Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

SMBG Terstruktur Merekam dan Menganalisis Kondisi Kendali Glikemik

 

Salah satu pilar dalam penatalaksanaan diabetes adalah pemantauan glukosa darah. Pemantauan ini dapat dilakukan dengan melakukan suatu meto­de yang disebut Self Moni­toring of Blood Glucose (SMBG). Metode ini sudah diterapkan di berbagai negara setelah dike­luarkan pedomannya oleh Inter­national Diabetes Federation (IDF) untuk DM tipe 2 pada 2009. Seiring dengan kemajuan ilmu pengeta­huan, kini para pakar diabetes menemukan SMB­G terstruktur (Structured SMBG) yang diguna­kan untuk menilai kondisi kritis kendali glikemik.

1108-Keg-SMBG-DOCLinkTujuan penggunaan SMBG, seperti dikatakan oleh dr. Tri Juli Edi, SpPD, di hadapan peserta Workshop Structured SMBG, di Jakarta, 9 Juli 2011, di antara­nya untuk meningkatkan pemahaman tentang diabetes sebagai bagian dari edukasi. Selain itu, SMBG juga dapat memfasilitasi diabetisi untuk berperilaku sehat. Dengan menggunakan SMB­G, diabetisi maupun klinisi dapat mengetahui pola kadar glukosa dari hari ke hari yang sangat bermanfaat untuk me­nentukan diet dan terapi medika mentosa yang harus diberikan.

“Dalam mengaplikasikan SMBG, tidak ada rekomendasi absolut yang menentukan kapan harus melakukan tes glu­kosa darah,” demikian ungkap dokter yang bertugas di Divisi Endokrinologi dan Metabolik FKUI ini. Waktu pemeriksaan glukosa darah bergantung pada regimen medikasi, usia, stabilitas gula darah, preferensi personal, dan kondisi keuangan pasien. Klinisi harus menentukan waktu pemeriksaan gula darah yang dilak­ukan diabetisi agar dapat merekam kadar gula darah sesuai target terapi.

Salah satu jenis SMBG adala­h SMBG terstruktur, yakni tes glukosa multi-point yang dilak­ukan pada waktu, situasi, dan frekuensi yang tepat ke­perlua­n adjustment terapi. Jenis regimen SMB­G terstruktur sanga­t ber­variasi, sa­lah satunya adalah Meal Based 2 Point per Day. Jenis SMBG terstruktur ini membantu klinisi meng­iden­tifikasi hiperglikemia post prandial, membantu me­nye­suaikan tera­pi, dan menye­dia­kan lebih ba­nyak umpan balik terkait per­ubahan pengobatan. Jenis yang lain adalah 5 Point per Day yang merupakan pendekatan sistemik untuk menciptakan profil glu­kosa yang dapat mengidentifikasi pola glikemik harian dan dapat mengambil tindakan berdasarkan hasil ini.

Setelah menentukan jenis SMBG terstruktur yang dipilih, pasien hendaknya melakukan SMBG terstruktur dengan glucometer. Demikian saran dokter yang akrab disapa dr. TJ ini. Selanjutnya, klinisi harus me­laku­­kan analisis atas hasil SMBG terstruktur yang telah dilakukan pasien. Analisis yang dilakukan adalah Glycemic Pattern Analy­sis (GPA). GPA dilakukan empat langkah: Pertama, mengidentifikasi abnormalitas glikemik. Kedua, menentukan pola waktu dan frekuensi kejadian abnor­malitas. Ketiga, mencari penyebab terjadinya abnormalitas glikemik. Keempat, meng­ambil tindakan yang harus dilaku­kan terhadap pasien. Tindakan ini bisa memperbaiki pola makan atau mengubah tera­pi medika mentosa.

Pada acara yang merupakan bagian dari rangkaian Diabetes, Obesity, and Cardiovascular Link (DOC Link) ke-5 ini juga diada­kan pembahasan kasus yang di­la­k­ukan secara interaktif. Salah satu kasus yang dilontarkan dr. TJ adalah tentang pasien diabe­tes yang menggunakan insuli­n basal sekali sehari dan mendapatkan metformin dua kali sehari. Permasalahan yang harus diselesaikan peserta adalah bagaimana jenis regimen SMBG terstruktur yang harus diber­laku­kan pada pasien tersebu­t.

Menjawab permasalahan tersebut, seorang peserta me­nga­t­a­kan bahwa SMBG terstruktur bagi pasien tersebut harus dilakukan pada pagi hari sebelum makan dan 2 jam se­su­da­­­­h makan. Hal ini dibenar­kan oleh dr. TJ. Pasien ini hanya meng­gunakan regimen metfor­min dan memiliki glucometer. “Logikanya, pasien harus me­la­ku­­­kan pemeriksaan pre-break­fast setiap hari, preprandial dan postprandial, atau ditambah bed time.” Beliau menam­bah­kan, ”Jika menggunakan insul­in basal maka evaluasi dilaku­kan dengan melihat kadar glukosa puasa (fasting glucose).” Jika pasien menggunakan metformin saja tanpa insulin basal maka kadar glukosa pagi hari sebelum makan sangat penting untuk direk­am karena kadar glu­kos­a pagi hari tersebut mencermin­kan mekanisme kerja metformin di hati. “Bapak Ibu dipersilahkan me­mili­h atau menciptakan jenis SMBG terstruktur yang logis,” kata dr. TJ.

Pemeriksaan glukosa darah  di atas harus dilakukan minimal tiga hari berturut-turut atau jika memungkinkan lima atau tujuh hari secara terus-menerus. Hasil rekaman dicatat pada logbook glukosa berupa angka dan grafik. Hasil rekaman tersebut akan me­nen­tu­kan perubahan terapi medika men­to­sa bagi pasien. ♦ (hidayati)

 
Banner