| Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan |
Resistensi Terhadap Antibiotik, Tantangan Abad Ini
Antibiotik dan resistansi, dua hal yang tak terpisahkan. Seiring perjalanan waktu, pemakaian antibiotik dalam bidang kedokteran makin luas. Manfaat yang diperoleh pun makin besar. Namun, semakin tinggi pula angka kejadian resistansi terhadap antibiotik. Penyebabnya beragam, mulai dari fenomena alami hingga keteledoran manusia. Seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia, tak luput dari kejadian ini. Oleh sebab itu, dibutuhkan perhatian khusus untuk menyikapi resistansi antibiotik yang makin marak belakangan ini.
Dunia kedokteran Indonesia pun tak tinggal diam menanggapi wacana ini. National Symposium of Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (NS-IARW) yang diselenggarakan rutin setiap tahun menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian para dokter ahli mikrobiologi Indonesia. Oleh karena itu, pada 1 – 3 Juli 2011 dilangsungkan 7th NS-IARW dengan tajuk “Best Practices in Antimicrobial Resistance Mitigation” di Hotel Borobudur, Jakarta. Acara ini dapat terlaksana berkat kerja sama dan dukungan dari Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), Kementerian Kesehatan, World Health Organization (WHO) untuk Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) khususnya Departemen Mikrobiologi, para pembicara, moderator, komite panitia, para peserta, dan lainnya.
Selaku Ketua Panitia, Prof. dr. Amin Soebandrio, SpMK(K), PhD menyampaikan kata sambutan dalam pembukaan yang dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat PAMKI, Prof. dr. Sam Suharto, SpMK dan Ketua IARW, Prof. dr. Usman Chatib Warsa, SpMK serta perwakilan Dekan FKUI. Dalam sambutannya, Prof. Amir menegaskan bahwa acara ini merupakan bentuk komitmen PAMKI lewat IARW dalam “never ending fight against infectious diseases”. Resistansi terhadap antibiotik adalah masalah kesehatan dunia, bukan hanya di Indonesia. Memang, infeksi bukan lagi penyebab kematian nomor satu di Indonesia, tetapi keberadaannya tak dapat disepelekan. Infeksi dan terapinya terus dinamis berkembang dengan resistansi sebagai salah satu buktinya. Semua pihak harus bergandengan tangan lewat kebijakan nasional dalam perang menghadapi masalah infeksi dan resistansi ini.
Beliau berharap lewat rangkaian acara yang terdiri dari 5 workshop, 4 sesi diskusi dengan pakar (Meet The Expert), 2 sesi pleno, 12 sesi paralel, dan 1 diskusi panel dengan para pembicara dari Indonesia dan mancanegara ini, semua peserta yang hadir dapat menyadari pentingnya kerja sama dalam penanggulangan resistansi terhadap antibiotik di Indonesia. Tak hanya itu, peran aktif dari para peserta pun terlihat dari pagelaran 19 poster penelitian selama berlangsungnya simposium ini.Setelah Ketua Panitia, Dirjen Bina Upaya Kesehatan, dr. Supriantoro sebagai perwakilan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, turut memberikan kata sambutan. Beliau menuturkan bahwa antibiotik telah menjadi sebuah “rutinitas” dalam rumah sakit. Nilai bisnisnya lebih tinggi dibandingkan obat simtomatik. Namun, resistansi malah terus berkembang. Oleh sebab itu, pemakaiannya perlu dikendalikan dengan tepat demi efisiensi alokasi biaya kesehatan.
Mendukung hal tersebut, tema yang diusung tahun ini, yaitu “gunakan antibiotik secara tepat untuk mencegah kekebalan kuman”, menyiratkan besarnya kepedulian para pihak terkait untuk memerangi resistansi antibiotik. Semua kontributor timbulnya resistansi antibiotik perlu ditindaklanjuti.
Indikasi antibiotik bagi pasien harus dipastikan dengan jelas oleh dokter. Tidak semua infeksi memerlukan antibiotik. Kalau pun perlu, dokter harus sungguh memperhatikan efektivitas klinis antibiotik yang akan dipakai, baik lewat uji klinik, epidemiologi, maupun pola resistansi kuman. Kualitas antibiotik dan lama pemberiannya harus diperhatikan. Alangkah bijak jika dokter memberikan antibiotik spektrum sempit pada indikasi tepat dan ketat dengan dosis yang adekuat disertai interval dan lama pemberian yang juga tepat pada pasien.
Menyambung pembicaraan dr. Supriantoro, dr. Khanchit Limpakarnjanarat sebagai perwakilan dari WHO untuk Indonesia turut mengungkapkan sepatah dua patah kata pembuka acara. Fenomena gunung es, itulah istilah yang dipakai dr. Khanchit untuk mengekspresikan masalah resistansi terhadap antibiotik. Dampak negatifnya begitu besar dan sangat merugikan.
Meskipun sebenarnya resistansi merupakan fenomena biologis alamiah yang tidak dapat dihentikan, tetap perlu digencarkan upaya untuk menekan kejadian resistansi. Upayanya dapat berupa pemakaian antibiotik secara rasional dan pengembangan antibiotik baru yang seluruhnya perlu direncanakan secara komprehensif.
Diharapkan dengan melancarkan strategi regional dalam menghadapi resistansi antimikroba, morbiditas, dan mortalitas akibat infeksi bakteri resistan dapat diminimalisasi. Resistansi obat pun dapat dicegah. Sebagai kalimat penutup, beliau menegaskan, “No action today, no cure tomorrow.” ♦ (Risca)







