PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Lomba Foto

Diadakan sampai 28 Februari 2016

Edisi Januari 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya
camera slider joomla

Keganasan buli merupakan 4-10% dari semua keganasan di USA (United States Of America) dan menyebabkan sekitar 10.000 kematian per tahun. Pada 2005, diperkirakan terdapat 63.210 kasus baru dengan lebih dari 13.000 kematian. Kemungkinan kekambuhan/rekurensi antara 50-90%, tergantung pada staging, grade, dan jumlah tumor pri­mer. Progresi stage and grade terjadi antara 10-50% kasus. Karena tidak ada metode tunggal yang 100% sensitif untuk monitoring rekurensi pada penderita maka biasanya digunakan kombinasi beberapa cara. Cara diagnosis utama pada keganasan buli adalah dengan flexible cystoscopy, karena risiko tindak­an rendah dan dapat dilakukan pada tem­pat praktek dokter. Namun, jika ditemu­kan lesi datar seperti pada carcinoma in-situ sulit untuk membedakan dengan buli normal. Oleh karena itu, flexible cystoscopy lebih bermanfaat jika dipakai untuk diagnosis pada keganasan yang sudah nyata. Sensitivitas uji ini sangat dipengaruhi oleh grade tumor. Pada high-grade tumors dengan pleomorfisme yang jelas dan gambaran nukleus abnor­mal, akan dengan mudah dideteksi secar­a akurat dengan flexible cystoscopy. Namun, jika small and/or well differentiated tumors, di mana bedanya dengan normal sedikit, maka sukar dideteksi dengan cystoscopy. Untuk kasus yang masih dini atau tumor dengan diferensiasi baik, minimal di­butuhkan cara diagnosis lain seperti pemerik­saan marker urin. Misalnya nmp2, nmp 2, 9, fibronectin, cytokeratin 2,18bladder cancer specific protein blca-4, aktivitas telomerase, bladder associated antigen (bta), urothelial carcinoma associated 1 (uca1), serta nmp22, dna ploidy & s-phase fraction. 1-3,5-20 Selain cystoscopy, diagnosis dapat juga dilakukan dengan upper tract imaging untuk mendeteksi tumor urotelial tambahan dan adanya obstruksi saluran kemih.20

 

Epidemiologi Keganasan Buli

Keganasan buli diperkirakan sebesar 95% dari semua tumor buli. Dari tumor tersebut, dibagi menurut tipe gambaran histologi, ren­tang usia, seks, dan geografi (lihat tabel 1).1

Prevalensi keganasan buli 4-10% dari semu­a keganasan di USA, menyebabkan sekita­r 10.000 kematian per tahun. Insiden meningkat 36% antara 1983 sampai 1993. Pada 1999, terdapat 50.000 kasus baru denga­n sekitar 12.500 kematian, sedangkan pada 2000 diperkirakan terdapat 53.200 kasu­s dan menyebabkan lebih dari 12.200 kematian.2-5 Pada 2003, diperkirakan 57.400 kasus dan 12.500 kematian.20 Pada 2005 diperkirakan 63.210 kasus baru dan lebih dari 13.000 kematian di USA.1 Di USA, keganasan buli menduduki posisi ke-4 untuk keganasan pada pria dan posisi ke-8 sampai ke-10 untuk keganasan pada wanita.2-5 Faktor risiko meningkat dengan peningkatan usia, 70% pria dan 75% wanita dengan keganasan bul­i terjadi pada usia lebih dari 65 tahun.4

Pada waktu pertama didiagnosis, sekitar 75% kasus adalah tumor superfisial, 20% invas­if, dan 5% sudah dengan metastasis. Frekuensi kekambuhan pada yang superfisial lebih dari 60% dan progresi tumor menjadi stage/grade lebih lanjut terjadi pada 42% penderita selama kurun waktu 10 tahun. Tcc merupakan keganasan ke-2 pada saluran kemih. Lebih dari 70% yang diobati meng­alami rekurensi dan 30% tumor rekurens mengalami progresi.3 Saat ini, pathologic staging dan grading merupakan faktor prognos­tik yang berharga untuk deteksi dan monitoring TCC. Sedangkan urinalisis dan sitologi merupakan metode diagnosis yang tidak invasif, tetapi kurang sensitif. Sedang­kan cystoscopy, selain invasif juga kuran­g sensitif dan sprsifik. Adanya marker yang non-invasif, dapat dipercaya, dan sederhana akan memperbaiki cara deteksi serta monitorin­g keganasan buli.3

