Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Hipertensi Terkontrol Cegah Kerusakan Organ

 

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang sangat penting. Definisi hipertensi dan tekanan darah yang normal berubah seiring waktu berjalan. Joint National Committee (JNC) pada Deteksi, Evaluasi, dan Terapi Tekanan Darah Tinggi mengklasifikasikan hipertensi sejak JNC pertama tahun 1977 sampai JNC ketujuh tahun 2003. Prevalensi hipertensi juga berubah dan menjadi lebih tinggi karena diagnosis hipertensi ditegakkan pada setia­p orang dengan tekanan darah sistolik > 140 mmHg atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg. Demikian penjelasan Prof. DR. Dr. Dede Kusmana, SpJP(K), FIHA, FACC, dalam sesi Hypertension Management: A Better Way To Do yang merupa­kan bagian dari rangkaian acara Weekend Corse on Cardiology (WECOC), di Jakarta, 29 Oktober 2010.

1012-keg-Hipertensi-WecocPrevalensi hipertensi di tiga wilayah di Jakarta pada 2007, seperti diterangkan Prof. Dede, sebesar 40% dan di Sukabumi sebesar 37,6%. Sayangnya, dari sekian persen prevalensi hiper­tensi, hanya 33% kasus yang diterapi dan menjadi normal, sisanya masih tetap menderita hipertensi. Seperti diketahui, sema­kin tinggi tekanan darah semakin tinggi juga konsekuensi yang akan terjadi. Kon­sekuen­si yang akan muncul meliputi kematian, infark miokard, atau gagal jantung. Sebelum menimbulkan konsekuensi yang ber­makna, gangguan awal yang terjadi pada jantung dimulai dari disfungsi Left Ventricular yang kemudian diikuti dengan Left ventricular Hypertrophy dan gag­al jantung.

Untuk mencegah kerusakan lebih jauh, dalam sesi yang disponsori oleh PT Tanabe Indonesia ini, Prof. Dede menga­takan, hipertensi harus dikendalikan dengan baik. Selain itu, untuk mencegah kejadian koroner, target penurunan tekanan darah harus mencapai 120/80 mmHg. Untuk itu, terapi dengan konsep ABCD dapat diterapkan. A-ace inhibitor, B-beta blocker, C-calcium antagonist, dan D-Diuretic. Bukti klinis medis membukt­ikan bahwa hipertensi dapa­t diterapi dengan peng­obata­n tunggal, namun kini seba­gian besar pengobatan dilakukan dengan terapi kombinasi. Beberapa agen yang dapat digunakan untuk terapi kombinasi di antaranya imidapril, biso­pro­lol, dan diltiazem. Imidapril memiliki penetrasi yang tinggi pada jaringan, sedikit menimbulkan batuk, dan terbukti menurunkan LVH. Sementara, bisoprolol efektif pada LVD pasca-infark miokard. Sedangkan diltiazem dilaporkan seefektif konvensional terapi dan memi­liki angka penurunan kejadian stroke sebesar 20%. 

Pada kesempatan yang sa­ma, Dr. Sodiqur Rifqi, SpJP, FIHA, menjelaskan tentang terapi kombinasi untuk hipertensi. Monoterapi dapat mencapai targ­et penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dalam jumlah yang terbatas. Penggunaan lebih dari satu agen lebih baik dilakukan untuk mencapai target tekanan darah pada sebagian besar pasien. Fakta ini sesuai dengan JNC VII dan ESH/ESC 2007 yang me­nyata­kan bahwa sebagian besar pasien hipertensi akan membutuhkan dua atau lebih obat antihi­pertensi untuk mencapai target tekanan darah yang ideal. Berdasarkan tekanan darah baseline dan ada atau tidaknya komplikasi, terapi dapat dimulai baik dengan agen tunggal dosis rendah atau kombinasi dua agen dosis rendah. Ketika tujuan penurunan tekanan darah >20/10 atau lebih maka peng­obat­an harus dimulai dengan memberikan dua obat, baik dengan peresepan terpisah maupun dengan fixed-dose combination ‘kombinasi dosis tetap’, dan salah satunya harus diuretik tipe thiazide.  

Keuntungan terapi kombinasi, seperti dijelaskan Dr. Rifqi, di antaranya efikasi antihiper­tensi tambahan (akibat mekanis­me kerja pelengkap), angka respo­ns pasien lebih tinggi, memperbaiki tolerabilitas, dan  meningkatkan kepatuhan pa­sien. Beberapa gangguan yang membutuhkan kombinasi dua obat atau lebih seperti LVH memerlukan ACE-inhibitor, calciu­m channel blocker, dan angiotensin receptor blocker. Meta-analisis terbaru yang dilakukan Wald, DS, 2009, yang melakukan meta-analisis terhadap 42 studi menunjukkan bahwa mengombinasikan dua agen dari dua golongan antihipertensi meningkatkan penurunan tekanan darah lebih banyak dibandingkan dengan melipatgandakan dosis satu agen.

Tidak kurang dari 15-20% pasien membutuhkan lebih dari dua obat antihipertensi untuk mencapai tekanan darah yanng efektif. Kombinasi yang terdiri dari renin angiotensin blocker, calcium channel blocker, dan diure­tik thiazide merupakan kombinasi yang rasional. Beta blocker dan alfa blocker juga da­p­at disertakan dengan pende­katan multipel, tergantung pada kondisi klinis, demikian Dr. Rifqi mengakhiri presentasinya. u

(hidayati)
 
Banner