| Edisi No 08 Vol XXXVII - 2011 - Artikel Konsep |
Kulit dan Rokok
NATALIA
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pendahuluan
Merokok masih tetap merupakan salah satu dari lima risiko mortalitas tertinggi di Amerika Serikat.1,2 Pada 2000-2004, terdapat sekitar 443.000 penduduk Amerika meninggal lebih dini dari usia prediksi oleh sebab rokok dan hal itu berdampak pada beban ekonomi sekitar 193 milyar Dolar Amerika setiap tahunnya.2,3Di dunia, lebih dari 5,4 juta kematian terkait rokok terjadi setiap tahun. Angka ini lebih besar daripada tuberkulosis, HIV/AIDS, dan malaria. Faktanya, jika tidak ada tindakan yang diambil untuk mengatasinya. Rokok akan membunuh 1 milyar manusia pada abad ke-21 ini.2
Dengan populasi sebesar 195,5 juta pada 1996, Indonesia merupakan negara dengan kepadatan penduduk nomor empat di dunia. Indonesia memiliki sejarah dalam bidang perdagangan rokok dan rokok merupakan bagian kontemporer perekonomian serta budaya di Indonesia.4 Indonesia merupakan kontributor penting yang berperan dalam menimbulkan angka kesakitan terkait rokok. Prevalensi perokok pada pria usia 15 tahun ke atas meningkat dari 53,4% pada 1995 menjadi 63,2% pada 2001 dan meningkat pada angka 63,1% pada 2004. Prevalensi pada wanita dewasa juga meningkat dari 1,7% pada 1995 menjadi 4,5% pada 2004. Sebagai negara keempat terpadat, Indonesia pada 2002 telah memperoleh rangking kelima sebagai negara dengan pengkonsumsi rokok terbanyak (182 milyar) setelah Cina (1,7 triliun); Amerika Serikat (463 milyar), Rusia (375 milyar), dan Jepang (299 milyar). Sebuah penelitian oleh Djutaharta dkk., melaporkan bahwa 90% dari perokok aktif di Indonesia merokok dalam rumah bersama anggota keluarga yang lain, termasuk anak-anak di lingkungan mereka; dan sebagai akibatnya adalah semakin banyaknya insiden anak yang menderita penyakit paru.5
Efek Patofisiologi Rokok pada Kulit
Asap rokok merupakan penggabungan kompleks antara gas dan partikel, yang berpotensi kuat dan mempunyai dampak pada fisiologis serta farmakologis. Selama beberapa dekade, nikotin telah diketahui sebagai salah satu faktor yang berdampak pada kerusakan-kerusakan terkait rokok. Namun, belakangan ini diteliti bahwa efek vasoaktif dari kulit dan perfusi subkutan tidak dapat menjelaskan adanya mekanisme patofisiologis yang menggangu proses penyembuhan luka dan berkontribusi juga terhadap kerusakan lain terkait rokok.6
Rokok menghasilkan efek imunomodulator melalui pelepasan spesies oksigen reaktif dari asap rokok, yang diduga menyebabkan kaskade efek merugikan pada fungsi sel inflamasi normal dengan fagositosis dan bakterisidal, dan juga meningkatkan pelepasan enzim proteolitik.6 Selain itu, sintesis kolagen dan deposisi kolagen matur pada matriks ekstraseluler berkurang oleh karena rokok.6 Semua pengaruh pada mekanisme biologis yang mengganggu ini berujung pada efek yang tidak diharapkan pada aspek jalur reparasi seluler pada kulit dan adneksanya. Hal ini hanya didapatkan pada proses penyembuhan luka akut pada perokok. Pada studi kohort ini, didapatkan hasil bahwa terdapat risiko lebih tinggi terhadap infeksi luka pasca-operasi dan pelambatan penyembuhan luka kronik pada pasien perokok.6,7
Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.