{pub}Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.{/pub}{reg}

Gambaran Klinis dan Diagnosis Keganasan Buli

Simptom klasik dari keganasan buli adalah hematuria, biasanya gross dan tidak nyeri, tetapi kadang juga dapat mikroskopik. Pada beberapa penderita (20-30%) terdapat “irritable bladder symptoms dari frekuensi, urgensi, dan disuria, terutama pada penderita carcinoma in situ pada buli. Hal ini menyebabkan penderita terlambat untuk berobat ke ahli urologi, karena lebih sering didiagnosis infeksi atau batu saluran kemih dan jarang diperiksa lebih lanjut. Gross hematuria membutuhkan pemeriksaan evaluasi urologik. Penelitian membuktikan bahwa hematuria telah terjadi beberapa tahun sebelum diagnosis keganasan buli sehingga dibutuhkan metode yang dapat memprediksi dini adanya keganasan.4 Pemeriksaan uji saring untuk keganasan buli tidak dianjurkan digunakan secara luas, terutama di daerah dengan prevalensi rendah. Namun, pada penderita dengan risiko tinggi dan adanya hematuria mikroskopik, dianjurkan pemeriksaan uji sarin­g keganasan buli.4

Penyakit yang lebih lanjut akan menyebabkan nyeri pelvis, obstruksi saluran kemih keluar, atau flank pain secondary terhadap obstruksi saluran kemih bagian atas. Penyakit pelvik yang lanjut dapat menyebabkan obstru­ksi rektal, limfedema dari ekstrimitas, dan deep vein thrombosis karena kompresi vena iliaka.4

Deteksi keganasan buli dilakukan dengan flexsible cystoscopy, yang dapat dilakukan pada penderita rawat jalan dengan anestesi lokal (lidokain intrauretral). Banyak kegana­san buli menunjukkan grossly and papillary exophytic tumors, dan low-grade tumors mempunyai gambaran yang dapat dipercaya. Pada keganasan yang high-grade, invasif dap­at menunjukkan gambaran eritema dan oedem dari mukosa dengan distorsi dinding buli. Jika terdapat kelainan maka dilakukan tur (transrectal resection) atau biopsi dengan anestesia. Tur diagnosis penting untuk staging dan terapi. Kadang-kadang penderita membutuhkan perawatan jangka pendek untu­k evaluasi hematuria, adanya retensi urine atau perforasi buli. Selama evaluasi he­ma­turia atau sesudah diagnosis ditegakkan, harus dilakukan imaging saluran kemih bagian atas (collecting system). IVP (intrave­nous pyelogram), retrograde pyelogram, atau CT (computed tomography) atau MRI (mag­net­ic resonance imaging) untuk identifikasi adanya tumor urotelial lain dan obstruksi saluran kemih bagian atas oleh tumor buli.4

Penderita dengan carcinoma in situ mempunyai risiko lebih besar untuk berkembang menjadi keganasan saluran kemih bagian atas. Keganasan buli 50-75% sering kambuh sehingga membutuhkan follow up jangka panjang. Follow up terdiri dari cystoscopy dan imaging periodik.4 Saat ini banyak dikem­bang­kan berbagai marker urine untuk deteksi keganasan buli. Hasilnya masih kontroversi, tetapi salah satu marker, yaitu nmp22 urin, sudah dianjurkan oleh FDA untuk dipakai untu­k deteksi dan monitoring pada ke­ganasan  buli.4,12,13 

 

Pemeriksaan Laboratorium pada Keganasan Buli

Keganasan buli sering kambuh progresif sehingga perlu diagnosis dini yang dapat dilak­ukan dengan pemeriksaan urinalisis (hematuri dan sitologi) maupun dengan cystosco­py. Diagnosis dengan cystoscopy serin­g sulit pada tumor in-situ dan tumor dengan low grade atau well differentiated. Untuk itu, dibutuhkan marker yang dapat mendeteksi dini maupun untuk monitor rekurensi.

