steroids
Banner
Translate
Edisi No 05 Vol XXXVIII - 2012 - Kegiatan

N-asetilsistein, Antioksidan dengan Efek Ekstra

 N-asetilsistein atau NAC telah digunakan sejak tahun 1960-an sebagai mukolitik dalam penyakit saluran pernapasan akut. Dalam pedoman PDPI 2010 dan GOLD REVISED 2011 yang terbaru, NAC direko­men­dasikan sebagai antioksidan dalam tera­pi pasien PPOK denga­n eksaserbasi rekuren, terutama yang tidak diberikan glukokortikoid inhalasi. Pem­­­ba­hasan mengenai peran dan cara kerja N-asetilsistein ini disampai­ka­n oleh DR.Dr. H. Gunawan Subrata, MBA, dalam seminar Perte­muan Ilmiah Tahunan Peralmuni yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 Maret 2012, di Hotel Horison, Bandung.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya efek antioksidan terhadap radikal bebas dan reactive oxygen species (ROS) tubuh, serta dapat merangsang aktivasi sistem pertahanan tubuh. Zat ini sekarang diguna­kan sebagai manajemen standar dalam PPOK, idiopathic pulmonary fibrosis (IPF), dalam penanganan keracunan asetaminofen, End Stage Renal Disease (ESRD) dengan hemodialisis, preeklampsia, eklampsia, profilaksis Contrast Induced Nephropathy (CIN), sepsis, diabete­s melitus tipe 2, rematik, influenza, flu burung, flu babi, retensi sputum pada pasien yang dirawat di ICU, melasma, infertilitas, serta untuk mening­katkan sistem kekebalan tubuh pasien dengan kanker dan HIV.

NAC digunakan sebagai tera­pi empiris antibiotik pada penyakit pulmoner akut dan kronis karena NAC memiliki efek anti-inflamatorik dan dapat meningkatkan sistem pertahanan tubuh. Penelitian Tse Hoi Nam tentang efek NAC dosis tinggi (1200 mg/hari) terhadap airtrapping dan resistansi sa­luran pernapasan pada PPOK terhadap 133 pasien membuktikan bahwa terjadi perbaikan yang bermakna pada resistansi saluran pernapasan yang sempit atau small airways pada pasien yang diberikan NAC selama 4 bulan dibandingkan dengan pasien yang diberikan plasebo. FEF 25-75 pasien meningkat dari 0,56 menjadi 0,65 untuk kelompok yang diberikan perlakukan dan pada kelompok yang diber­ikan plasebo, meningkat dari 0,56 menjadi 0,54 (p<0,05). Selain itu, terdapat perbaikan yang bermakna dalam airtrapping pada kelompok pasien PPOK tipe emfisematosa yang diberikan NAC dibandingkan dengan kelompok pasien PPOK tipe emfisematosa yang diberi­kan plasebo (p<0,05).

Selain itu, NAC berperan seba­gai mukolitik dan akan mengaktifkan mukosiliar di salura­n pernapasan. NAC juga memiliki fungsi yang dapat mengeluarkan toksin seperti lo­gam berat dan pada keracunan parasetamol, sehingga dipakai juga pada pasien yang berisiko mengalami kerusakan hati di Instalasi Gawat Darurat. Zat ini dapat meningkatkan struktur dan fungsi eritrosit dalam stres oksidatif sehingga mempe­ringan hipoksia dan oksigenasi jaringan. Juga menghambat per­tumbuhan biofilm yang dibentuk oleh P. aeruginosa, E. coli, dan Klebsiella, serta me­ne­kan pertumbuhan H. pylori da­lam lambung dan mengurangi produksi sitokin inflamatorik yang dapat menjadi gastritis sert­a kanker.

Cara kerja NAC adalah sebag­ai antioksidan langsung dan scavenger langsung ROS, serta sebagai antioksidan tidak langsung melalui fungsinya yang merupakan prekursor antioks­idan glutation dan me­rupak­an salah satu antioksidan terkuat tubuh. NAC dime­ta­bolis­me dengan cepat menjadi sistein yang merupakan prekursor langsung sintesa GSH intrase­luler, dengan persediaan GSH tereduksi intraseluler yang dipenuhi oleh sintesa GSH intraseluler dari NAC.

Konsentrasi plasma sistein yang bebas meningkat dengan tajam setelah pemberian NAC oral. Waktu paruh NAC dalam plasma kurang lebih selama 2,5 jam dengan waktu eliminasi selam­a 0,81 jam. Zat ini dapat diberikan secara oral, intervena, atau via inhalasi. Pemberian secar­a oral meningkatkan kadar GSH dalam hati, plasma, ginjal, dan cairan lavage bronkoalveolaris (BAL).

Dengan meningkatkan ka­dar sistein endogen maka kadar glutation akan meningkat, dan akhirnya keseimbangan redoks tubuh kembali. NAC akan meng­atur aktivitas jaras-jaras pengiriman sinyak seluler dan transkripsi sel yang sensitif terhadap keseimbangan redoks. Netrofil-netrofil pada pasien PPOK onset awal sangat aktif. Ini dapat dikurangi oleh NAC (invitro) sehingga NAC mengon­trol respons anti-inflamatorik tubuh.

Faktor transkripsi yang terliba­t adalah NF-kB, sitokinnya adalah TNFa, IL-1b, IL-2, IL-3, IL-6, dan IL-12. NAC juga akan memengaruhi ekspresi tioredoksin dan glutaredoksin yang merupakan bagian dari sistem pereduksi tiol. Tioredoksin akan meningkatkan pengikatan DNA-N­­F-kB dengan mereduksi sistein dari subunit p50, sedangkan glutaredoksin akan mengubah jaras transduksi sinyal. Jika terjadi perubahan keseimbangan redo­ks GSH/GSSG, akan me­nyebabk­an modulasi respons biolo­gis. Selain perannya sebagai antioksidan, NAC akan me­ningkatkan respons imun lokal dengan cara melindungi fungsi limfosit dan makrofag ketika terpa­par ROS, dengan mengatur secara langsung atau tidak langsun­g aktivitas antimikroba sel-sel sistem kekebalan tubuh, terutama makrofag.

Di Indonesia, NAC dijual dengan nama dagang Fluimucil untuk pemberian oral, dan ampul untuk inhalasi serta Hidonac untuk pemberian infus.  (DIPN)

 

 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm