Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

DOC Link 2011, Diabetes Dapat Kita Cegah Bersama!

 

Lima tahun yang lalu, acara ini pertama kali digelar. Selalu ada sesuatu yang menarik dan sulit diucapkan. Puluhan guru besar endokrinologi dan diabetes berbicara bersama di dalamnya. Para pakar gizi, epidemiologi, dan biokimia pun memberikan pandangannya mengenai diabetes, obesitas, dan dislipidemia. Sementara, ratusa­n peserta dokter dan perusaha­an farmasi selalu memadati penyelenggaraan acara. Itulah simposium tahunan Diabetes, Obesity, and Cardio­vascular Link yang digagas oleh Institut Diabetes Indonesia.

1108-Keg-DOCLink2011Kebetulan sekali tahun ini, 2011, DOC Link kelima di­seleng­garakan berbarengan dengan KONAS PERSADIA (Kongres Nasional Persatuan Diabetes Indonesia ke-VIII) di Hotel Novotel Mangga Dua, Jakarta. Tanggal 8 Juli 2011 adalah hari KONAS PERSADIA, sementara 9 dan 10 Juli 2011 adalah hari untuk DOC Link. Salah satu tokoh penggagas DOC Link, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE, adalah Ketua Umum PERSADIA 2011-2014 menggantikan Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, SpPD, KEMD, dari Malang yang meng­akhiri masa kepengurusannya (2008-2011). Sementara, pada periode 2014-2017, organisasi diabetes Indonesia yang merupakan anggota resmi Interna­tional Diabetes Federation (IDF) ini akan diketuai oleh Prof. Dr. dr. Agung Pranoto, SpPD, KEMD, MSc, dari Surabaya.

Misi yang dibawakan para tokoh di PERSADIA sejak pertama kali didirikan adalah agar seluruh lapisan masyarakat, pasien, dokter, akademisi, peneliti, edukator, dan keluarga pasien turut bersatu di dalam wadah positif untuk melakukan berbagai aktivitas di bidang pen­cegahan, edukasi, peng­obata­n, dan penelitian di bidang diabetes. “Diabetes dapat dicegah” merupakan kalimat lazim yang kita temui dalam keseh­arian, namun pada prak­tik­nya, su­lit sekali menerapkannya da­lam kehidupan nyata. Bahkan, kita sendiri pun sebagai masya­ra­kat ke­sehat­an pun sulit menerap­kan pola hidup sehat berupa diet seim­bang, olah raga teratur, dan melakukan pemeriksaan umum rutin ke pelayanan kesehatan. Umumnya masyarakat Indonesia baru berobat di saat sakit, dan pada diabetes selalu terlambat bila sudah didiagnosis. Pasien harus berkomitmen mengendalikan kadar glukosa darahnya seum­ur hidup dengan berbagai intervensi, baik perilaku, edu­kasi, diet, aktivitas jasmani, dan obat-obatan.

Achmad Rudijanto dalam pembukaan menyebutkan data-data diabetes terbaru di Indone­sia berdasarkan temuan berbagai ahli epidemiologi dan klinisi di tanah air dan berbagai daerah. Guru besar yang pernah menjabat Dekan Fakultas Ke­dokteran Universitas Brawijaya ini juga mengingatkan peran para dokter umum, dokter spesia­lis, dan dokter spesialis konsultan dalam tata laksana terpadu dan lengkap pasien diabetes. Rudijanto yang menjabat Ketua Umum PERSADIA sejak 2008 sampai 2011 telah me­laku­kan banyak program pen­cega­han di bidang diabetes, khususnya edukasi, agar penge­ta­huan mengenai diabetes diketa­hui secara luas oleh dokter, perawat, nutrisionis, edukator diabetes, dan kader-kader lainnya. Puluhan cabang baru organisasi PERSADIA diresmi­kan­nya sejak mulai menjabat 2008. Kini, gerakan di bidang diabetes telah sampai pelosok-pelosok tanah air, rumah sakit, dan puskesmas di seluruh Indonesia.

Pengelolaan diabetes haruslah lengkap, di mana semua komplikasi dan komorbiditas ha­rus menjadi bahan pertimbang­an yang matang. Mana­jemen lipid (kolesterol dan trigeliserida) juga penting karena dislipidemia sering terjadi bersama dengan diabetes. Komplikasi vaskular seperti aterosklerosis juga ber­awal dari sini. Demikian diungkap Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE. Sang ketua umum lantas menjelaskan secara lengkap bagai­mana kita menilai dislipidemia pada pasien diabetes. Beberapa target kolesterol diucapnya berdasarkan ilmu pengetahuan dan guidelines terbaru.

Sidartawan, Rudijanto, dan semua tokoh endokrinologi-diabetes di Indonesia layak disebut sebagai pejuang dalam bidang ini. Tak hanya di bidang keilmu­annya sebagai klinisi di ranah endokrinologi-metabolik-diabetes, namun juga pejuang kesehatan masyarakat yang tak pernah lelah mensosialisasikan mengenai bahaya diabetes denga­n berbagai cara, mulai dari acara sangat ilmiah sampai acara hiburan yang melibatkan masyarakat awam, pasien, dan keluarga pasien. Melalui ahli-ahli ini, edukasi dan pengobatan diabe­tes di Indonesia dapat berjalan sesuai dengan petunjuk dan bukti ilmiah yang sahih.

Sesuai dengan slogan DOC Link tahun ini “changing paradigm” maka paradigma yang salah mengenai pasien diabetes yang ‘mengerikan’ haruslah dibuang jauh-jauh karena ini dapa­t menakuti pasien dan membuat pasien justru ‘lari’ dari pengobatan yang seharusnya dijala­nkan. Mereka dapat me­mint­a nasihat orang yang salah, misalnya dari dukun atau peng­obatan alternatif, dan penyakitnya semakin parah, komplikasi menumpuk. Melalui DOC Link, para peserta semakin yakin apa yang bisa mereka lakukan untuk pasien mereka: pencegahan, baik primer, sekunder, maupun tersier. Selamat untuk penyelenggaraan KONAS PERSADIA dan DOC Link tahun ini. Semoga apa yang sudah diperjuangkan para pakar berdekade-dekade lamanya mencapai target yang diinginkan. ♦ (a) 

 
Banner