 

Sitologi Urin

Sitologi urine memegang peranan pen­ting untuk deteksi dan monitoring, terutama penderita carcinoma in situ yang bermanifestasi sebagai irritable symptom dan perubahan inflamasi non-spesifik pada pemeriksaan cystos­copy. Namun, sensitivitas hanya 60% dan spesifisitas 70-80%. Cara sitologi urin sangat dipengaruhi variabilitas pemeriksa, jumlah sampel yang diperiksa (adekuat atau tidak), cara pengumpulan sampel, dan cara pengawetan sampel. Pada kasus keganasan high grade sitologik sangat bernilai, tetapi pada keganasan low grade sensitivitas hanya 10-40%.4

 

NMP22 (Nuclear Metallo Proteine 22)

NMP22 adalah protein matriks nukleus tiga dimensi mengandung RNA (Ribonucleic Acid) dan protein yang merupakan struktur dasar/penyangga dari sel nukleus. Matriks tersebut merupakan sauh untuk aparatus ensim­atik yang berespons terhadap siklus replikasi, transkripsi DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), memproses RNA, dan ekspresi gen. Berbagai NMP adalah organ spesifik, NMP22 atau  NUMA (Nuclear Mitotic Apparatus) adalah protein yang ditemukan pada sel epitel manusia. Fungsi kritis dari NUMA adalah untuk memastikan pemisahan yang benar dari material genetik selama mitosis ke dalam sel yang diturunkan berikutnya. Kadar NUMA pada sel epitelial tumor dapat sampai 80 kali lebih besar dibanding jaringan normal. NMP spesifik untuk keganasan dapat juga dideteksi pada jaringan kolon, payudara, dan tulang. NMP22 dikenal sebagai marker potensial untu­k urothelial-specific cancer. 3,10

Pemeriksaan NMP22 pada keganasan bul­i dapat dilakukan dengan cara elisa (enzy­mel­inked immunosorbent assay) dengan nilai cut off 10 u/ml, memberikan nilai sensitivitas 75 -87% dan spesifisitas 83- 92%.14 Cara peme­riksaan lain adalah menggunakan point-of-care testing (poct), yaitu cara diagnosis cepat menggunakan NMP22 bladdercheck, memberikan hasil yang bervariasi antar-peneliti dengan rentangan sensitivitas 49,5 - 95% dan spesifisitas 68 - 96 %.7-13 Peng­gunaan NMP22 bersama dengan sitologi urin akan meningkatkan sensitivitas tes. Sebaliknya, dengan melakukan kriteria eksklu­si untuk menyingkirkan beberapa penyakit yang dapat memberikan hasil positif palsu, misalnya keganasan penis dan testis, akan meningkatkan spesifisitas tes. Jika keganasan prostat dan renal cell carcinoma dilibatkan dalam uji spesifisitas maka hasilnya akan menurun. Juga adanya urosistitis, batu, dan infeksi saluran kemih. Penggunaan ka­teter akan dalam uji spesifisitas akan menurunkan spesifitas tes.10-13 Namun demikian, NMP22 urin sudah direkomendasikan oleh FDA (Food and Drug Administration) untuk uji saring dan monitoring pada keganasan buli.12-13

NMP 22 dapat diperiksa dengan cara elisa yang lebih rumit, dan dengan cara Point of Care Testing (POCT) yang lebih praktis. Dari beberapa penelitian terdahulu, nilai diagnostik NMP22 hasil sensitivitas dan spesifisitas bervariasi, yang kemungkinan terjadi karena variasi kriteria inklusi dan ekslusi penderita yang diteliti. Karena besarnya variasi sen­si­tivit­as dan spesifisitas antar-peneleliti yang disebabkan perbedaan kriteria eksklusi dan perbedaan populasi yang diteliti, kami akan melalukan penelitian nilai diagnostik point-of-care assay NMP22-bladder check di Malang. Hasil penelitian 139 sampel terdiri dari 66 kasus (pria 77,27%; wanita 19,70%; dan anak 3,03%) dan 73 kontrol (pria 87,67% dan wanita 12,33%) mendapatkan sensitivitas 03,94%; spesifisitas 75,34%; nilai ramal positif 77,50%; dan nilai ramal negatif 93,22%.23

 

FDP (Fibrin/Fibrinogen Degradation Product)

