Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Kulit Sensitif, Masalah dan Penanganannya

 

Kulit sensitif adalah kondisi yang sering dikeluhkan oleh banyak orang di masyarakat. Sebanyak 40% dari masyarakat mengeluh kulit sensitif dan se­tengahnya tidak menunjukkan gejala objektif. Sebanyak 50% dialami wanita, 40% dialami pria, dan  sampai dengan 10% termasuk “sangat sensitif”. Sering kali, sebagai dokter kita tidak mempermasalahkan hal tersebut dan hanya mengobati apabila terjadi gejala yang sa­nga­t mengganggu, yang membawa pasien ke dokter. Padahal, kulit sensitif tersebut dapat ditangani dengan pera­wa­tan yang benar dan penatalaksaan yang tepat, sehingga akibat lebih lanju­t dari kulit sen­siti­f tersebut tidak terjadi. Dalam Simposium bertema “Sensitive Skin” yang diselenggarakan dalam Kongres Nasio­nal XIII Perdoski di Novotel Manado Convention Center pad­a 24 Juni 2011, dibahas oleh para pakar mengenai hal ter­sebu­t. Simpo­sium yang dipimpin oleh dr. Lukman Hakim,SpKK(K) ini mem­bahas “Sensitive Skin Pro­blems and Current Treat­ment” yang dibawakan oleh Prof. DR. dr. Retno W. Soebaryo, SpKK(K). Materi  selanjutnya adalah “Non-irrita­nt Cleansing Products” yang dibawakan oleh dr. Santosa Basuki, SpKK(K). Kedua topik tersebut telah mem­­bu­ka suatu dimensi baru me­ngen­ai suatu kondisi kulit yang sering ada pada kulit sensiti­f.

Sebenarnya apa yang di­mak­­su­d dengan “kulit sensitif” yang sering terdengar di masya­rakat tersebut? Dalam topik pertama, walaupun saat ini belum ada konsensus me­ngen­ai de­finisi kulit sen­sit­if, Prof. Retno meng­ungkapkan bahwa kulit sensitif  adalah kon­di­si yang secara subjektif merupakan suatu hipereaktivitas kulit terhadap faktor lingkungan. Definisi dari sumber lainnya an­ta­ra lain pengu­rangan toleransi terhadap penggunaan jangka panjang kosmetik dan perleng­kapan mandi/produk kulit lainnya. Terminologi dibagi dua: (1) Subjektif (tipe A) tanpa gejala objek­tif, misalnya pasien merasa kulit perih dan terbakar, tetapi kulit terlihat normal secara kasat mata; dan (2) Objektif (tipe B) yang terliha­t secara kasat mata (eritema, kering, dll). Kulit sensitif tersebut dipengaruhi oleh jenis kelamin (wanita lebih sering), usia (semakin tua kulit semakin kering), tipe kulit (kulit kering lebih sering meng­alami sensitif), dan ras.

Kulit sensitif sering kali ber­hubungan kerusakan barrier yang diperankan oleh stratum korneum, penyebab terjadinya kerusakan barier tersebut ada­lah sinar mata­ha­ri (UV), dingin, infeksi (bakte­ri, jamur, virus), zat kimia, serta pening­katan usia. Hal tersebut menyebabkan kerusakan lipid barrie­r alami pad­a keratinosit di stratum korne­um dan kehilangan cairan. Kerusakan barrier tersebut me­nyebabkan terjadinya pera­dang­­an akibat pengeluaran mediator peradangan (hipereaktivitas imun), yang pada akhirnya me­nye­babkan rangsangan gatal (mening­katnya respon sensorik). Gatal tersebut akan menimbul­kan refleks menggaruk. Lama perbaikan/ reparasi dari stratum korneu­m tersebut berbeda-beda sesuai usia, orang dewasa perbaikan terjadi setelah 12 jam, denga­n total 3 hari, untuk usia > 75 tahun akan sembuh komplit setelah 1 mingg­u.

Prof. Retno mengungkapkan terdapat tes untuk mengetahui kulit sensitif, antara lain dengan melakukan sting test dengan 10% asam laktat pada salah satu lipatan nasolabial, atau cara lainnya denga­n tes kosmetik pad­a daerah 2 cm later­al mata, selama 5 hari. “Dapat juga dilakukan di belakang telinga untu­k alasan kosme­tik,” lanjut Prof. Retno. Kulit sensitif se­rin­g dikaitkan dermatitis atopi/kulit atopi/kulit kering karena sama-sama terjadi kerusakan barrier kulit dan kesamaan beberapa gejala, seperti terjadi intoleransi terhadap wool, logam, dan gatal saat berkeri­ngat.

