PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Lomba Foto

Diadakan sampai 28 Februari 2016

Edisi Januari 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya
camera slider joomla

Meskipun cakupan imunisasi di Indonesia meningkat setiap tahunnya, insiden bebe­rapa penyakit menular masih tinggi, di antaranya pertusis. Meskipun insiden pertusis menjadi jauh berkurang sesudah memasuki era vaksina­si, berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa kasus pertusis meng­alami peningkatan selama dua dekade terakhir. Meskipun cakupan imunisasi di Indonesia meningkat setiap tahunnya, insiden bebe­rapa penyakit menular masih tinggi, di antaranya pertusis. Meskipun insiden pertusis menjadi jauh berkurang sesudah memasuki era vaksina­si, berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa kasus pertusis meng­alami peningkatan selama dua dekade terakhir. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan penurunan imunitas pascavaksinasi. Oleh seba­b itu, berbagai studi dilakukan untu­k mengetahui durasi proteksi pasca­vaksinasi hingga kebutuhan vaksin ulangan (booster) untuk mencegah kejadian infeksi ulang pascavak­sinasi pertusis.1

 

Vaksinasi Pertusis: Dulu dan Kini

Pertusis adalah infeksi bakterial yang ditular­kan melalui droplet dan bersifat sangat infeksius, dengan angka penularan yang sanga­t tinggi. Satu kasus primer pertusis, misaln­ya, dapat menyebabkan 17 kasus sekunder pada subyek yang rentan. Gejala infek­si pertusis dapat bervariasi,  dari rhinitis dan batuk ringan hingga manifestasi klinis klasik berupa batuk rejan (whooping) diikuti muntah yang berlangsung selama beberapa hari hingga berbulan-bulan. Selain mengganggu aktivitas harian dan tidur pasien, per­tus­is dapat menimbulkan komplikasi berup­a pneumonia bronkoalveolar, distres pernapasan, hingga apnea dan kejang. Pada bayi, infeksi pertusis ini dapat berakibat fatal.2

Sebelum era imunisasi, pertusis dikenal sebagai penyakit yang berat pada masa kanak-kanak dan dapat menginfeksi hingga 95% populasi. Penyakit ini jarang ditemui pad­a populasi dewasa. Sebuah studi terha­dap lebih dari dua puluh ribu subjek menunjukkan bahwa kasus sekunder atau reinfeksi hanya terjadi pada 0,26% kasus. Oleh sebab itu, mulanya dipercaya bahwa infeksi pertusis dapat memberikan proteksi seumur hidup bagi penderitanya. Namun demikian, studi yang dilakukan sesudahnya menunjukkan bahwa 33% subjek studi yang memiliki riwayat infeksi pertusis mengalami infeksi ulang semasa hidupnya, baik asimtomatik  maupun simtomatik. Tingginya angka tersebut membuktikan bahwa imunitas terhadap infeksi pertusis tidak bersifat protektif seumur hidup.

 

{pub}Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.{/pub}{reg}

Temuan tersebut diikuti oleh pertanyaan mengenai lama durasi imunitas yang diberikan oleh vaksinasi dan pengaruhnya terhadap kebutuhan vaksinasi ulangan. Menurunnya imunitas pascavaksinasi per­tusis dibuktikan oleh sebuah studi yang dilakukan di Swedia mengenai efektivitas vaksin aselula­r pada bayi. Pada studi ini ditunjukkan bahwa vaksinasi pertusis hanya efektif memproteksi hingga 5-7 tahun. Berbagai studi lainnya menun­jukkan hasil yang bervariasi, dengan durasi 7 hingga 20 tahun. Tingginya variasi durasi tersebut diduga akibat perbedaan kadar Bordetella pertusis di dalam sirkulasi, sistem surveilans yang digunakan, serta definisi yang dianut.3,4