Pada keganasan buli juga didapatkan pe­ning­katan FDP urin sehingga FDP juga per­nah digunakan sebagai marker laboratorium pada keganasan buli. Tes ini diperiksa dengan late­ral flow immunoassay yang menggunakan antibodi monoklonal, hanya memeriksa FDP urin secara kualitatif. Pengukuran kadar FDP secara kolorimetrik sangat sederhana, cepat, dapat dilakukan juga dengan dipstik POCT (Point of Care Testing) di mana secara umum, baik pada superfisial maupun keganasan invasi­f, sensitivitasnya 82,1%. Jadi, lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan sitologi yang sensitivitasnya hanya 38%. Sensitivitas FDP 63,2% pada grade 1; 88,2% pada grade 2; dan 95% pada grade 3. Spesifisitas pada orang normal sehat 96%, sedangkan pada penderita dengan kelainan urologi lain spesifisitasnya 86%. Pada penderita keganasan buli dengan sitoskopik negatif pada saat pemeriksaan spesifisitasnya 80%. Tetapi, karena bahan/kit ini kurang stabil maka produksinya dihentikan.3

 

MMP (Matrix Metalloproteinase) 2 dan 9

MMP terlibat dalam pertumbuhan tumor, metastase, merangsang migrasi, dan invasi sel. Penelitian aktivitas MMP 2 dan 9 yang diperiksa pada urin penderita keganasan buli superfisial, keganasan invasif, dan volunter sehat untuk mengevaluasi nilai diagnostik­nya. Dari hasil penelitian didapatkan aktivitas dan kadar MMP 2 dan 9 secara nyata lebih tinggi pada keganasan invasif dibanding keganasan superfisial, sedangkan pada volun­ter sehat aktivitasnya sangat rendah. Dengan demikian, peningkatan awal aktivitas  MMP dapat diindikasikan adanya keganasan buli fase awal. Secara umum, aktivitas MMP-2 dan MMP-9 urin berkorelasi satu dengan lainnya. Aktivitas MMP-9 urine sebagai marke­r keganasan buli, sensitivitasnya sediki­t lebih rendah jika dibandingkan dengan NMP-22, tetapi MMP-9 dan NMP-22 tak berkorelasi. Peningkatan aktivitas MMP mungkin berguna untuk marker keganasan superfisial, terutama jika dikombinasikan dengan marke­r lain.15

 

Sitokeratin (CKS)

CKS adalah diferensiasi filamen protein inter­mediate yang terdapat pada sitoskeleton sel epitel. Banyak ditemukan pada urotelium buli, sehingga dapat digunakan sebagai marker keganasan buli. Pada sel epitel elemen mayor sitoskeleton dibentuk dari CKS, ter­dapat 20 CKS berbeda pada perkem­banga­n tumor epitelial. Sitokeratin epitelial disebut soft keratin yang secara umum dibagi 2 subfamili, yaitu tipe i dan tipe ii. Dua tipe i CKS 18 dan 19, 2 tipe ii polipeptida 7 dan 8.21 CKS merupakan marker diferensiasi sel epitel, di mana memberikan patern spesifi­k pada ekspresi sitokeratin. Fragmen sitokeratin dalam urin merupakan marker tumo­r. Fragmen CKS 8 dan 18 di urin (UBC) merupakan marker TCC buli. UBC tes (elisa) CKS 8 dan 18 yang meningkat di urin ditemu­kan pada penderita tumor epitelial. Sanchez-Carboya dkk., meneliti UBC tes pada 111 penderita TCC buli aktif (grup 1), 76 penderita follow up yang bebas TCC buli (grup 2), 25 penderita keganasan lain (grup 3), dan 30 kontrol sehat. Sensitivitas total 79,3% dan spesifisitas 88,5%. Sensitivitas grup i 78,4% dan spesifisitas grup 2 adalah 97,4%. Mian dkk., membandingkan UBC dan NMP 22 pada urin beku untuk deteksi TCC buli pada 81 penderita dengan simptom dan 54 dipastikan secara histologi TCC buli. Sensitivitas 55,5% untuk NMP 22 dan 64,8% untuk UBC. Sensi­tivitas UBC lebih tinggi dibanding NMP 22 untuk setiap stadium dan grade, meski­pun secara statistik tak bermakna. Spesifisitas UBC 73,3% dan NMP 22 60,0%. Kibary dkk., meneliti  bahwa TCC buli adalah 73,3% untuk NMP 22 dan 60,0% untuk UBC.22 Selain metode UBC elisa, saat ini ada UBC rapid tes yang praktis dan mudah pelaksanaanya. Sampelnya juga cukup urin. Tetapi, belum ada kesesuaian antar-peneliti tentang sensitivit­as dan spesifisitas CKS 8 dan 18 (UBC) sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui nilai diagnostik UBC.

Sitokeratin 18 (CK5 18) dapat juga digabun­g dengan Bladder Tumor Fibronectin (BTF) un­tu­k deteksi dan monitoring kega­nasan buli. Pemeriksaan CK18 & BTF dengan chemiluminescent immunoassay, cut off optim­al dari kurve ROC (Receiver Operating Characteristic) adalah 7,4 mg/l untu­k CK 18 dan 52,8 mg/l untuk BTF. Sensitivitas CK 18 66,2%; spesifisitas 88,4%; sedangkan sensitivitas BTF 80,0% dan spesifisitas 74,7%.16

 

BTA (Bladder Tumor Antigens)

BTA adalah tes aglutinasi lateks yang secara kuantitatif mendeteksi adanya kompleks membran basalis dalam urin. Tes ini didasarkan pada kenyataan bahwa tumor buli melepaskan protein membran basalis dalam urin dan jumlahnya sesuai dengan stage & grade tumor. Pada tes BTA, sampel urin di­campur dengan partikel lateks yang di-coated dengan IGg human dan blocking agents. Jika dalam urin terdapat produk proteolitik maka akan terjadi reaksi dengan lateks sehingga terjadi aglutinasi maka terjadi perubahan warna yang dapat dilihat pada tes strip. Tes BTA orisinal sensitivitasnya hanya sekitar 40%. Jadi, tidak banyak berbeda dengan sitologi. Dengan demikian, dilakukan berbagai modifikasi dengan BTA stat dan BTA trak. Keterbatasan BTA adalah adanya positif palsu pada penyakit jinak seperti inflamasi, batu, trauma urotelial, dan keganasan genitourinari selain keganasan buli.3

BTA stat adalah tes ICT (immunochromatography) satu step dengan dipstik secara kualitatif dan dapat dilakukan di ruang prakte­k dokter. Hasil diperoleh dalam 5 menit. Sensitivitas BTA stat 50% pada lesi low-grade, lebih tinggi dibanding sensitivitas sitologi (20-40%). Tetapi, pada lesi high-grade sensitivitasnya 29-66% pada g2 dan 40-83% pada g3. Jadi, lebih rendah dibanding sen­sitivit­as sitologi (70-100%). Sedang­kan spesifisitas BTA stat 72-95%, lebih rendah diban­din­g dengan spesifisitas sitologi > 90%.3

BTA tes yang lebih baru adalah BTA trak. Ia merupakan immunoassay kuantitatif yang mengukur kadar Human Complement Factor H-Related Protein (HCFHRP), namun harus dikirim ke laboratorium rujukan. HCFHRP secara in vitro diproduksi oleh berbagai sel keganasan buli manusia, tetapi tak dihasilkan oleh epithelial cell lines lain.3

 

