Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Kolom

Indonesia- Malaysia-Brunei, Bersatu Majukan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan

 Laurentius Aswin Pramono1

 

Ternyata, tak hanya Indonesia yang meraya­kan hari kemerdekaannya di bulan ini. Tak banyak yang tahu bahwa sa­hab­at, jiran, sekaligus rival abadi kita, jug­a berulang tahun di bulan Agustus (baca: Ogos), tepatnya tanggal 31. Seteru di bidang kelautan, ekonomi, dan budaya, namun saudara di bidang kedokteran dan kesehatan. Benarkah?

Tanggal 22-24 Juli lalu, saya berkesempatan menjadi pembicara makalah bebas di ajang bergengsi 7th Malaysia Indonesia Brunei Medical Sciences Conference di Selangor, Malaysia. Saat tulisan ini dibuat, saya sedang dalam masa mempersiapkan makalah saya yang mendapat penghargaan sebagai makalah terbaik di bidang penelitian epidemiologi pada Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2011 - dipoles agar semakin siap tampil di hadapan masyara­kat ilmiah tiga negara sahabat, Malaysia, Indonesia, dan Brunei.

Meksipun saya tak tahan menceritakan isi makalah saya yang merupakan hasil penelitian yang saya pimpin saat mena­ngani KLB rabies di Pulau Larat, Kepulauan Tanimbar, persis setahun yang lalu, artikel ini bukanlah untuk memaparkan hal itu. Saya ingin mengulas hubungan Indonesia-Malaysia-Brunei yang tercipta melalui acara tahunan yang secara bergilir diadakan oleh tiga negara ini. Kebetulan sekali tahun 2009 saya juga menjadi pembicara makalah bebas pada ajang serupa yang diselenggarakan di Hotel Mercure, Jakarta.

Lepas dari semua urusan seteru Indonesia-Malaysia dalam hal tenaga kerja Indonesia, batas wilayah dan sumber daya alam, penangkapan ikan ilegal dan batas teritorial kelautan, sepak bola, atau pening­galan budaya, batik, alat musik, atau lagu yang saling berebut -banyak juga kalau disebutkan satu per satu-, sesungguhnya Indonesia tetaplah sahabat Malaysia. Bahkan, saya berani mengatakan kita bersaudara dengan Malaysia untuk bidang kedokteran dan kesehatan. Banyak tokoh kedokteran kita di zaman Soekarno turut mengembangkan beberapa fakultas kedokteran dan kesehatan masyarakat di Malaysia. Bahkan, Universiti Kebangsaan Malaysia Medical Centre yang merupakan fakultas kedokteran paling top di Negeri Siti Nurhaliza, itu juga mendapat banyak bantuan sumber daya manusia dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di saat awal pengembangannya.

Sampai saat ini, pertukaran pelajar pendidikan dokter Indonesia dan Malaysia terus berlangsung. Banyak pelajar Malaysia mengambil studi kedokteran di Indonesia. Sementara, banyak pula dokter Indonesia yang mengambil studi lanjutan atau kursus lanjut spesialisasi di Malaysia. Sementara, Brunei lebih banyak berhubungan dengan Malaysia dalam mengembangkan dunia kedokteran dan kesehatan masyarakatnya. Brunei juga negara yang mandiri dalam pendidikan dan selalu giat dalam menciptakan iklim kesehatan dan kemajuan teknologi kedokterannya sendiri.

Sebagai sesama negara serumpun di ka­langan ASEAN, Malaysia melalui Uni­versiti Kebangsaan Malaysia, Indonesia melalui Universitas Indonesia, dan Brunei melalui Universiti Brunei Darussalam, me­miliki visi dan misi untuk maju di kancah regio­nal dan internasional. Oleh karena itu, untuk saling bertukar pengalaman mengenai hasil penelitian terbaik dan terbaru, teknologi di bidang kedokteran, metode di bidang kesehatan masyarakat, dan ide-ide brilian pendidikan kedokteran masing-masing negara, dibentuklah ‘serikat’ tiga pusat pendidikan kedokteran terkemuka ini sejak 2005. Acara tahunan ini tetap hi­dup dan semakin semarak setiap tahunnya.

Menggarisbawahi hubungan Malaysia dan Indonesia dalam bidang kedokteran dan kesehatan, rasa-rasanya tidak ada ke­ributan yang berarti, maksudnya isu yang melibatkan institusi atau kelembagaan. Bahkan, beberapa riset kerja sama biotek­nologi dan kesehatan lingkungan sudah dijal­in kedua negara sejak lama. Saya tengo­k sendiri pada 42th APACPH (Asia Pacific Academic Consortium for Public Health) Congress di Bali tahun lalu, hubungan Indonesia-Malaysia di bidang kesehatan masyarakat juga baik dan saling mendukung, khususnya di sub-bidang pendidikan dan pelatihan. Sekali lagi, tidak ada satu isu apa­pun yang melibatkan bidang kedokteran dan kesehatan antara kedua negara bertetangga ini.

Kalaupun ada isu pasien Indonesia lari ke Malaysia, ini bukanlah urusan kelembagaan dan persaingan resmi terbuka. Dokter Indonesia wajib introspeksi diri mengapa sampai ditinggal pasien ke Penang, Kuala Lumpur, atau Johor. Lagi-lagi urusan komunikasi dan perhatian terhadap pasien menjadi topik. Namun, di luar itu, tidak ada perkara yang ramai-ramai bidang kedoktera­n. Saya bersyukur untuk itu. Akademisi, dokter, dan peneliti kita dan Malaysia mengutamakan keilmuan, kemanusiaan, dan persaingan sehat. Tentu saja kita jauh berbeda dari politikus, nelayan, pejabat, polisi, atau petugas patroli laut yang saling ribut. Ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat amat mulia, mengutamakan nyawa dan kesejahteraan orang banyak di atas segalanya.

Hubungan yang baik antara Malaysia-Indonesia, plus Brunei di bidang kedokteran dan kesehatan patut disemai terus sehingga saling menguatkan bidang-bidang lainnya. Melalui ajang riset multinasional dan kongres tahunan semacam ini, kita tabur benih kerja sama yang saling me­ne­guhkan eksistensi masing-masing negara di bidang kedokteran dan kesehatan. Tantangan kita di ASEAN, Asia Pasifik, dan dunia jauh lebih penting dibanding perseter­uan ‘harga diri’ antara kita dan Malaysia. Jadi, kalau SBY tahun lalu tak sampai ‘ganyang Malaysia’ gara-gara ulah negeri jiran itu yang ‘rada aneh-aneh’, itu saya dukung. Kasihan kerja sama bidang lain yang tak ikut-ikutan ribut, bisa terkena imbas permusuhan kalau benar-benar terja­di perang. Mari jadikan bidang kita penyatu di antara bangsa serumpun. Dirgahayu Republik Indonesia ke-66 tahun, Selamat Hari Pemasyhuran Kemerdekaan Tanah Melayu ke-54 tahun.

 1 Penulis adalah ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, dan mahasiswa program pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam di Universitas Indonesia.

 
Banner