steroids
Banner
Translate
Edisi No 11 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Memproteksi Anak dari Diare Dengan Zinc

 

Pada awal Oktober ini, sebuah forum ilmiah yang melibat­kan ratusan dokter spesialis anak seluruh Indonesia dihelat di Bandung. Simposium dan workshop Pendidikan Ilmu Kesehatan Anak Berkelanjutan (PIKAB) IX kali ini mengangkat tema “Demam, Ruam, dan Artritis: Ditinjau dari Bidang Kardiologi, Alergi-Imunologi, dan Penyakit Infeksi Anak”.

Diselenggarakan di Hotel Grand Royal Panghegar, Bandung, pada 1-2 Oktober, seminar ini diikuti dengan antusias, baik dari kalangan peserta maupun pembicara.

Demikian juga dalam pame­ran stand farmasi yang diikuti oleh PT Interbat dengan berbagai produk andalannya, di antaranya Interzinc®. Produk ini berisi zinc sulfat yang setara dengan 20 mg zinc elemental dalam bentuk tablet dispersi dan sirup. Zinc merupakan elemen penting yang turut berperan dalam menunjang imunitas anak. Mikronutrien ini turut hilan­g ketika anak mengalami diare, sehingga diperlukan penggantian untuk memulihkan daya tahan anak. Defisiensi zinc juga akan meningkatkan risiko anak terkena infeksi.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare masih menjadi penyebab utama kematian anak di dunia. Hal ini terbukti dengan terjadinya sekitar dua juta kematian anak per tahun yang disebabkan oleh diar­e, terutama di negara ber­kembang. Kondisi ini juga turut disebabkan oleh tingginya angka malnutrisi di daerah tersebut.

Diare sendiri menjadi penyebab kematian anak akibat dehid­rasi yang ditimbulkannya. Oleh sebab itu, pemberian cairan atau rehidrasi menjadi tata laksana utama diare.

Walaupun rehidrasi dapat menyelamatkan nyawa anak, tindakan ini tidak berefek pada lama sakit anak.

Suplementasi zinc kini direko­mendasikan oleh WHO untuk diikutsertakan dalam tata laksana utama diare sebagai pendamping pemberian cairan rehidrasi karena dapat mem­bant­u mengurangi lama sakit, tingkat keparahan diare, serta mencegah terjadinya diare ulanga­n hingga 2-3 bulan ke depa­n. Apalagi, dari data yang ada, diketahui bahwa anak-anak di negara berkembang serin­g mengalami defisiensi zinc. Efek fisiologis zinc terhadap transpor ion di usus memang belum dimengerti sepenuhnya. Studi-studi yang ada melapor­kan bahwa zinc dapat menghambat kanal kalium basolateral pada studi in vitro terhadap ileum mencit. Aksi zinc tersebut pada akhirnya dapat meng­hamba­t sekresi cairan tergantung klorida yang diinduksi oleh cAMP.

Zinc juga meningkatkan absorp­si air dan elektrolit, rege­n­erasi epitel usus, kadar enzi­m saluran cerna, bersihan pa­togen pada usus, serta me­ning­katkan respons imun saluran cerna.

Sebuah tinjauan sistematik dilakukan oleh Marzia dan rekan (Sao Paulo Medical Journal, 2011) untuk mengevaluasi suplem­etasi zinc yang diberikan per oral dalam terapi diare akut dan persisten pada anak. Studi ini dilakukan dengan mengkritisi 18 artikel jurnal yang terdaftar di Cochrane, Medline, Embase, Lilacs, CINAHL, dan literatur lainny­a. Seluruh artikel tersebut berisi tentang uji klinis terkontrol acak yang membandingkan suple­mentasi zinc oral (> 5 mg per hari) dengan plasebo pada anak berusia satu bulan hingga lima tahun yang tengah men­derita diare akut atau persisten, termasuk disentri. Lama sakit dan tingkat keparahan diare menjadi parameter keluaran yang utama pada seluruh penelitian dalam tinjauan sistematik ini. Hasilnya, pada total 6165 partisipan yang terlibat dalam studi-studi ini, zinc ter­buk­ti membantu memper­pen­de­k durasi diare, tidak hanya pad­a diare akut, tetapi juga pada diare persisten. Untuk diare akut, nilai tengah 12,27 jam; nilai maksimal 23,02 jam; dan nilai minimal 1,52 jam. Sedangkan untuk diar­e persisten, nilai tenga­h 15,84 jam; nilai maksimal 25,43 jam; dan nilai minimal 6,24 jam.

Dalam studi ini tidak dilapor­kan adanya efek samping zinc yang serius. Dengan menganalisis usia, tempat tinggal, dan fakto­r demografis lainnya, disim­pulkan bahwa pada area di mana diare menjadi penyebab utama mortalitas anak, zinc terbukti bermanfaat pada anak berusia di atas enam bulan.

Selain sebagai tata laksana, suplementasi zinc juga dapat diberikan pada anak sehat sebag­ai tindakan preventif terhadap mortalitas akibat berbagai penyakit infeksi, terutama diar­e dan pneumonia. Sebuah tinjauan sistematik dilakukan oleh Yakoob dan rekan (BMC Public Health, 2011) dengan mengkritisi sejumlah artikel dari Pubmed, Cochrane, dan basis data regional WHO untuk mengkritisi efek preventif zinc terhadap mortalitas anak.

Artikel yang dianalisis berisi tentang uji klinis terkontrol acak suplementasi zinc selama lebih dari tiga bulan pada balita di negara berkembang. Dari delapan studi yang diteliti, seluruhnya memperlihatkan efek suplementasi zinc terhadap mortalitas anak, yaitu menurunkan 13% risiko mortalitas akibat diare dan 15% risiko mortalitas akibat pneumonia.

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Bajait dan rekan (Indian Journal of Pharma­co­logy, 2011) merekomendasikan pemberian zinc bersama dengan larutan rehidrasi oral untuk me­nurunkan durasi dan keparahan episode diare hingga tiga bulan. WHO dan UNICEF merekomendasikan suplementasi harian zinc sebesar 20 mg untuk bayi berusia di atas enam bulan dan 10 mg per hari untuk bayi berusi­a di bawah enam bulan selama 10-14 hari. Selain dapat menurunkan derajat keparahan episode diare, suplementasi zinc juga mampu mencegah kejadian diare dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan. Dengan demikian, suplementasi zinc juga berperan dalam menurunkan tingkat morbiditas diare pada anak. (Olga)

 

 

 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm