Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Carbohydrate Counting, Strategi Jitu Kendalikan Gula Pasien DM

 

Sejumlah klinisi pemerhati diabe­tes tampak memenuhi ruangan simposium di Hotel Novotel, Mangga Dua, Jakarta, pada 9-10 Juli, yang lalu. Mengusung tema “Changing Paradigm”,  penyelenggaraan 5th Diabetes, Obesity, and Cardiovascular Link (DOCLink) memang ditujukan sebagai wadah diskusi mengenai kontroversi seputar pencegahan dan penanganan DM dalam kaitannya dengan obesitas dan kardiovaskular dengan tidak hanya berbasis pada pendapat ahli, tetapi juga dari bukti yang sahih.

1108-Keg-Carting-SOHOSimposium ke-9 dengan topik Carbohydrate counting menghadirkan dua orang pakar endokrinologi dengan segudang pengalaman menangani pasien DM. Yang pertama ialah Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE, FINASIM, Guru Besar Endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Direktur Institut Diabetes Indonesia (INDIN­A), yang berbicara me­nge­nai Basic Carbohydrate Counting for Primary Physicians. Yang kedua ialah Prof. Dr. dr. Ahmad Rudianto, SpPD-KEMD, FINASIM, Guru Besar Endo­kri­nologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, yang akan melanjutkan ulasan topik Sidartawan dengan materi berjudul Advace Carbohydrate Counting.

“Hitung karbohidrat atau carbohydrate counting merupa­kan cara untuk merencanakan diet pasien diabetes melitus (DM) dengan menjaga kadar gul­a darah sesuai target,” kata Sidartawan mengawali sesinya. Sebagai salah satu dari tiga sumber energi utama dari makanan (diikuti protein dan lemak), keseimbangan antara karbohidrat yang dimakan dan kadar insulin menentukan seberapa besar pe­ningkatan glukosa darah setelah makan. Dengan demikian, de­nga­n mempertahankan ke­seimban­gan tersebut, kadar gula darah akan tetap terjaga pada rentang target yang diinginkan.

Anggota berbagai organi­sasi diabetes internasional, terma­suk International Diabetes Federation (IDF) dan American Diabetes Association (ADA) ini pun menekankan bahwa pendekatan Carbohydrate Counting (Carbing) merupakan metode yang praktis dalam perencanaan makan pasien DM. Hal itu disebabkan prioritas dalam metode ini ialah penghitungan karbohiratnya, sehingga dapat membantu mencapai target glukosa dan mencegah komplikasi diabetes itu sendiri. Dengan hitung karbohidrat, pasien dapat me­milih jenis dan jumlah makanan yang hendak dimakan. Metode ini juga lebih mudah dibanding­kan metode perencanaan diet lainnya. 

“Karbohidrat itu tidak selalu nasi!” tegas Sidartawan lagi. Selain nasi, makanan yang mengan­dung karbohidrat juga meliputi biskuit, roti, kraker, kacan­g-kacangan, sereal, buah, pasta, susu (termasuk susu ke­delai), yogurt, jagung, kentang, sayuran, kue, gula, selai, es krim, dan lain-lain.Ia pun melanjut­kan, “Buah juga bisa termasuk dalam sumber karbohidrat. Oleh karena itu, porsi besar salad ataupun sayuran yang dimasak lainnya juga harus diikutkan dalam hitung karbohidrat. Hal itu yang sering tidak disadari oleh pasien.” Beberapa ma­kan­an, misalnya pizza, merupakan kombinasi antara karbohidrat, protein, dan lemak. Jumlah kebutuhan karbohidrat ditentukan berdasarkan berat badan, tingkat aktivitas, obat diabetes, dan kadar glukosa darah target.

Mantan Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PER­KENI) ini pun kemudian meng­ingat­kan bahwa sebagai sumber utama energi untuk aktivitas tubuh, karbohidrat sudah mulai diubah menjadi glukosa dalam 10 menit setelah makan. Dalam 2 jam, 100% karbohidrat yang dimakan telah diubah sepenuhnya menjadi glukosa. Oleh karena­nya, dalam hitung kar­bohid­rat, jumlah total lebih penting daripada sumber karbohidrat. “Diabetisi sering mendapat larangan banyak mengenai makanan yang boleh dikonsumsi. Misalnya untuk nasi, hanya boleh beras merah, atau beras khusus diabetes yang tidak sedap dipandang mata. Padahal, jenis makanan tersebut tetap mengandung karbohidrat,” ulas satu-satunya dokter Indonesia yang memperoleh gelar Fellow of the American College of Endocrinology (FACE) ini.

Langkah-langkah hitung karbohidrat kemudian diuraikan dengan apik oleh Sidartawan. Pertama, timbang makanan yang hendak dimakan. Maksud­nya, bila hendak makan pisang, berat pisang yang diperhitung­kan adalah benar-benar berat buah pisang tersebut, tidak termasuk berat kulitnya. Kedua, mengukur makanan dengan sendok dan cangkir. Misalnya saja, beras ? cangkir, atau gula 1 sendok makan, dan sebagainya. Ketiga, memperhatikan label makanan serta mengamati baik-b­aik total karbohidratnya. Se­bagai contoh, total karbohidrat sebuah susu diabetes per penyajian, Dianeral® adalah sebesar 34 gram. Data ini tertera jelas pada bagian nutritional fact. Terakhir, lihat macam-macam makanan dan resep, tentukan tu­­juan atau target, dan sesuai­kan total karbohidrat yang ter­ter­a pada label makanan de­ngan jumlah yang dibutuhkan. Contohnya, seorang pengidap diabetes dengan total kalori yang dibutuhkan berdasarkan berat badannya 1300 kkal. Untuk menghitung kebutuhan karbohidrat, rumus praktisnya adalah total kalori dibagi de­ngan 8, mengingat kebutuhan karbohidrat mencakup setengah dari seluruh total kalori dan per kalori setara dengan seperempat gram karbohidrat. Dengan demikian, kebutuhan karbohidrat pasien diabetes ini adalah 162 gram. Angka ini kemudian dibagi sesuai dengan frekuensi makan pasien. Bila pasien makan tiga kali maka jumlah karbohidrat per kali makan yang sesuai kira-kira 55 gram.“Jadi, pasien ini boleh saja diberikan susu diabetes tadi (Dianeral®) di­tamb­ah teh manis dengan gula sekitar 18 gram,” simpul Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) ini.

Melanjutkan Sidartawan, Ahmad mengulas keuntungan pendekatan “Carbing” dalam perencanaan makanan ialah tidak mengubah pola atau budaya makan diabetisi sehingga dapat meningkatkan kenyamanan, kualitas hidup, dan kepatuhan berobat mereka. Keuntungan-keuntungan ini pad­a akhirnya akan sangat membantu pengendalian kadar glukosa darah melalui perencanaan makan. 

Dengan menerapkan meto­de hitung karbohidrat, kadar gula darah pasien diabetes tetap dapat dipertahankan sesuai targe­t dengan memperhatikan kualitas hidup pasien, seperti yang terus ditekankan oleh kedua pembicara ini, patient with diabetes mellitus can live as anybody else. ♦ (Olga)

 
Banner