Telomerase

Telomer adalah lengan pendek kromosom yang mengalami degradasi sel somatik akibat penuaan. Pada setiap siklus replikasi, sel secara terus menerus kehilangan telomernya. Sel hanya akan memberikan sejumlah tertent­u telomere sebelum sekuen penting dari pasangan DNA hilang. Ini menyebabkan instabilitas kromosom dan diakhiri dengan kematian sel. Germ cell yang hidup selama siklus replikasi akan memproduksi enzim telomerase untuk dapat mempertahankan telomernya. Aktivitas telomerase tak hanya terdapat pada germ cell, tetapi juga pada sel ganas. Tumor urotelial pada semua grade mengekspresikan telomerase di urine. Pada satu penelitian sensitivitas telomerase 100% pada tumor grade 1,92% pada tumor grade 2 dan 83% pada tumor grade 3. Penelitian lain melaporkan penggunaan protokol amplifikasi berulang dari telomerase mendapatkan detection rate keganasan buli > 85%. Tetapi, penelitian lain mendapatkan sensitivitas telo­merase urine 60-70%. Spesifisitas pemeriksaan telomerase 80%. Hasil positif palsu 23,3% terdapat pada batu, inflamasi, BPH, dan penyakit urologi jinak selain keganasan buli.3 Penelitian lain lagi mendapatkan aktivita­s telomerase pada 94% jaringan keganasan buli dan 72% pada mukosa normal, tetapi kadar telomerase jauh lebih tinggi pada sel keganasan jika dibandingkan jaringan normal. Aktivitas telomerase tak berhubungan dengan stage dan grade tumor. Aktivitas telomerase pada jaringan keganasan buli berkorelasi dengan telomerase di urin (r = 0,650, p < 0.001) maupun bladder washin­g (r = 0,410, p < 0,005) dengan kadar telomerase tak berbeda bermakna. Sedang­kan pada orang normal hanya 10% (2/20) sampel urin yang mengandung telomerase, tetapi dalam kadar sangat rendah. Dari hasil tersebut dipostulasikan bahwa aktivitas telomerase pada sedimen urin penderita keganasan buli lebih baik dibanding bladder washing.  Selain itu, urin sedimen juga lebih mudah mengambilnya sehingga dianjurkan untuk dijadikan marker diagnostik dari tumor.18 Aktivitas telomerase urin mempunyai kemampuan untuk mendeteksi secara akurat adanya tumor buli pada pria. Tes ini merupa­kan cara diagnostik yang non-invasif untuk deteksi keganasan buli pada kelompok risiko tinggi seperti perokok berat atau pada pender­ita tanpa gejala.19

 

Asam Hialuronat dan Hialuronidase

Tes ini berdasarkan bahwa sel metastatik memproduksi enzim dan produk enzim yang dapat membantu melarutkan matriks selular sel ganas pada perjalanannya ke pembuluh darah. Bahan tersebut adalah asam hialu­ro­nat dan hialuronidase yang dideteksi pada urin (Elisa). Penelitian menunjukkan pening­katan asam hialuronat 5-7 kali pada semua keganasan buli tanpa memperhitungkan tum­or grade. Sedangkan hialuronidase hanya meningkat pada keganasan buli high grade (4-7 kali pada tumor g2/g3). Sensitivitas dan spesifisitas asam hialuronat serta hialuro­nidase bervariasi antara 86-92%.3

 

DNA Ploidy dan S-Phase Fraction

Diperiksa dengan flow cytometry, Image Cytometry (ICM), laser scanning, dan Fluorescence In Situ Hybridization (FISH). Evaluasi urin dengan flow cytometry  secara otomatik memeriksa DNA sel. Menentukan ploidi DNA dan memperkirakan  s-phase fractio­n (sintesa DNA). Sel neoplastik me­nun­juk­kan pembesaran nukleus dan hiperkromatin, penurunan kandungan DNA. Gam­baran flow cytometry penderita diperban­ding­kan dengan orang normal. Dalam hal ini, sejumlah DNA digambarkan dalam histogram sebagai diploid, tetraploid, dan aneuploid. Populasi sel aneuploid dengan kadar s-phase fraction tinggi mengesankan keganasan high grade (CIS). Tumor diploid secara umum cender­ung low grade dan low stage, dengan prognosis lebih baik. Pemeriksaan ini akurat untuk keganasan high grade (CIS). Sensiti­vitasnya 80-90%. Cara ini cukup mahal, sukar, dan membutuhkan tenaga mahir. Selain itu, belum terstandarisasi dengan baik dan membutuhkan sampel potongan tumor yang besar.3

Metode FISH mendeteksi kelainan kandungan DNA sel, yang menunjukkan kuantifikasi kromosom dan gene berdasar masing-masing sel. Cara ini mudah dilakukan dan tidak membutuhkan alat khusus. Fish yang diaplikasikan pada bladder washing sesudah pengobatan BCG (Bacile Calmette Guerin) menunjukkan hilangnya kromosom 9. Kromosom 9 merupakan kromosom yang sering ditemukan abnormal pada keganasan buli, berkorelasi nyata dengan kekambuhan tumor dan kegagalan pengobatan BCG. Cara ini dapat mengklasifikasi dengan baik per­beda­an tumor low-grade.3

