Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Perawatan Luka, Kunci Penanganan Kaki Diabetik

 

Diabetes tidak hanya menjadi masalah di masa kini, tetapi juga di masa mendatang,” tegas dr. Raflis Rustam, SpB, SpBV ketika menjadi pembicara materi “Diabetic Foot Care” dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKAB­I) ke-18. Dalam acara yang diselenggarakan di Hotel ShangriLa, Jakarta, 30 Juni-2 Juli, itu dr. Raflis mengemuka­kan bahwa prevalensi diabetes kian meningkat. Sedikitnya 189 juta penduduk dunia mengidap diabetes saat ini, dengan perkiraan kenaikan angka kejadian secara global seban­yak 72% pada 2025.

1108-Keg-PIT-IKABI-BSNAhli bedah vaskular Fakultas Kedokteran Univer­sitas Andalas, Padang, ini kemudian melanjutkan, “Yang menjadi permasalahan adalah kadar glukosa darah yang tinggi pada diabetes dapat merusak saraf, ginjal, mata, dan pembuluh darah, serta menurunkan kemampuan tubuh me­lawan infeksi.” Sekitar 70% diabetisi akan mengalami neuropati perifer dan 25% di antaranya akan menderita kaki diabetik. Hal itu di­kare­na­kan kerusakan pada sistem saraf (neuropati) me­nye­bab­kan gangguan sensasi pa­sien diabetes terhadap kakinya sendiri sehingga terjadi pene­kanan abnormal pada kulit, tulan­g, dan sendi kaki saat pasien berjalan. Selain itu, terjadi pula gangguan sekresi keringat dan produksi minyak yang berfungsi sebagai lubrikan kulit sehingga kulit menjadi kerin­g. Gabungan proses ter­sebu­t akan memicu kerusakan kulit, luka, hingga akhirnya menjadi ulkus diabetikum. Lebih dari setengah kasus luka kaki diabe­tik tersebut akan terinfeksi, membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan terancam meng­­alami amputasi. Data menun­jukkan bahwa 80% amput­asi nontraumatik di Amerika disebabkan oleh kom­pli­­ka­si diabetes. Bahkan, di dunia, setiap 30 detik terdapat minimal satu orang kehilangan ekstremitasnya akibat diabetes, dan 50% pasien akan kembali menjalani amputasi dua tahun setelahnya.

Masih berbicara tentang dat­a, dr. Raflis membandingkan tingkat mortalitas relatif pasca-amputasi akibat diabetes. “Angka mortalitas dalam lima tahun pasca-amputasi mencapai 50%. Angka ini jauh di atas tingkat mortalitas akibat kanker kolorektal (39%), kanker payudara (23%), limfoma Hodgkin (18%), dan kanker prostat (8%),” paparnya. Risiko kematian pa­sien kaki diabetik dalam sepuluh tahun bahkan 40% lebih besar dibanding pasien diabetes tanpa kaki diabetik. Kaki diabetik sendiri dapat bermanifestasi seba­gai selulitis, abses, gangren (basah dan kering), osteo­mielitis, fasiitis dengan nekrosis jaringan, dan penyakit sendi Charcot. 

Oleh karena itu, pencegahan luka kaki diabetik menjadi hal yang sangat penting bagi mana­jem­en komprehensif pasien diabe­tes, terutama melalui pengaw­asan ketat kadar glu­kosa darah dan perawatan kaki. Dokter juga harus cermat me­nge­nali tanda awal kaki diabe­tik dengan melakukan pemer­iksaan kaki setiap pasien datang beroba­t, meliputi pe­me­ri­ksaan pulsasi dan tanda-tanda iske­mia. Dari inspeksi, diama­ti bentuk kaki dan di­periks­a adakah luka pada ujung dan sisi kaki, sela di antara jari-ja­ri kaki, serta seluruh area telap­ak kaki. Bila terdapat ulkus, catat ukur­an, batas, dasar, dan keda­laman­nya; serta terdapat pus atau tidak. Pemeriksaan waktu kembalinya pulsasi perifer (capillary refill time) dan ankl­e brachial index juga harus rutin dilakukan, dilanjutkan denga­n pemeriksaan neuropati, meliputi sensorik (tusukan, getaran, dan termal), refleks, motorik, dan autono­mik. Palpasi denyut pembuluh darah perifer juga penting dilakukan serta menjadi evaluasi prognostik akan keberhasilan tindakan amputasi. Penilaian infek­si juga tidak boleh luput dari pemeriksaan untuk me­nen­tu­kan pilihan antibiotik, ke­pu­tusan drainase atau debridement, serta indikasi amputasi. Pada eks­tre­mitas yang terancam infek­si, harus segera dilakukan tirah baring, rawat ina­p di rumah sakit, debridement, dan diberikan antibiotik spektrum lua­s.

“Di atas semuanya, kunci utama dalam penanganan kaki diabetik adalah perawatan luka,” dr. Raflis menegaskan. Cutimed® Sorbact® menawar­kan berbagai alternatif pera­watan luka karena setiap luka berbeda cara penanganannya. Dalam hal kaki diabetik, berbagai jenis luka yang mungkin terjadi perlu di­ken­­ali untuk memilih jenis pera­­wat­­­an luka yang sesuai. Pada luk­a nekrotik, ter­da­pa­t jaringan yang sudah mati, yang dapat meng­ham­­bat proses penyembuhan. Untuk itu, perlu dila­kukan surgical debridement di­lanjut­kan dengan aplikasi hidrogel agar dapat memberikan kelembapan untuk membantu proses autolitik. Sementara, pada luka terinfeksi, dressing anti­m­ikroba (Cutimed® Sorbact®) diberi­kan meng­ikat bakteri yang me­rupa­kan faktor peng­ham­bat proses penyem­buh­an luka. Pada luka sloughy, terdapat campuran fibrin, pus, debris sel, dan bakteri, sehingga hidrogel dan dressing antimikroba (Cutimed gel®) tepat diberi­kan. Selanjutnya, pada luka granulasi (Cutimed® Siltect®), penanga­nan berdasarkan de­raja­t atau banyaknya eksudat. Diperlukan dressing dengan daya serap maksimal untuk membantu pe­nyembuhan luka dengan tetap mempertahankan kelembapan kulit yang ideal. Terakhir, pada luka epitelisasi, berikan Cutimed hydro® yang memiliki daya proteksi terhadap kulit rapuh dan epitel yang baru terbentuk.

“Dengan tata laksana kaki diabetik secara komprehensif, pasien diabetes pun dapat hidup dengan kualitas yang lebih baik”, simpul Raflis mengakhiri sesinya. ♦ (Olga)

 
Banner