| Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Artikel Penyegar |
Gastroesophageal Reflux Disease pada Anak
VICTORIA INDAH MAYASARI
Puskesmas Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Pendahuluan
Gastroesophageal reflux (GER) merupakan proses fisiologis yang terjadi dengan tingkat keparahan dan durasi yang berbeda pada tiap individu.1 Pada GER, isi lambung mengalir kemballi ke esofagus. Sebagian besar episode GER tersebut tidak menimbulkan gejala atau keluhan. GER bisa terjadi beberapa kali dalam sehari pada bayi sehat, anak-anak, dan dewasa.2 Sedangkan yang dimaksud dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah gejala atau komplikasi yang diakibatkan GER. Hingga kini, GERD masih merupakan masalah yang banyak ditemukan pada bayi dan anak oleh dokter umum maupun dokter spesialis.3,4Prevalensi GER pada anak bervariasi menurut umur. Adanya regurgitasi setiap hari terjadi pada 50% bayi di bawah 3 bulan, >66% pada bayi 4 bulan, dan 5% pada usia 1 tahun.5 Regurgitasi tersebut menghilang 55% pada usia 10 bulan, 60%–80% pada usia 18 bulan, dan 98% pada usia 2 tahun.6 Berbagai sumber menyatakan bahwa prevalensi GERD pada anak sulit diketahui secara pasti. Angka kejadiannya tergantung pada usia dan diperkirakan bervariasi antara 5–35%.7
Patofisiologi
Banyak teori tentang mekanisme GER, namun belum sepenuhnya diketahui. Mekanisme primer GER terjadi selama episode transien relaksasi dari lower spingter esophagus atau kurang adekuatnya adaptasi dari spingter terhadap perubahan tekanan abdominal.3,8 Patofisiologi GER kompleks karena banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan (makanan, rokok), anatomi, hormonal, dan neurogenik. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang fisiologi upper dan lower spingter esofagus dan motilitas gaster. Termasuk juga tentang transien relaksasi dari lower spingter esophagus.1 Selain itu, terdapat hubungan antara infeksi Helicobacter pylori dengan GERD pada anak, yaitu angka kejadian GERD pada anak meningkat dengan adanya infeksi Helicobacter pylori.9