Penatalaksanaan kulit sen­sit­i­f ini merupakan tantangan ter­sendiri, karena membutuh­kan waktu lama, sering adanya gejala yang tidak terlihat, dan pemilihan perawatan dengan bahan yang normal masih dapat menyebabkan masalah .Tata laksana yang paling utama adalah dengan perawatan kulit dasar, yaitu dengan memakai sabun yang lembut dan pelembab /mosturizer “oil in water”. Apa­bila terdapat dermatitis, dapat diberi­kan steroid yang tidak lebih dari 2 minggu dan hindari penyebab apabila terdapat dermatitis kontak. Pelembab dapat mempercepat perba­ikan barrier kulit yang rusak. Tipe dari pe­lem­bab yang baik adalah “Oklusif” (lapisan lipid) yang menjaga lapisan kulit mencega­h kehi­lang­an cairan lebih jauh dan “Humektan” yang dapat meng­absorpsi cairan/kelembaban dari sekita­r kulit. Quote penutup terak­hir dari  Prof. Retno untuk pe­nanganan kulit sensitif: “Perawatan kulit dasar adalah suatu keharusan !!!!”.

Dalam topik selanjutnya, dr. Santosa membahas mengenai cleanser/ sabun yang tidak meng­­irita­si kulit. Sabun merupakan sesuat­u yang setiap hari dipakai, yang berfungsi untuk membersihkan tubuh/wajah/ rambut. Cleanser umumnya mengandung surfaktan, suatu emulsifier yang membersihkan kotoran, minyak, dan mikroorganisme dari kulit. Bentuk yang berkembang sabun batang, cair, foam, gel, dan scrub. Secara umum cleanser mengandung surfaktan sebagai pembersih, stabilizer, parfume, humektan, lipid/oil sebagai oklusi dan pe­lem­­bab, dan penambahan baha­n lain­n­­ya. Efek jangka pendek cleanser pada kulit adalah efek kering, kehilan­gan protein, serta lipid sebagai barrier kulit. Efek kumulatif akibat penggunaan berulang antar­a lain kulit kering, eritema, pecah-pecah, atau gatal.

Terdapat dua macam sur­faktan jenis klasik (harsh surfactants) dan surfakan yang lebih baru (mild surfac­tants). Semakin berat efek surfaktan semakin tinggi risiko pembengkakan stratum korneum sehingga lebih tinggi kemungkinan untuk ter­jadi iritasi. Yang termasuk harsh surfactants antara lain SLS (sodiu­m lauryl sulfate), Na soap (Na laurate/cocoate), dan Alkyl phosphates. Dari penelitian yang ada surfaktan baru (mild sufactants) mempunyai efek yang lebih aman dibandingkan surfaktan lama, di antaranya SLES (sodium laury ether sulfate), SCI (sodium cocoyl/lauryl isethioate), CAPB (cocamido propyl betaine), Alkyl sulfosuccinates, dan Alkyl sarcosinates. Di akhir pem­bi­­­caraannya, dr. Santosa me­negas­kan kembali pentingnya para dokter menge­ta­hui kandungan yang ada dalam produk yang kita berikan pada pasien. Bagaimana memi­lih suatu produk sabun yang tepat dan teliti dalam meliha­t kandun­gannya akan menunjang keberhasilan dari perawatan kulit pasien yang cenderung sensitif.             

Oleh karena permasalahan tersebut, Stiefel menyediakan produ­k yang dapat menjawab permasa­lahan kulit sensitif atau kering yang digunakan sebagai pe­ra­watan kulit dasar, yaitu PHYSIO­GELTM. Produk ini me­ngan­dung keramide dan lipid psiologis lainnya sehingga dapat melindungi lapisan kulit, tidak me­ngandung pewarna, parfume atau bahan lain yang bersifat komedogenik. Terdapat bebe­rap­a jenis, yaitu PHYSIO­GELTM Cream dan Lotion seba­gai moisturiz­er/pelembab un­tu­k kulit kering dan sensitif; serta Al Cream yang dapat menurunkan kemerahan, kekeringan, dan mengura­ngi rasa gatal pada kulit sensitif, serta dapat menjadi alternatif perawatan kulit yang rusak tanpa kandungan kortikosteroid/ imunomodulator lain. Ada pula PHYSIOGELTM Cleanser yang mengan­dung mild surfactants SCI (Sodium Cocoyl Isethionate), yang telah dijelaskan sebelumnya sebagai pilihan kandungan sabun yang baik. Siefel juga menyediakan Oilatum® Cleansing Bar, pem­ber­sih untuk kulit kering dan sen­sitif yang mengandung mi­ne­­r­al oil yang dapat melembabkan dan melindungi kulit. ♦ (Novi)
 
Banner