa batuk merupakan diagnosis yang pa­lin­g lazim pada seluruh kelom­pk usia, terutama pada anak-anak beruisa di bawah 2 tahun (45/ 54, 83,3%). dr. Nastiti juga me­ngutip salah satu penelitian tentang etiologi batuk. Penelitian Chow, 2004, me­nyatakan bahwa pada ke­lompok usia awal masa kanak-kanak, etiologi batuk di antara­nya adalah hiper responsivitas saluran napas pasc­a-infek­si virus ‘Airway hyper-respon­s­iveness’ (AHR).

AHR merupakan manifestasi klinis utama dari asma. Gejala ini merupakan respons jalan napas terhadap rangsangan seperti pad­a olah raga atau penghambatan sejumlah agen yang me­refleksikan beratnya asma dan perubahan terapi. Peningkatan AHR biasanya dimulai setelah infe­ksi virus rhinovirus,baik pada penderita asma maupun bukan. Meski demikian, adakalanya infek­si virus pernapasan juga meningkatkan AHR pada anak-anak sehat. Mekanisme yang terjadi pada anak sehat bisa karena peningkatan vagus yang dimediasi bronkokonstriksi, stimulasi sensorik serat C, kerusakan epitel, peningkatan reaksi fase akhir, dan produksi IgE spesifik virus. “Batuk yang disebabkan AHR umumnya akan sembuh sendiri. Kalau diperlu­kan, steroid jangka pendek dapa­t diberikan,” kata dokter yang bertugas di RSCM ini. 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner