| Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Fokus |
Peran Sitikolin untuk Tata Laksana Stroke Iskemik Akut
HAYATUN NUFUS
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Stroke adalah salah satu penyakit yang menyebabkan kecacatan dan kematian dengan trend semakin meningkat. Pada tata laksana stroke iskemik akut, selain trombolisis dan intervensi vaskular, pemberian neuroprotektor seperti sitikolin mampu menghambat meluasnya kerusakan di otak dan mempercepat penyembuhan. Guideline stroke Perdossi 2011 menyarankan dosis tinggi sitikolin 2000 mg/hari IV dan diteruskan 2000 mg/hari dalam 3-4 minggu.
Perubahan pola hidup akibat modernisasi dan globalisasi cenderung meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskular seperti jantung koroner, stroke, dan penyakit arteri perifer. Stroke merupakan urutan ketiga terbesar penyebab kematian di Amerika Serikat. Selain akibat perubahan pola hidup, peningkatan angka harapan hidup yang menyebabkan bartambahnya jumlah penduduk usia lanjut juga memberikan kontribusi terhadap besarnya kejadian stroke. Dari sekitar 700 000 kasus stroke yang terjadi tiap tahun, 550 000 di antaranya merupakan kejadian stroke serangan pertama, dan 400 000 di antaranya stroke jenis iskemik. Di Amerika Serikat, stroke adalah penyebab utama kecacatan pada orang dewasa yang saat ini jumlahnya lebih dari 4 juta jiwa.Data di Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus stroke, baik dalam hal kematian, kejadian, maupun kecacatan. Angka kematian akibat stroke berdasarkan usia yaitu 26,8% pada 55-64 tahun, 23,5% pada usia > 65 tahun, dan 15,9%pada usia 45-55 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa stroke saat ini tidak hanya menyerang populasi usia lanjut, tapi juga usia produktif. Hal tersebut berpotensi menimbulkan masalah baru dalam pembangunan kesehatan secara nasional di kemudian hari.







