Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Penyembuh Luka Ajaib Bernama Cadexomer Iodin

 

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) ke-18 berfokus pada perkembangan teknologi bedah terkini,” ungkap dr. Agi Satria Putranto, SpB(K)-BD selaku Ketua Panitia. Penanggung jawab sesi ilmiah, Dr. Chaidir Arif Mochtar, SpU, PhD, meng­amini hal tersebut. Ia menam­bah­kan, panitia sengaja mendatangkan para pakar dari dalam dan luar negeri untuk memberikan wawasan mengenai kebaruan teknologi bedah dalam bentuk seminar dan workshop. Adapun workshop diadakan pada 29 Juni 2011, bertempat di OK IBP serta lantai 8 dan lantai 6 public wing RSCM. Sedikitnya empat jenis workshop diselenggarakan oleh panitia dengan tema yang sanga­t menarik. Divisi Bedah Vaskular mengulas topikmengenai akses vaskular untuk tindakan hemodialisis, kemoterapi, jalur nutrisi, dan endovaskular, sementara divisi Bedah Onkologi menyajikan workshop teknik core biopsy. Dua tema lainnya mencakup manajemen pera­watan luka dan penggunaan klinis darah yang diselenggarakan oleh Indonesian Clinical Training and Education Center (ICTEC).

1108-Keg-Cadexomer-KalbeDalam kaitannya dengan manajemen perawatan luka, PT Kalbe Farma mengeluarkan produk untuk membantu ter­capai­­nya perawatan luka yang higienis dan terpercaya. Produk tersebut adalah Iodosorb® berisi 0,9% cadexomer iodin yang diindi­kasikan sebagai terapi topik­al pada luka eksudatif kroni­k, dan allevyn® yang merupa­kan pembalut luka yang terdiri dari lapisan lembut, berbahan poliuretan hidrofilik dengan tebal sekitar 6 mm, yang terikat dengan lapisan poliuret­an semipermeabel.

Allevyn® efektif dalam me­nahan air ataupun eksudat luka dan mampu mencegah pasase mikroorganisme. Ketika di­aplikasi­kan pada luka yang eksu­datif, jenis pembalut ini akan menyerap kelebihan cairan dengan tetap mempertahankan kelembaban permukaan kulit sehingga tercipta lingkungan kondusif bagi proses penyembuhan luka. Produk ini diindi­kasi­kan untuk luka eksudatif dengan kedalaman yang terbatas, misalnya ulkus pada kaki dan luka bakar minor.

Berbicara tentang cadexo­me­r iodin, iodin sendiri sebenarnya sudah lama digunakan sebagai agen antibakteri dan desinfektan kulit. Sejak ditemukan tahun 1811, iodin dipergunakan secara luas untuk mengobati luka. Bentuk aslinya ketika itu membuat iodin terasa nyeri dan menimbulkan iritasi bila diapli­kasi­kan pada luka. Iodin juga dapat mengganggu fungsi sel yang terlibat dalam penyembuhan luka serta memiliki efek samping berupa diskolorasi kulit. Sejak tahun 1940, ditemu­kan formulasi iodin yang baru, lebih aman dan nyaman ketika dipakai, yaitu iodofor. Hal itu ka­rena iodofor dapat melepas­kan iodin secara bertahap dalam jumlah kecil, serta dapat ber­ikatan dengan protein, asam lemak, dan nukelotida. Iodofor memiliki aktivitas spektrum luas melawan bakteri, mikobakteri, jamur, dan protozoa.

Tergolong dalam iodofor polimerik topikal, cadexomer iodin merupakan antimikrobial lepas lambat yang mampu me­nyerap cairan, serta membuang eksudat luka, pus, dan debris, sembari mempertahan­kan kadar iodin yang sesuai pada dasar luk­a. Satu gram cadexomer iodin diperkirakan mampu menyerap sebanyak 7 mL cairan. Iodin dilepas secara perlahan untuk membunuh mikroorga­nis­me dan membentuk gel protektif di atas permukaan luka.

Cadexomer iodin aman diguna­kan bagi sebagian besar pasien, tentunya yang tidak alergi terhadap iodin, dengan cakup­an antimikroba yang luas, meliputi bakteri, mikobakteri, jamu­r, protozoa, serta Staphylo­coc­cus aureus resisten metisilin (MRSA). Pada berbagai studi, cadexomer iodin terbukti efektif menurunkan kuantitas MRSA dan Pseudomonas aeruginosa.

Pada sebuah studi mengenai efektivitas cadexomer iodin dalam mempercepat penyembuhan ulkus stasis vena, 75 pasien dilibatkan dan secara acak dibagi ke dalam dua grup. Grup perlakuan mendapat cadexomer iodin (n=38) sedang­kan grup kontrol mendapat tera­pi standar, yang terdiri dari kompres basah dan kering meng­gunakan normal salin (n=37). Hasilnya, penyembuhan ulkus dua kali lebih cepat pada grup yang menggunakan cadexom­er iodin (p=0,025). Ulkus yang diterapi dengan cadexomer iodin tampak memiliki lebih sedikit eksudat, pus, debris, dengan rasa nyeri minimal, serta pembentukan jaringan granulasi yang lebih cepat. Selain luka bakar lokal derajat ringan pada area luka, tidak terdapat efek samping cadexomer iodin lain yang tercatat selama studi ini.

Cadexomer iodin tersedia dalam bentuk bubuk, salep, dan pembalut luka. Tidak seperti pembalut luka berisi povidon iodin lainnya yang langsung menumpahkan iodin seketika sejak diaplikasikan, pembalut luk­a berisi cadexomer iodin tidak menyebabkan efek sam­pin­g sitotoksik pada luka karena iodin dilepaskan secara perlahan. Pembalut luka cadexomer iodin umumnya dipakai untuk perawatan luka kronis yang sulit sembuh, misalnya ulkus pada kaki (baik vena, arterial, maupun keduanya), ulkus eksudatif, ulkus yang terbentuk akibat penekanan, dan luka yang terinfek­si (diberikan bersama dengan antibiotik sistemik).

Konsentrasi praktisi medis yang semakin meningkat pada resistensi antibiotik menjadi keungg­ulan lain dari cadexomer iodin. Sangat jarang terdengar laporan resistensi mikroba terhadap iodin padahal substansi ini sudah digunakan sejak lebih dari 150 tahun yang lalu.Namun demikian, iodin lepas lambat pad­a cadexomer iodin juga memiliki efek samping potensial sehubungan dengan penyerapan iodin tersebut. Oleh karena itu, fungsi tiroid pasien harus dimo­nitor selama menggunakan produk ini. Selain itu, iodin sebaik­nya tidak digunakan bersamaan dengan antiseptik merkurial, seperti merkurokrom. Iodin juga dapat berinteraksi negatif dengan litium sehingga penggunaannya harus diawasi pada pasien yang diberikan litium secara berulang. ♦ (Olga)

 
Banner