steroids
Banner
Translate
Edisi No 04 Vol XXXVI - 2011 - Kegiatan

Era Baru Terapi Kombinasi pada Hipertensi

 

Dalam satu jam terakhir, 40 orang di Indonesia baru saja meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Selain itu, sekitar 1 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh dr. Sandeep Gupta, konsultan kardiologi dari Whipps Cross dan St. Bartholo­mews Hospital-London, saat mempresentasikan makalahnya dalam acara The 5th Scientific Meeting on Hypertension, di Jakarta, 27 Februari 2011. Prevalensi hipertensi mulai me­­ningkat tajam pada usia 40-59 tahun. Setiap 1 mmHg pe­ning­katan tekanan darah sistolik akan meningkatkan risiko komplikasi sebesar 1,2%. Sebaliknya, pe­nu­runan tekanan darah sistolik 2 mmHg akan menurunkan risiko mortalitas akibat penyakit jantung iskemik sebesar 7% dan risiko mortalitas akibat stroke sebesar 10%. Menurut Gupta, obat penurun tekanan darah yang ideal harus dapat membantu pasien mencapai target tekanan darah yang diinginkan, memberikan perlindungan se­lam­a 24 jam, dapat ditoleransi dengan baik, serta memiliki efek proteksi tambahan. Kombinasi dua obat memberikan efek­tivita­s 5 kali lebih besar dalam menurunkan tekanan darah sistolik dibandingkan monoterapi dengan dosis digandakan.

 

1104-keg-era-hipertensiHal senada diungkapkan oleh dr. Santoso Karo-Karo, MPH, SpJP(K). Mayoritas pasien membutuhkan lebih dari dua obat untuk bisa mencapai target tekanan darah. Terapi antihiper­tensi kombinasi dengan obat-obatan dari golongan yang berbe­da memiliki potensi me­ngun­tungkan. Selain mening­kat­kan efikasi, terapi kombinasi me­mungkinkan penggunaan do­sis yang lebih kecil dari ma­sing-masing obat dibandingkan dalam monoterapi. Terapi kombinasi inisial dapat diberikan pad­a pasien dengan tekanan darah 20/10 mmHg atau lebih di atas target atau mereka yang beri­siko tinggi. Menurut Santoso, mengingat efek samping obat kebanyakan bergantung pada dosis, terapi kombinasi lebih jarang menimbulkan efek sam­pin­g yang dapat menyebabkan pasien menghentikan peng­obat­an. Fixed-dose combination juga lebih praktis dan lebih mudah dikonsumsi dibandingkan mengombinasikan dua obat secara terpisah, serta lebih murah.

Berdasarkan panduan ESH/ ESC, kombinasi dua obat hi­pertensi yang direkomendasikan adalah ACE-inhibitor dan calcium channel blocker (CCB). Akti­vitas klinis penghambat sistem renin-angiotensin-aldosteron dilengkapi dengan aktivitas natri­uretik dari CCB.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah: RAAS yang manakah yang tepat dalam sua­t­­u terapi kombinasi? Menurut Gupta, terdapat perbedaan yang besar antara ACEI dan ARBs, walaupun keduanya me­rupakan golongan RAAS. Dalam suatu studi BPLTTC ESH 2005, walaupun tidak ada perbedaan dalam penurunan stroke dan gagal jantung, ada perbedaan yang besar antara ACEI dan ARBs dalam infark miokard dan kematian kardiovaskular. Ter­dapat kecenderungan bahwa ARBs meningkatkan risiko infark miokard dan ACEI terbukti me­nurunkan lebih baik kematian kardiovaskular.

Dari semua ACEI yang ada, Perindopril merupakan ACEI dengan studi yang paling komprehensif, seperti studi EUROPA, ADVANCE, dan PROGRESS. Selain itu, Gupta menambahkan bahwa Perindopril dapat menurunkan hipertropi ventrikel kiri 18-20%. Hanya tiga studi dalam studi hipertensi yang memberi­kan hasil penurunan mortalitas yang signifikan, yaitu studi ASCO­T BPLA, ADVANCE, dan HYVET. Hanya ketiga studi mortalitas inilah yang menyertakan perindopril. ASCOT BPLA adalah studi pertama yang berhasil dalam outcome mortalitas, dan sampai saat ini merupakan satu-sat­unya studi kombinasi dengan amlodipine yang berhasil dalam studi mortalitas.

Studi ASCOT juga membuktikan bagaimana kombinasi am­lo­d­ipine/perindopril (Coveram‚), unggul dalam menurunkan risiko seluruh kejadian kardiovaskular mayor, meliputi stroke, penyakit jantung koroner, dan diabetes awitan baru (diban­ding­kan dengan kombinasi atenolol/thiazide).

Mengomentari studi ASCOT, dr. Gupta mengatakan, ”Dalam studi ASCOT terdapat hal yang menarik, yakni tekanan darah sentral. Studi ini menunjukkan terjadi penurunan tekanan da­rah yang signifikan pada kelompok Amlodipine dan perindopril sehingga pada akhirnya ga­bung­an antara perindopril dan amlodipine akan memberikan efek manfaat yang besar terhadap penurunan risiko seluruh kejadian kardiovaskular.” Beliau juga menjelaskan, studi ASCOT menunjukkan bahwa kombinasi perindopril dan amlodipine ter­buk­ti menurunkan seluruh pe­nyebab kematian sebesar 11% dan menurunkan kematian kardiovask­ular 24%.

Kombinasi perindopril dan amlodipine juga memenuhi rekomendasi ESC, di mana ESC merekomendasikan pemakaian obat yang memberikan efikasi 24 jam dengan penggunaan se­kali sehari. Masing-masing komponen Perindopril dan amlo­di­pin­e memiliki % rasio T/P 100%, sehingga memberikan jaminan perlindungan selama 24 jam.

SafeTy & efficacy analysis of coveRsyl amlodipine in uncOn­trolled and Newly diaGnosed hype­rtension (STRONG) me­ru­pa­kan studi observasi yang jug­a mengevaluasi efektivitas dan tole­rabilitas perindopril-amlod­i­pine fixed dose pada 1250 pa­sien hipertensi tidak terkontrol dan stadium 2 selama tiga bulan. Penurunan tekanan darah yang terjadi pada populasi studi total sebesar –42/23 mmHg. Pada subpopulasi studi dengan te­kanan darah sistolik dasar >180 mmHg, terjadi penurunan sebesar –63/29 mmHg. Kombi­nasi ini juga mengurangi efek batuk dan edema perifer secara signifi­kan sehingga mening­katkan kepa­tu­han pasien pada regimen terapi. Jelas, menurut Gupta, kombinasi ini menjadi era baru terapi kombinasi hipertensi. (wenni)

 

 

 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm