Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Mewujudkan Pengelolaan Diabetes Mandiri

 

Jakarta Diabetes Meeting ke-19 yang diselenggarakan secara akbar pada 13-14 No­vem­ber 2010 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, tak hanya menjadi ajang ilmiah bagi dokter-dokte­r yang berminat pada pe­ngel­olaan diabetes, melainkan juga gerakan promosi kesehatan (health promotion) dalam me­nge­lola diabetes bagi diabetisi dan masyarakat awam. Selain aspek kemandirian yang ingin diwujudkan melalui aktivitas fisis dan diet yang dilakukan secara mandiri, pemantauan kadar glu­kosa darah secara mandiri juga ingin disosialisasikan. Hal itu tam­pak dari workshop self mo­nitori­ng blood glucose (SMBG) dan stand-stand farmasi yang berpartisipasi dalam acara ini, yang juga menampilkan berbagai produk berbasis pemantau­an kadar glukosa darah sendiri.

Berkaitan dengan keman­dirian dalam aktivitas fisis, diet, dan pemantauan kadar glukosa darah ini, tepat pada hari Ming­gu pagi, 14 November 2010, la­lu diselenggarakan acara Global Diabetes Walk and Fun Day yang diikuti oleh 5000 orang. Acara gerak jalan sehat seputaran kom­pleks Taman Impian Jaya Ancol ini sempat dibuka oleh Men­teri Kesehatan Republik Indo­­nesia, Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, dan Prof. dr. Slamet Suyono, SpPD, KEMD, Guru Besar Endokrinologi dan Diabetes FKUI/RSCM sekaligus Ketua Pusat Diabetes dan Lipid Jakarta. Tak hanya itu, acara ini pun sempat masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai acara gerak jalan diabetes ter­besa­r di Indonesia.

Berbicara mengenai diabe­tes dan kemandirian, memang tak pernah lepas dari pemantauan yang ketat terhadap kontr­ol gli­kemik. Mandiri bagi seorang pa­sien diabetes berarti mau meng­ikuti secara teratur seluruh pilar penatalaksanaan diabetes secara sadar. Keempat pilar tersebut ada­lah edukasi, die­­t, aktivitas jas­mani, dan obat-obatan. Bebe­rapa pakar me­nambahkan pilar kelima yaitu pemantauan kadar glukosa darah harian atau self mo­nitoring blood glucose (SMBG) atau swa-monitor glukosa darah (SMGD) sebagai bagian yang pen­ting dalam pengelolaan diabetes secara terpadu.

1012-keg-Diabetes-rocheSejak penemuan glukometer untuk pemantauan kadar glukosa darah secara cepat pada 1978, kontrol glukosa dapat dilakukan secara pribadi di rumah atau klinik dekat rumah pasien. Hal ini memang meningkatkan kemandirian pasien-pasien diabetes. Kalau dulu pemeriksaan glukosa darah wajib dilakukan melalui cara basah (pengambil­an darah vena), setelah awal 1980 sampai saat ini (sudah 30 tahun), monitor kadar glukosa darah dapat dilakukan sendiri (swa-monitor glukosa darah/SMGD). Pengambilan darah kapiler, meskipun memiliki nilai kadar glukosa yang sedikit berbeda dari darah vena, tetap memiliki nilai pemantauan yang dianjur­kan. Pengelolaan diabetes pun menjadi lebih mudah, compliance pasien meningkat, dan rasa nya­ma­­­n dapat dicapai.

Kadar glukosa darah ter­kontr­ol dikatakan baik bila kadar glukosa darah puasa < 110 dan ka­dar glukosa darah 2 jam setela­h makan (2 jam pp) < 140. “Kriteria ini untuk self monitoring blood glucose di rumah,” papar Prof. dr. Marzuki Suryaat­madja, SpPK(K), Guru Besar Pato­­logi Klinik – Pakar Kimia Klinik FKUI/ RSCM pada workshop. Kadar glukosa darah post-prandial/2 jam pp itu diperiksa 2 jam setelah awal makan pokok (makan siang atau malam). “Melalui pemantauan kadar glukosa darah, seseorang dapat mengetahui sendiri dan cepat kondisinya saat-saat tertentu sehin­gga dapa­t mengatur sen­diri pola dietnya,” ucap Suryaat­madja.