Tak hanya di Indonesia, meningkatnya wabah pertusis ini juga dialami oleh berbagai negara maju, di antaranya Belanda. Tingginya cakupan imunisasi (96%) tidak serta merta diikuti  penurunan angka kejadian pertusis, terutama pada usia remaja hingga dewasa. Karena tingginya insiden pertusis pada anak usia sekolah tersebut maka pada 2001 di­kembangkan suatu kebijakan baru pada pro­gram imunisasi nasional di Belanda berupa vaksinasi pertusis ulangan pada usia pra-sekolah. Kebijakan ini kemudian diikuti oleh studi surveilans yang mempelajari pengaruh vaksinasi ulangan pra-sekolah terhadap angka kejadian pertusis di Belanda. Studi ini membandingkan angka kejadian infeksi pertu­sis pada  1998-2001 (tanpa vaksinasi ulangan prasekolah) dan pada 2002-2005 (dengan vaksinasi ulangan prasekolah). Hasilnya, vaksinasi ulang pada usia empat tahun menggunakan vaksin aselular sejak  2001 terbukti berhasil dalam menurunkan insiden pertusis secara bermakna pada populasi target. Pada studi ini diketahui pula bahwa tidak didapatkan penurunan imunitas hingga empat tahun pascavaksinasi ulang. Selain itu, sejak berlakunya kebijakan vaksinasi ulang tersebut, angka kejadian pertusis pada bayi serta angka perawatan akibat infeksi berat pertusis pada bayi menurun secara bermakna hingga mencapai 40%. Hal ini diduga merupakan pengaruh tak langsung vaksinasi ulang pra-sekolah. Sebelum era vaksinasi ulang pra-se­kolah, angka infeksi pertusis mengalami peningkatan, terutama pada bayi berusia kura­ng dari 6 bulan yang belum menerima vaksinasi atau belum memperoleh vaksinasi secara lengkap serta anak usia 4-5 tahun. Karena penurunan imunitas maka kelompok anak yang sebelumnya telah menjalani vaksinasi akan kembali rentan terhadap infeksi pertusis. Transmisi antara penderita dengan saudara kandung yang masih bayi diduga memegang peranan penting pada tingginya angka infeksi pertusis pada bayi di Belanda. Oleh sebab itu, vaksinasi ulang pada usia pra-sek­olah secara tidak langsung berperan pada penurunan angka kejadian infeksi pertusis pa­da bayi di negara tersebut. Selain itu, di­duga pemilihan vaksin jenis aselular diban­ding­kan dengan vaksin jenis whole cell juga berperan dalam penurunan ini, mengingat efek samping vaksin aselular yang lebih kecil serta efektivitasnya yang lebih tinggi.4

1210-APR-gmb1

Negara-negara maju lain yang mengalami peningkatan insiden infeksi pertusis serta menerapkan vaksinasi ulang pra-sekolah di antaranya Amerika Serikat, Kanada, Australia, serta berbagai negara lain di Eropa. Tingginya insiden pertusis di negara-negara dengan cakupan imunisasi yang tinggi tersebut juga merupakan akibat dari temuan kasus yang lebih baik menggunakan metode diagnostik yang lebih sensitif. Penggunaan kultur sekret nasofaring saat ini telah digantikan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) se­rta serologi IgG dan IgA.4

Di Indonesia, program imunisasi nasional yang dianjurkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2011 mencakup pemberian vaksin DPT pada usia 2, 4, 6, dan sebagai booster pertama 18-24 bulan, serta booster kedua dosis kelima pada usia 5 tahun. Dosis pertama hingga kelima ini dapat diberikan secar­a bersamaan dengan vaksin polio. (Lihat gambar 1) Berbagai sediaan vaksin kombinasi yang praktis saat ini telah tersedia, misalnya kombinasi DPT, DPT?IPV, dan DPT?IPV?Hib.5 

 

Kesimpulan

Vaksinasi pertusis tidak memberikan protek­si seumur hidup terhadap terjadinya infe­ksi Bordetella pertusis. Hal ini disebabkan oleh penurunan imunitas seiring berjalannya waktu. Oleh sebab itu, vaksinasi ulangan pad­a usia pra-sekolah memegang peranan penting dalam upaya menekan kejadian infek­si pertusis pada usia remaja dan dewasa. Selain memberikan imunitas sejak usia sekola­h, pemberian vaksinasi ulangan ini juga terbukti menekan transmisi dan angka kejadian infeksi pertusis pada bayi yang belum memiliki imunitas serta rentan mengalami komplikasi berat infeksi pertusis.

 

Daftar Pustaka

  1. Deasiyanti R. Seroproteksi antibodi anti-pertusis pada anak usia 6-7 tahun dengan riwayat vaksinasi DTP dasar lengkap dan ulangan di sekolah dasar di Jakarta. Sari Pediatri. 2011;13 (1): 26-32
  2. Heininger U. Pertussis: what the pediatric infectious disease specialist should know. Pediatr Infect Dis J. 2012;31: 78–9
  3. Wendelboe AM, Van Rie A, Salmaso S, Englund JA. Duration of immunity against pertussis after natural infection or vaccination. Pediatr Infect Dis J. 2005;24: S58–S61
  4. Greeff SC, Mooi FR, Schellekens JFP, Melker HE. Impact of acellular pertussis preschool booster vaccination on disease burden of pertussis in the Netherlands. Pediatr Infect Dis J 2008;27: 218–23
  5. www.idai.or.id/upload/Jadwal_Imunisasi_2011.pdf {/reg}

 


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Login Form

Who's Online

Kami memiliki 28 tamu dan tidak ada anggota online