Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menga­tak­an bahwa GJA dapat dide­fini­si­­kan dalam tiga poin: Pertama, terjadinya gejala dan tanda gagal jantung yang cepat sebagai akibat dari disfungsi jantun­g yang mendadak. Kedua, disfungsi jantung yang dimaksud dapat berupa disfungsi sistolik atau diastolik, abnormalitas irama jantung, serta preload and afterload mismatch. Ketiga, dapat terjadi pada pasien tanpa riwayat penyakit jantun­g sebelumnya.

Menurut dr. Isman, prinsip pengobatan gagal jantung akut adalah dengan memperbaiki hemodinamik dan oksigenisasi serta perfusi jaringan. Gagal jantung akut memiliki tiga fase, yaitu fase inisiasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor pencetus seperti ketaatan minum obat yang rendah, tata laksana yang suboptimal atau dosis obat kurang, iskemia, aritmia, infeksi, dan pembedahan. Fase berikutnya adalah amplifi­kasi, di mana semua hal yang terjadi akan saling mempengaruhi dan memperberat penyakit pasien, sampai akhirnya memasuki fase vicious cycle.

Dokter harus mewaspadai adanya ke­gagalan jantung jika pasien mengeluhkan adanya sesak pada saat istirahat atau pada saat beraktivitas (dyspneu of effort), pasien merasa mudah lelah, dan terjadi pembengkakan pada kaki atau terdapat tanda-tanda seperti takikardi, takipneu, ortop­neu, ronkhi, efusi pleura, pening­katan tekanan vena jugularis, edema pulmo­ner, hepatomegali, serta bukti adanya abnormalitas fungsi atau struktur jantung seperti kardiomegali, S3 gallop, murmur jantung, abnormalitas pada hasil elektrokardiogram, serta peningkatan peptid­a natriuretik. Jika tidak diatasi, bisa membahayakan nyawa pasien.

Terapi atau pengobatan harus dilaku­kan secepat mungkin. Kondisi klinis pasien harus dikenali secepatnya, terutama me­nge­­nai status perfusi dan status oksige­nisasi. Profil hemodinamik dapat dikenali melalui tekanan darah dan curah jantung untuk perfusi jaringan. Kongesti dapat dikenali dengan suara, yang didapat pada saat auskultasi dada (ronkhi kasar atau halus seluas apa), ortopneu, serta pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) atau perkiraan tekanan dalam atrium kiri jantung yang >18 mmHg. Tetapi, harus diingat bahwa jika terjadi penurunan tekanan darah, ronkhi pasti akan berkurang, karena preload juga berkurang.

Kenali apakah terjadi hipoksia karena kongesti dan kenali juga gangguan perfusi melalui tensi. Dengan demikian, senjata dokter ada dua, yaitu auskultasi dengan stetoskop dan tensi. Tidak ada dokter yang tidak dapat melakukan auskultasi dan memeriksa tensi, demikian tutur staf departemen Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Untuk mengatasinya, harus dilakukan berdasarkan algorit­me tata laksana segera GJA, yaitu setelah diagnosis sementara, langsung dila­kukan resusitasi segera, pemberian analgesia jika terdapat nyeri atau distress, pemberian oksig­en melalui CPAP jika saturasi okigen 70 mmHg maka diberikan vasodilator dan diure­tik (jika volume overload). Jika preload adekuat, lakukan fluid challenge test. Pengukuran curah jantung dilakukan jika perfusi belum adekuat, diberikan inotropik atau manipulasi afterload, serta perbaikan asidosis metabolik. Terakhir, lakukan monito­ring intensif hingga pasien stabil. (DIPN)

 

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish