PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Edisi April 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya!
camera slider joomla

Meskipun cakupan imunisasi di Indonesia meningkat setiap tahunnya, insiden bebe­rapa penyakit menular masih tinggi, di antaranya pertusis. Meskipun insiden pertusis menjadi jauh berkurang sesudah memasuki era vaksina­si, berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa kasus pertusis meng­alami peningkatan selama dua dekade terakhir. Meskipun cakupan imunisasi di Indonesia meningkat setiap tahunnya, insiden bebe­rapa penyakit menular masih tinggi, di antaranya pertusis. Meskipun insiden pertusis menjadi jauh berkurang sesudah memasuki era vaksina­si, berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa kasus pertusis meng­alami peningkatan selama dua dekade terakhir. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan penurunan imunitas pascavaksinasi. Oleh seba­b itu, berbagai studi dilakukan untu­k mengetahui durasi proteksi pasca­vaksinasi hingga kebutuhan vaksin ulangan (booster) untuk mencegah kejadian infeksi ulang pascavak­sinasi pertusis.1

 

Vaksinasi Pertusis: Dulu dan Kini

Pertusis adalah infeksi bakterial yang ditular­kan melalui droplet dan bersifat sangat infeksius, dengan angka penularan yang sanga­t tinggi. Satu kasus primer pertusis, misaln­ya, dapat menyebabkan 17 kasus sekunder pada subyek yang rentan. Gejala infek­si pertusis dapat bervariasi,  dari rhinitis dan batuk ringan hingga manifestasi klinis klasik berupa batuk rejan (whooping) diikuti muntah yang berlangsung selama beberapa hari hingga berbulan-bulan. Selain mengganggu aktivitas harian dan tidur pasien, per­tus­is dapat menimbulkan komplikasi berup­a pneumonia bronkoalveolar, distres pernapasan, hingga apnea dan kejang. Pada bayi, infeksi pertusis ini dapat berakibat fatal.2

Sebelum era imunisasi, pertusis dikenal sebagai penyakit yang berat pada masa kanak-kanak dan dapat menginfeksi hingga 95% populasi. Penyakit ini jarang ditemui pad­a populasi dewasa. Sebuah studi terha­dap lebih dari dua puluh ribu subjek menunjukkan bahwa kasus sekunder atau reinfeksi hanya terjadi pada 0,26% kasus. Oleh sebab itu, mulanya dipercaya bahwa infeksi pertusis dapat memberikan proteksi seumur hidup bagi penderitanya. Namun demikian, studi yang dilakukan sesudahnya menunjukkan bahwa 33% subjek studi yang memiliki riwayat infeksi pertusis mengalami infeksi ulang semasa hidupnya, baik asimtomatik  maupun simtomatik. Tingginya angka tersebut membuktikan bahwa imunitas terhadap infeksi pertusis tidak bersifat protektif seumur hidup.

 

Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.

 


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish