Membuka presentasinya, Prof. Abdul mengatakan bahwa sindrom metabolik membutu­hkan perhatian khusus karena saat ini sudah dianggap setara dengan penyakit jantung koroner dan diabetes melitus. Dengan kata lain, pasien dengan sindrom metabolik memiliki risiko relatif untuk mengalami kejadian kardiovaskular diban­ding­kan dengan yang bukan sindrom metabolik. Gambaran klinis sindrom metabolik biasanya ditemui pada pasien dengan obesitas visera­l. Kecenderungan genetik menderita hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit jantu­ng koroner dapat mempengaruhi gambaran klinis sindro­m metabolik. Gambaran klinis yang dapat ditemukan antar­a lain hipertrigleseridemia, rendahnya kolesterol HDL,  pening­katan apolipoprotein B, meningkatnya partikel small dense LDL, resistansi insulin, hiperinsulinemia, intoleransi glukosa, gangguan fibrinolisis dan disfungsi endotelial. “Small dense LDL dan apolipoprotein B merupakan faktor pemicu ter­ben­tuknya atherosklerosis,“ tambah Prof. Abdul. Mening­kat­nya small dense LDL dapat meningkatkan proses oksidasi, meningkatkan sindrom resistansi insulin, menurunkan afinitas LDL kolesterol, dan berhubung­an dengan peningkatan trigleserida serta rendahnya HDL. Objektif terapi sindrom meta­boli­k yaitu mengurangi faktor penyebab (berat badan lebih, obesitas) dan mengobati faktor risiko lipid (atherogenic dislipide­mia) dan non lipid (hipertensi).

1307-Keg-Pembr-AtorBerdasarkan guidline terbaru, direkomendasikan penggunaan statin dosis tinggi maupun terapi kombinasi pada pasien dislipidemia. Dari semua terapi penurun lipid, HMG Co A reduktase inhibitors (statin) ma­si­h menjadi obat pilihan un­tu­k pencegahan primer maupun sekunder penyakit jantung korone­r. Statin lebih banyak menurun­kan LDL kolesterol di­ban­ding­kan lainnya serta dapat meningkatkan HDL kolesterol  dan menurunkan Trigleserida.  Makin banyak dosis atorvastatin yang diberikan, makin banyak LDL kolesterol yang dapat di­tu­run­kan. Pemberian atorvastatin dosis tinggi 80 mg dapat menurunkan  LDL kolesterol sebanyak 50%. Manfaat statin tidak hanya menurunkan kadar kolesterol, namun ternyata statin memiliki efek pleiotropik, antara lain memperbaiki fungsi endotelial, menstabilkan plak atheros­klerotik, menurunkan stres oksi­da­­tif dan inflamasi, serta menghambat respons trombogenik. Atorvastatin secara dramatis menurunkan laju oksidasi LDL, seperti yang kita semua ketahui LDL kolesterol yang  teroksidasi akan berubah bentuk dan menyebabkan efek aterogenik seperti pembentukan sel busa (foam-cell), pergerakan monosit, kemoatraktan, adhesi endo­telial, dan produksi radikal bebas sehingga dapat terbentuk aterosklerosis. NCEP ATP III mengat­akan bahwa statin menunj­ukkan manfaat berupa menurunkan kejadian penyakit jantung koroner, menurunkan kematian karena penyakit jantun­g koroner, menurunkan prosedur koroner (Percutaneous Transluminal Coronary Angio­plasty/Coronary Artery Bypass Graft), mengurangi stroke, dan mengurangi mortalitas total. Terdapat sebuah penelitian yang membandingkan antara ator­vas­t­atin dosis tinggi 80 mg dan rosuvastatin 40 mg dalam menurunkan kolesterol dan atheroma. Atorvastatin dapat menurunkan volume atheroma dan meningkatkan area lumen, sedangkan rosuvastatin selain menurunkan volume atheroma juga menurunkan area lumen. Studi lain yang membandingkan penggunaan atorvastatin 80 mg dengan pravastatin 40 mg dihubun­gkan dengan kejadian kar­­diovaskular mayor dan ke­matia­n serta diikuti selama 30 bulan, didapatkan angka kejadi­a­n kardiovaskular mayor yang bermakna dan kematian lebih rendah pada yang mengguna­kan atorvastatin 80 mg.  Sebuah TNT (Treating to new target) study yang membandingkan penggunaan atorvastatin dosis rendah 10 mg dengan atorvastatin dosis tinggi 80 mg pada 5.584 pasien dengan sindrom metabolik didapatkan hasil pada kelompok atorvastatin dosis tinggi 80 mg menunjukkan kejadia­n kardiovaskular mayor yang lebih rendah dibandingkan atorvastatin 10 mg. Dengan demi­kian, dapat disimpulkan bahwa atorvastatin telah terbukti memiliki efikasi agresif dalam menurunkan lipid dan ke­ja­di­an kardiovaskular. Di Indonesia, Truvazâ produksi PT. Kalbe Farma, Tbk yang mengandung ator­vastati­n dengan sediaan 10, 20, dan 40 mg jadi terapi hiperkolesterol dengan prinsip “Start Low, Go Slow” dapat ditera­pkan karena kemasan Truvazâ yang sudah lengkap.   (Nisa)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish