steroids
Banner
Translate
Edisi No 06 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Terapi Mutakhir Spondiloartropati Seronegatif dan Psoriasis: Fokus pada Infliximab

 

Pada Temu Ilmiah Reuma­to­logi 5-8 Mei 2011, terdapat satu sesi yang penting meskipun belum terlalu populer di masya­rakat kita. “Prevalensi penyakitnya jarang, namun kualitas hidup penderitanya sangat renda­h. Dengan demikian, perlu terobosan terapi yang efektif terhadap kelompok penyakit ini,” papar dr. Riardy Pramudiyo, SpPD, KR yang menjadi moderator pada sesi “Spondiloartropati Seronegatif dan Psoriasis” itu.

Spondiloartropati serone­ga­tif adalah sekelompok penyakit inflamasi multi-sistem yang salin­g berkaitan antara penyakit yang satu dengan penyakit yang lain pada kelompok ini. “Penya­kit ini ditandai dengan faktor reu­ma­toid yang negatif sehingga disebut seronegatif,” ucap dr. Faridin, SpPD, KR, ahli reumato­logi dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Penyakit ini umumnya menyerang vertebra (sendi sakro-ili­­aka), artritis perifer asi­metris, entesopati, plus manifestasi ekstr­a-artikuler. “Manifes­tasi ektr­a-artikuler antara lain gastro­intestinal, urogenital baik akut maupun kronis, inflamasi mata bagian anterior, serta lesi pada kulit dan kuku,” ucap dr. Faridin.

1106-Keg-TIRPrevalensi penyakit ini 0,5-1,9%. Prevalensinya meningkat pada individu dengan HLA-B27. Perlu sekali diingat bahwa ke dalam kelompok spondilo­artro­pati seronegatif ada empat penyakit penting dan cukup famili­ar bagi para dokter, yaitu spondilitis ankilosis, sindrom Reiter, spondilitis dan artritis perife­r, serta spondiloartropati juvenil. Kriteria diagnosis yang digunakan adalah faktor reumatoid negatif, sakro-ilitis, artritis aksial, entesopati, artritis perifer asimetris, lesi mukokutan, HLA B27, dan adanya riwayat pada keluarga.

Spondilitis ankilosis merupa­kan penyakit yang paling popule­r dari kelompok tersebut. Spondi­litis ankilosis adalah penyakit reumatik inflamasi sistemik kronis yang menyerang sendi aksial tubuh (vertebra). “Gejala khasnya adalah sakro-iliti­s,” papar dr. Faridin. Laki-laki lebih banyak menderita spondilitis ankilosis daripada wanita. “Selain ma­nifes­tasi skeletal be­ru­pa nyeri pung­gung, per­geraka­n dan ekspansi dinding dada yang terbatas, seorang penderita juga mengalami manifes­tasi ekstra-skeletal berup­a iritis akut, paru, jantung, sindrom kauda ekuina, dan amiolo­idosis,” ungkap dr. Faridin.

Pengobatan yang saat ini disebut efektif untuk spondilitis ankilosis adalah anti-TNF alfa inflixim­ab. “Berdasarkan reko­mendasi ASAS/EULAR, anti TNF alfa diberikan pada pasien denga­n aktivitas penyakit yang tinggi,” ungkap Prof. Dr. dr. Harry Isbagio, SpPD, KR menyambung penjelasan dr. Faridin. Prof. Harry me­nga­takan bahwa pertama-tama, tegakkan dulu diagnosis spon­dilitis ankilosis secar­a akurat, lalu penggunaan obat-obat lainnya sudah dilaku­kan namun belum memberikan hasil me­muas­kan, yaitu NSAID minimal 2 selama 3 bulan, 2-3 gram sulfas­alazin se­la­ma 4 bulan, pemaka­ian kor­tiko­steroid jangka panjang. Na­mun, skor BASDAI masih > 4. Ini menunjukkan aktivitas pe­nya­kit masih tinggi dengan peng­obat­a­n-peng­obata­n sebelum­nya.

Untuk memulai terapi denga­n anti TNF alfa, juga perlu ditambahkan: adanya pendapat ahli yang mengatakan sudah waktunya memulai pengobatan tersebut, dengan salah satu param­eter laboratorium sebagai berikut: positif CRP, MRI, pro­gre­sivit­as radiologi, dan pemeriksaan fisis yang mengatakan penyakit masih aktif. Evaluasi pengobatan dilakukan 6-12 minggu setelah terapi, lihat apakah skor BASDAI > 50% atau perbaikan skor BASDAI > 2, serta pendapat ahli untuk me­neruskan obat ini. Infliximab merupakan obat yang memberikan bukti klinis baik untuk menurunkan aktivitas spondilitis ankilosis. Beberapa endpoint penelitian yang dilihat adalah pemeriksaan MRI dan pemeriksaan klinis. “Obat ini boleh dianjurkan pada pasien dengan aktivitas penyakit yang masih tinggi,” simpul Prof. Harry.

Selain efektif untuk spondilitis ankilosis, infliximab juga efekti­f pada penyakit psoriasis. Pada akhir sesi, Prof. Dr. dr. Benny Effendi Wiryadi, SpKK(K), dari Departemen Kulit Kelamin FKUI/RSCM menyampaikan peng­alamannya mengobati pasien psoriasis dengan obat ini. Hasilnya terbukti sangat baik. “Lesi-lesi berkurang, kualitas hidup pasien meningkat,” papar Prof. Benny. Dasar patologisnya adalah psoriasis merupakan penyakit dengan kadar TNF alfa kulit dan serum yang tinggi. “TNF- alfa memegang peran yang sangat penting pada klinis dan progresivitas penyakit psoriasi­s,” ucap Prof. Benny.

Pengalamannya mengobati pasien-pasien psoriasis dengan infus infliximab benar-benar luar biasa. Prof. Benny memperlihat­kan semua gambar lesi pasiennya di depan peserta. “Perlu diing­at, sebelum terapi infus inflixim­ab, perlu dilakukan pemeriksaan lengkap pada pasien, termasuk klinis maupun labo­rator­ium,” ujar Prof. Benny. Beberapa manfaat tambahan dari terapi infliximab ini adalah gatal berkurang, lesi dapat ber­sih hampir lengkap, perbaikan kuku pasien, perbai­kan gejala dan tanda dari artritis, serta meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas hidup pasien. “Efek samping sangat jarang, antara lain sesak nafas hanya pada satu pasien, peningkatan risiko TBC (empat pasien), dan furunkulosis,” ungkap Prof. Benny sangat cermat. “Perlu perhatian agar pasien tidak pergi ke tempat umum dan risiko tertular TB setelah terapi ini,” pesan Prof. Benny. Sebagai kesimpulan, obat ini memberikan masa remisi pe­nyakit lebih lama dan dapat menjadi terapi menjanjikan pada pasien psoriasis.

Saat ini, infliximab yang diindik­asikan pada spondilitis ankilosis dan psoriasis secara cermat ini dijual di pasar farmasi Indonesia dengan nama dagang Remicade, dipasarkan oleh PT Tanabe Indonesia. Pesannya hanya satu: remisi penyakit-penyakit pasien ada di tangan kita, para dokter yang memberikan terapi dan edukasi pada pasien. Untuk itu, marilah beri­kan mereka obat-obat terbaik dan mutakhir bagi remisi penya­kit mereka. u (a)

 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm