| Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan |
Mulai dengan Metformin, Tetap dengan Metformin
Untuk kelima kalinya, DOC Link atau singkatan dari Diabetes Obesity and Cardiovascular Link diadakan di Jakarta pada 9-10 Juli 2011 lalu di Novotel Mangga Dua. Acara perhelatan akbar di bidang diabetes terbesar kedua setelah Jakarta Diabetes Meeting ini mengangkat berbagai penemuan mutakhir di bidang diabetologi, dan hubungannya dengan obesitas, risiko kardiovaskuler, dan dislipidemia. Tahun ini, DOC Link dirangkai dengan Kongres Nasional PERSADIA satu hari sebelumnya. Diketuai oleh guru besar endokrinologi dan diabetes Indonesia yang tahun ini kembali menjabat sebagai Ketua PERSADIA, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE, acara ini berlangsung dengan amat sukses dan memberikan manfaat yang sangat besar bagi para pesertanya.
Salah satu sesi yang menarik adalah sesi yang menghadirkan Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE; dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD, KEMD, FES; berkolaborasi dengan Prof. Dr. Med. Habil. Peter E. Schwarz dari Jerman. Topik yang dibawakan ketiganya adalah “Defining the evidence-based for managing diabetes” yang mengetengahkan pembahasan ilmiah mengenai metformin. Dilihat dari judulnya, tak salah bila dikatakan bila sesi ini adalah salah satu kunci dalam pertemuan dua hari di Novotel Mangga Dua, sebab memaparkan berbagai EBM yang menjadi standar terapi diabetes di seluruh dunia saat ini.
“Ada begitu banyak obat diabetes saat ini,” ucap Schwarz. “Beberapa pertimbangan yang diperhatikan dalam memilih obat antidiabetes adalah efektif menurunkan kadar glukosa darah, efek ekstraglikemik dapat menurunkan kejadian komplikasi, profil pasien, profil keamanan, tolerabilitas, dan harga yang terjangkau,” ucap pakar diabetes kelahiran Thuringen ini secara gamblang. Schwarz lalu memaparkan bagan yang merangkum semua kebutuhan obat antidiabetes pasien. Secara simpel, metformin memenuhi semua kriterianya. Pengobatan dengan metformin masih menjadi pilihan terbaik hingga saat ini.
UKPDS yang merupakan studi prospektif yang sangat besar mempublikasikan hasil temuannya di mana metformin intensif mampu menurunkan kematian terkait diabetes sebesar 42%, semua kematian sebesar 36%, endpoint terkait diabetes sebesar 32%, infark miokard turun sampai 39%, dan stroke turun 42%. Angka-angka ini jauh superior dibandingkan terapi dengan sulfonilurea dan insulin. Bahkan, pada kombinasi SU dan insulin, risiko stroke malah meningkat hingga 14%. “Beberapa studi kesintasan yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional juga membuktikan bahwa metformin lebih unggul,” ucap Schwarz.Keunggulan lain yang diberikan metformin adalah tidak menyebabkan hipoglikemia dan tidak menyebabkan peningkatan berat badan yang tinggi seperti insulin dan glitazon. “Bila dirangkum, metformin menurunkan risiko peningkatan berat badan dan risiko kanker,” ucap Schwarz. Posisi metformin sampai saat ini tetap memiliki banyak keunggulan dan masih menjadi lini pertama dalam berbagai guidelines, baik PERKENI 2010 maupun guidelines-guidelines internasional. “Obat ini bisa diberikan dalam monoterapi maupun dikombinasikan dengan antidiabetik lain.”
Roy pun menyambung topik yang dikemukakan Schwarz. “Sebagai klinisi yang baik kita harus mampu menerjemahkan artikel penelitian ke pasien-pasien kita,” ungkapnya cerdas. Ada begitu banyak artikel penelitian mengenai obat-obatan diabetes setiap harinya. Bagaimanakah kita menerapkan semua hasil penelitian tersebut kepada pasien-pasien kita? Roy pun memaparkan berbagai evidence mengenai obat diabetes. Arahnya adalah penggunaan metformin. Hasil temuan ini mengatakan metformin pantas tercantum di dalam standar terapi bagi pasien diabetes. Mengapa? Karena hampir semua penelitian menyebut kelebihan metformin dalam tujuannya untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan komplikasi.
Slogan “mulai dengan metformin dan tetap dengan metformin” memang tepat, sebab seiring berjalannya waktu, obat diabetes bukan dikurangi melainkan ditambah dengan antidiabetik lain sehingga disebut terapi kombinasi. Namun demikian, semua kombinasi selalu menyertakan metformin di dalamnya, entah dengan pioglitazon, sulfonilurea, maupun dengan DPP-IV inhibitor. “Penggunaan metformin yang efektif dan aman membuat obat ini menjadi salah satu obat paling populer di dunia saat ini,” ucap Roy. “Terakhir, biaya pengobatan dengan metformin juga relatif terjangkau sehingga dapat selalu dibeli oleh pasien kita,” ucap Roy. Metformin sudah begitu dikenal oleh masyarakat dunia kesehatan dan pasien. Merknya adalah Glucophage, produksi PT Merck Tbk. ♦ (a)







