Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Terapi Hiperkalemia pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik

 

Hiperkalemia lazim terjadi pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) ‘penyakit ginjal kronik’ yang mendapat terapi ACEI. Terapi hiperkalemia pada pasien CKD harus mengikuti protokol tertentu yang didasarkan pada kondisi pasien. Prof. Siribha Changsirikulchai, MD, dari Thailand memaparkan terapi hiperkalemia pada pasien CKD pre-hemodialisis. Pema­paran beliau dilakukan di hadap­an peserta Konferensi Kerja Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam ke-12, di Batam, 10 Juni 2011.

1108-Keg-hiperkalemia-DIPAHiperkalemia terjadi karena penurunan ekskresi potasium akibat terganggunya fungsi ginjal (glomerulopati), diet harian, dan penggunaan ACEI atenolol, demikian Prof. Siribha. Untuk itu, pada penderita diberikan terapi awal berupa 10% kalsium glukonat, 50% glukosa dan in­sul­in reguler, kation resin peng­ganti secara oral, dan follow up kadar potasium. Setelah diberi­kan terapi awal selama 24 jam, penderita mengalami penurunan potasium menjadi 4,5 mEq/L. Selanjutnya, diberlaku­kan terapi jangka panjang untuk mencegah hiperkalemia dan di­resepkan katio­n resin pengganti.

Salah satu kation resin peng­ga­nti yang ada adalah calcium exchange resin. Komposisi pre­parat ini adalah calcium polystyrene sulfonate yang me­ngandu­ng 7,0-9,0 kalsium. Satu gram preparat ini ditukar dengan 53-71 mg (1,36-1,82 mEq/g) potasium in vitro (larutan KCL). “Calcium polystyrene sulfonate mengandung mikropartikel yang lebih rendah, yakni kurang dari 5 mikron (kurang dari 0,1% mikropartikel),” kata Prof. Siribha. Kelebihan lainnya, preparat ini dapat diberikan secara oral atau rektal.

Pada bagian lain, Prof. Dr. Rully Roesli, SpPD-KGH, membawakan presentasi yang ber­jud­ul ”Clinical Trial: Efek Pema­kai­an Calsium Polystyrene Sulphonate untuk Menurunkan Hiperkalemia pada Penderita yang Belum dan Sudah Men­jalani Hemodialisis. Dalam presen­tasi tersebut beliau mene­rangkan prinsip penatalaksana­an hiperkalemia. Penatalak­sanaan hiperkalemia meliputi tiga prinsip, yaitu stabilisasi membran sel untuk mencegah gangguan irama jantung yang mematikan (pemberian kalsium atau larutan natrium hipertonis), meningkatkan asupan kalium ke dalam sel (pemberian glukosa dan insulin, NaHCO3, b2- ad­re­ner­­gic agonis), dan mening­katkan pengeluaran kalium dari tubuh (hemodialisis atau peri­ton­eal dialisis, diuretik, dan cation exchange resin).

Kation resin pengganti adalah anion kompleks yang tidak dapat diserap dan dimetabolisme. Kation ini biasanya diikat oleh sulfonat ke rangka polistiren yang  diseimbangkan dengan suatu kation yang dapat ditukar dan diserap. Kation ini dapat menukar ion natrium atau kalsium yang terikat dengan katio­n, termasuk kalium. Kation ini bekerja dengan proses kumula­tif melalui saluran cerna, mengganti ion kalium kemudian dikeluarkan melalui feses.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Rully memaparkan peng­alamannya menggunakan kation resin pengganti (Kalitake) dalam sebuah penelitian. Pene­litian prospektif eksperimental terhadap seluruh pasien gagal ginjal terminal (GGT) yang menjalani hemodialisis di klinik ginjal Bandung (n=89) pada  Januari—Februari 1996. Jumlah pasien GGT yang disertakan dalam penelitian hanya 23 dari 89 (26%) orang yang terdiri dari 17 pria dan wanita, berumur 23-68 tahun dengan rerata 49,5 + 12,7 tahun. Penelitian tersebut mendapatkan data sebagai be­rikut: rerata + SD kadar kalium darah sebelum pemberian Kalitake® (Pra-1) adalah (5,90 + 0,99)mEq/L. Kemudian, satu minggu setelah pemberian obat dengan dosis 3x5 gr/hari (Pasca-1) rerata + SD kadar kalium darah menjadi (5,13 + 1.07) meq/L. Selanjutnya, dua minggu (Pasca-2) setelah pemberian obat dengan dosis 1x5 gr/hari kadar kalium darah menurun menjadi (4,75 + 0,61)mEq/L. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa  dibandingkan  dengan kadar kalium 2 minggu sebelum penelitian didapatkan penurunan kadar kalium yang secara statistik bermakna pada pasca-1 (p=0,0049) dan pada pasca-2 (p=0,0001).