“SMBG merupakan bagian yang sangat penting dalam penge­lolaan pasien diabetes. SMBG sendiri dipercaya sebagai cara terbaik dalam self-control pasien-pasien diabetes terhadap diet, aktivitas jasmani, peng­guna­an obat-obatan, sampai insuli­n pada pasien,” jelas dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD, staf Divisi Metabolik Endokrin FKUI/RSCM pada kesempatan yang sama. Ditambahkan oleh Tarigan, SMBG sangat baik untuk melihat pola kadar glukosa darah dalam sehari atau dari hari ke hari, dalam berbagai jenis situasi dan kondisi, pemantauan dan pen­cegahan terhadap hipoglikemia, mengetahui variabilitas glukosa yang merupakan faktor risiko komplikasi vaskular, serta membedakan mana yang lebih ber­masalah; apakah glukosa darah puasa atau post-prandial. Bebe­rapa hal ini sangatlah pentin­g, terutama pada pasien yang sudah menggunakan te­ra­pi insulin.

Frekuensi SMGD (SMBG) ber­variasi antar-individu. Ada yang butuh dua kali sehari, ada yang butuh tiga kali sehari, bahkan lebih, semu­anya tergantung masing-masing pasien. Satu hal yang pasti, alat pemeriksaan kadar glu­kosa darah kapiler harus bena­r-benar yang akurat dan ter­­per­caya. Artinya, mampu mem­­beri­kan informasi yang se­be­narnya, atau rentang devia­si yang seminimal mungkin. Salah satu glu­kometer yang me­miliki akurasi yang diakui dunia adalah Accu Chek, produksi Roche. Melalui inovasi yang dilakukan Roche, pemantauan kadar glu­kosa darah harian menjadi mudah, sederhana, dan nyaman.

Alat ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain sampel darah kapiler yang dibutuhkan sangat sedikit, pemeriksaan cepat (sekitar 5 detik), nyeri mi­nim­al (berkat teknologi Clix­mo­tion yang canggih), tangguh dalam berbagai cuaca, bentuk ergonomis, serta kelebihan unik seperti mampu mengingatkan jadwal cek glukosa darah, pe­nan­da hipoglikemia, dan data dapat dipindahkan ke komputer melalui alat inframerah. Kele­bih­an terakhir cukup mengagum­kan karena seorang pasien diabetes dapat melakukan peman­tau­an secara nyaman kadar glu­kosa darahnya. Ia dapat meliha­t fluk­tua­si kadar glukosa darah hariannya secara teliti. Laporannya dapat disimpan, di-print, bahkan di e-mail dalam program kom­pu­ter e-logbook secara sis­temati­s yaitu Accu-Chek 360° (Diabetes Management System) sehingga kelola SMGD bukan berhenti pada tahap tes glukosa saja, tapi sesuai algoritma 3 langkah yang direkomendasikan IDF yaitu tes glukosa (oleh pasien), interpretasi/analisa hasil pola glikemik (oleh dokter), dan adjustment terapi (obat oleh dokter, mo­difika­si gaya hidup oleh pasien).

Sudah bukan rahasia lagi, ada begitu banyak produk glu­kometer di pasaran. Kita tentu menginginkan pasien-pasien kita mendapatkan yang terbaik dan paling nyaman. Memilih glu­­kometer bukanlah pekerjaan sederhana. Jangan samakan semu­a glukometer atau meng­anggap sepele perannya dalam pengelolaan diabetes. Kita tentu senang bila pasien kita mandiri dan pintar, itu akan memudah­kan kita saat bertemu mereka. Dokter senang, pasien senang. Oleh karena itu, ajarilah mereka hidup secara mandiri dan nyaman. Diabetes bukan untuk di­ta­kuti, tapi diabetisi harus be­laja­r hidup pintar menghadapi penyakitnya. u (aswin)

 
Banner