ICM menggunakan computer-controlled fluorescence microscope yang menganalisis hapusan sel dan secara kuantitatif mengukur kandungan DNA setiap sel, secara langsung proporsional dengan emisi fluoresennya. Karena yang diperiksa sel individual maka cara ini lebih mudah menggunakan urin di­banding flow cytometry yang membutuhkan sejumlah besar sel. ICM lebih sensitif terutama  untuk deteksi keganasan buli low grade, dibanding flow cytometry dan sitologi.3

 

Cell Surface Antigen (Immunocyst)

Merupakan pemeriksaan kombinasi yang menggunakan antibodi monoklonal untuk mendeteksi cell surface antigens (m344, ldq10, 19a211) dari TCC buli. Pada tes ini, 1slide diperiksa imunofluoresen dan sitologi. Awalnya dilaporkan senstivitasnya 95% pada low grade (ta / t1). Penelitian baru  melapor­kan sensitivitas immunocyst saja 86,1%. Kombinasi immunocyst dan sitologi sensitivitasnya 89,9%, sehingga mengesankan bahw­a immunocyst saja tanpa sitologi sudah memberikan hasil serupa. Positif palsu terjadi sehingga tes ini kurang spesifik, sedangkan sitologi sangat spesifik (> 90 %).3

 

Peptide BCLA-4

BCLA adalah salah satu Bladder Cancer Specific Protein (BCLA1-6) yang dikeluarkan ke dalam urin. BCLA-4 merupakan marker dini keganasan buli yang sangat spesifik dan sangat berguna untuk melihat aktivitas pe­nyakit. BCLA-4 merupakan faktor transkripsi yang memegang peran penting pada regulasi ekspresi gene pada keganasan buli. BCLA-4 tak ditemukan pada urin penderita penyakit jinak lainnya seperti sistitis dan BPH, dan penderita kanker tipe lain sehingga lebih spesifi­k.17 Pemeriksaan BCLA-4 dapat dilaku­kan secara elisa, immunoblot, immunoassay, menggunakan anti-BCLA-4. Dengan cut off  13 a (absorbance) units/mg protein didapat­kan sensitivitas 96,4% dan spesifisitas 100%.2,17

Selain itu, masih ada beberapa marker lain seperti antigen golongan darah ABH dan Lewis. Sensitivitasnya 85% dan spesifisitas 85%, baik pada high maupun low grade.3 Tumor asscociated antigen (m344, 19a121, ti38, dd23) merupakan marker harapan yang membutuhkan penelitain lebih lanjut. Misalnya, kombinasi antibodi dd23 (urocor) dan sitologi mempunyai sensitivitas 94% dan spesifisitas 85%.3 UCA1 (Urothelial Carcino­ma Asscociated 1), sangat sensitif dan spe­sifik untuk keganasan buli, penting untuk mengikuti penyakit sesudah operasi.20 n 

 

Daftar Pustaka

  1. Baker PM, Young RH. Bladder carcinoma. James homer wright pathology laboratories of the massachusetts general hospital, havard medical school, boston 02115, usa. Http://www.thedoctor.com/diseases/bladderca.htm
  2. Konety BR, Nguyen Thu-Suong T, Dhir R, et al. Detection of bladder cancer using a novel nuclear matrix protein, bcla-41. Clin cancer research 2000 ; 6 : 2618-2625.
  3. Burchardt M, Burchardt T, Shabsigh A, De La Taille A, Benson MC, Sawczuk I. Current concepts in biomarker technology fot bladder cancers. Clin chem 2000 ; 46(5) : 595-605.
  4. Montie J, Smith DC, Sandler H. Carcinoma of the bladder. In: abelof md, armitage jo, niederhuber je, kastan mb, mckenna wg, 3th eds. Clinical oncology. Usa: elsevier churchil livingstone, 2004 : 2059-2083.
  5. Grossman HB, Soloway M, Messing E, et al. Surveilance for recurrent bladder cancer using a point-of-care proteomic assay. JAMA 2006 ; 295(3) : 299-305.
  6. Katz G, Messing EM. Diagnosis of bladder cancer using point of care assay : a multicenter study. J urol 2005; 174 (4 suppl): 230
  7. Hautmann S, Fillipow N, Braun P, et al. The new proteonomic-based point-of-care (poc) urine nmp22-bladdercheck, compared to the standard nmp22 elisa urine lab test for bladder cancer detection. Presented at the xxth eau congress, march 16-19 2005, istambul.
  8. Kumar A, Kumar R, Gupta NP. Comparison of nmp22 bladderch­eck test and urine cytology fo detection of recurrent bladder cancer. Jpn J Clin Oncol 2006; 36(3): 172-175.
  9. Grossman HB, Messing E, Soloway M, et al. Detection of bladder cancer using a point-of-care proteomic assay. JAMA 2005; 293(7): 810-816.
  10. Tomera KM. Nmp22 bladdercheck test : point-of-care technolo­gy with life-and money-saving potential. Expert rev. Mol. Diagn. 2004; 4(6): 783-794.
  11. Seo S, Cho S, Hong K, Shim B, Kwon S. Usefulness of nmp22balddercheck for diagnosis and monitoring of bladde­r cancer. Korean J Lab Med 2007; 27: 22 (abstarct)
  12. Ponsky LE, Harma S, Pandrangi L, et al. Screening and monitori­ng for bladder cancer : refining the use of nmp22. The Journal Of Urology 2001; 166: 75
  13. Poulakis V, Witzsch U, De Vries R, Altmannsberger HM, Manyak MJ, Becht E. A comparison of urinary nuclear matrix protein-22 and bladder tumor antigen test with voided urinary cytology in detecting and following bladder cancer : the prognostic value of false positive results. Britis journal of urology 2001 ; 88 (7) : 692.
  14. Ludecke G, Miller FR, Weidner W. Is nmp22 a relevant tumor marker in case of primary diagnosis in bladder cancer in urologi­cal daily routine? Presentations at the xixth congress of the european association of urology 24-17 march 2004, vienna.
  15. Cier CFM, Casetta JHV, Tizzani A, et al. Enhanced urinary gelatinase activities (matrix metalloproteinases 2 and 9) are associated with early-stage bladder carcinoma : a comparison with clinically used tumor marker. Clin Cancer Research 2000; 6: 2333-2340.
  16. Sanchez-Carbayo M, Urrutia M, Gonzales De Buitrago JM, Najavo JA. Evaluation of  two new urinary tumor markers : bladder tumor fibronectin and cytokeratin 18 for the diagnos­is of bladder cancer. Clin Cancer Research 2000; 6: 3585-3594.
  17. Van Le Ts, Myers J, Konety BR, Barder T, Getzenberg RH. Fungtional characterization of bladder cancer marker, blca-4. Clin Cancer Research 2004; 10: 1384-1391.
  18. Gelmini S, Crisci A, Salvadori B, Pazzagli M, Selli C, Orlando C. Comparison of telomerase activity in bladder carcinoma and exfoliated cells collected in urine and bladder washings, using a quantitative assay. Clin Cancer Research 2000; 6: 2771-2776.
  19. Sanchini Ma, Gunelli R, Nanni O, et al. Relevance of urine telomerase in the diagnosis of bladder cancer. JAMA 2005; 294(16): 2052-2056.
  20. Wang X-S, Zhang Z, Wang H-C, et al. Rapid identification of uca1 as a very sensitive and specific unique marker for huma­n bladder carcinoma. Clin Cancer Research 2006; 12(6): 4851-4858.
  21.  Moll R, Schiller Dl, Franke WW. Identification of protein it of the intestinal cytoskeleton as a novel type i cytokeratin with unusual properties nd expression patterns. The Journal Of Cell Biology 1990; 111: 567-580.
  22. Kibar Y, Goktas S, Kilic S, Yaman H, Onguru O, Peker AF. Prognostic value of cytology, nuclear matrix protein @@ (nmp 22) test, and urinary bladder cancer ii (UBC II) test in early recurrent transitional cell carcinoma of the bladder. Ann Of Clin Cr Lab Science 2006; 36(1): 31-38.
  23. Anik Widijanti, Budiono Raharjo, Novi Khalila Firani, Basuki Bambang Purnomo, Penta S. Nilai diagnostic nmp-22 pada keganasan buli. (penelitian rssa 2010,akan dipublikasikan). {/reg}

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Login Form

Who's Online

Kami memiliki 48 tamu dan tidak ada anggota online