Masih menggunakan re­gime­n yang sama, pada 2011, Prof. Rully melakukan penelitian terhadap pasien gagal ginjal kroni­s yang belum menjalani dia­lis­is. Penelitian yang dilaku­kan terhadap 56 pasien mendapatkan data: pada kelompok terapi kadar potasium 0,74; natriu­m 1,21; kalsium -0,17; fosfor 0,02; dan magnesium 0,12. Sedangkan pada kelompok kontrol kadar potasium 0,04; natrium 0,62; kalsium 0,05; fosfor -0,03; dan magnesium 0,001. Masing-masing dengan nilai P <0,001; P=0,250; P=0,118; P=0,789; dan P=0,004. 

Dengan demikian disimpul­kan bahwa pemberian Kalitake ® dapat menurunkan kadar kalium darah pada penderita gagal ginjal yang belum maupun suda­h menjalani dialisis. ♦ (hidayati)

 
Version:1.0 StartHTML:0000000193 EndHTML:0000013413 StartFragment:0000009141 EndFragment:0000013377 SourceURL:file:///MAC%20HD/Users/g5/Desktop/Website%20Agustus%202011/upload-agustus'11

Pada bagian lain, Prof. Dr. Rully Roesli, SpPD-KGH, membawakan presentasi yang ber­jud­ul ”Clinical Trial: Efek Pema­kai­an Calsium Polystyrene Sulphonate untuk Menurunkan Hiperkalemia pada Penderita yang Belum dan Sudah Men­jalani Hemodialisis. Dalam presen­tasi tersebut beliau mene­rangkan prinsip penatalaksana­an hiperkalemia. Penatalak­sanaan hiperkalemia meliputi tiga prinsip, yaitu stabilisasi membran sel untuk mencegah gangguan irama jantung yang mematikan (pemberian kalsium atau larutan natrium hipertonis), meningkatkan asupan kalium ke dalam sel (pemberian glukosa dan insulin, NaHCO3, b2- ad­re­ner­­gic agonis), dan mening­katkan pengeluaran kalium dari tubuh (hemodialisis atau peri­ton­eal dialisis, diuretik, dan cation exchange resin). 

Kation resin pengganti adalah anion kompleks yang tidak dapat diserap dan dimetabolisme. Kation ini biasanya diikat oleh sulfonat ke rangka polistiren yang  diseimbangkan dengan suatu kation yang dapat ditukar dan diserap. Kation ini dapat menukar ion natrium atau kalsium yang terikat dengan katio­n, termasuk kalium. Kation ini bekerja dengan proses kumula­tif melalui saluran cerna, mengganti ion kalium kemudian dikeluarkan melalui feses.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Rully memaparkan peng­alamannya menggunakan kation resin pengganti (Kalitake) dalam sebuah penelitian. Pene­litian prospektif eksperimental terhadap seluruh pasien gagal ginjal terminal (GGT) yang menjalani hemodialisis di klinik ginjal Bandung (n=89) pada  Januari—Februari 1996. Jumlah pasien GGT yang disertakan dalam penelitian hanya 23 dari 89 (26%) orang yang terdiri dari 17 pria dan wanita, berumur 23-68 tahun dengan rerata 49,5 + 12,7 tahun. Penelitian tersebut mendapatkan data sebagai be­rikut: rerata + SD kadar kalium darah sebelum pemberian Kalitake® (Pra-1) adalah (5,90 + 0,99)mEq/L. Kemudian, satu minggu setelah pemberian obat dengan dosis 3x5 gr/hari (Pasca-1) rerata + SD kadar kalium darah menjadi (5,13 + 1.07) meq/L. Selanjutnya, dua minggu (Pasca-2) setelah pemberian obat dengan dosis 1x5 gr/hari kadar kalium darah menurun menjadi (4,75 + 0,61)mEq/L. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa  dibandingkan  dengan kadar kalium 2 minggu sebelum penelitian didapatkan penurunan kadar kalium yang secara statistik bermakna pada pasca-1 (p=0,0049) dan pada pasca-2 (p=0,0001).

Masih menggunakan re­gime­n yang sama, pada 2011, Prof. Rully melakukan penelitian terhadap pasien gagal ginjal kroni­s yang belum menjalani dia­lis­is. Penelitian yang dilaku­kan terhadap 56 pasien mendapatkan data: pada kelompok terapi kadar potasium 0,74; natriu­m 1,21; kalsium -0,17; fosfor 0,02; dan magnesium 0,12. Sedangkan pada kelompok kontrol kadar potasium 0,04; natrium 0,62; kalsium 0,05; fosfor -0,03; dan magnesium 0,001. Masing-masing dengan nilai P <0,001; P=0,250; P=0,118; P=0,789; dan P=0,004. 

Dengan demikian disimpul­kan bahwa pemberian Kalitake ® dapat menurunkan kadar kalium darah pada penderita gagal ginjal yang belum maupun suda­h menjalani dialisis. u

(hidayati)
 
Banner