Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Terapi Kombinasi Dosis Rendah Maksimalkan Efikasi Antihipertensi

 

Prevalensi hipertensi di Indo­nesia tidak lebih baik dari nega­ra-negara Asia lain seperti Thailand, Taiwan, dan Jepang. Penderita hipertensi ini sebagian besar tidak menjalankan peng­oba­tan yang semestinya. Data  2008 menunjukkan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat saja, 11% penderita hi­pertensinya tidak dalam peng­obat­an, 25% tidak melakukan terapi yang adekuat, dan hanya 34% yang melakukan terapi yang adekuat. Sementara, data dari Indonesia yang diambil dari Riskesdas 2008 menyatakan bahwa prevalensi hipertensi sebesar 31% dengan angka ke­jadi­an pada laki-laki dan perempuan sama besar. Di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, data 2008 menunjukkan bahwa dari 313 pasien hipertensi, ha­nya 39% pasien yang terkontrol dan 61% pasien dengan hiper­tensi yang tidak terkontrol. Demikian dikatakan Dr. Nani Hersunarti, SpJP(K) dalam sesi “Beta-Blocker in Hypertension Management Friend or Foe?” di Jakarta, 30 Oktober 2010.       

1012-keg-kombinasi-Wecoc

Padahal, hipertensi yang tidak diterapi dengan adekuat akan menimbulkan gangguan seperti stroke, infark miokard, dan gagal jantung yang membutuhkan penanganan dengan biaya lebih besar. Demikian ungkap Dr. Nani. Untuk mencegah kejadian-kejadian kardiovaskular tersebut diperlukan strategi penanganan hipertensi yang efektif. Salah satu strategi adalah pemberian agen anti-hipertensi sebagai modalitas tera­pi, di samping perubahan gaya hidup. Beberapa golongan obat yang kerap digunakan pada pasien hipertensi meliputi diure­tik tipe thiazide, ACE-inhibi­tor, Angiotensin Receptor Blocker (ARB), Beta Blocker (BB), Calcium Channel Blocker (CCB), atau kombinasinya. 

Beta Blocker (BB) merupa­kan salah satu golongan anti-hipertensi yang telah banyak diteliti. Salah satu penelitiannya menggunakan BB pada pasien hipertensi dengan penyakit jantu­ng iskemik. Seperti dipaparkan Dr. Nani, studi INVEST menemukan tidak adanya per­bedaan pada morbiditas dan mor­talitas pasien yang menda­pa­t terapi diuretik atenolol ver­su­s pasien yang mendapat verapamil/ACE-inhibitor. Di samping itu, beta-1 dengan selektivitas tinggi (bisoprolol) mampu menurunkan massa ventrikular kiri sama efektifnya dengan ACE-inhibitor.

Sesi yang merupakan bagian dari rangkaian 22nd Weekend Course on Cardiology ini juga menghadirkan Prof. Dr. Jose Roesma, SpPD-KGH, sebagai pembicara. Beliau menyatakan bahwa salah satu modalitas tera­pi hipertensi adalah terapi kombinasi. Terapi kombinasi untu­k hipertensi bukan sesuatu yang baru. Kenyataan ini di­bukti­kan dengan penelitian VA Cooperative Study yang menggunakan HCTZ 50 mg bid; re­serpi­ne 0,1 mg bid; dan hydra­lazine 25 mg tid. Ketiganya dikemas dalam satu tablet. Terapi kombinasi dibutuhkan untuk mencapai target tekanan darah. Alasan yang mendasari penggunaan obat kombinasi untuk menurunkan tekanan darah di antaranya adalah untuk memaksimalkan efikasi antihipertensi. Obat yang dikombinasi ini memiliki potensi antihipertensi tambahan melalui kerja pathomekanisme yang berbeda. Selain itu, obat kombinasi ini mampu melakukan penghambatan refleks kompensasi seperti aktivasi sistem renin angiotensin.

Keuntungan lain dari obat kombinasi, seperti dituturkan Prof. Jose, yakni dapat meminimalkan efek samping. Potensi anti-hipertensi yang tinggi dapat diperoleh dari komponen tunggal dengan dosis yang lebih renda­h. Dosis yang rendah ini dapat meminimalisasi efek samping terkait dosis. Dari konsep ini dibuatlah obat kombinasi yang terdiri dari beberapa obat tunggal dalam dosis yang lebih rendah.  Konsep baru ini dinamakan Ultra Low Dose Combi­na­tion. Salah satu obat yang dikembangkan berdasarkan konsep ini adalah Lodoz. Obat ini terdiri dari Bisoprolol 2,5 mg dan HCT 6,25 mg serta sudah disetujui oleh FDA sebagai tera­pi hipertensi lini pertama yang dapat digunakan sebagai obat kombinasi pertama. Obat kombinasi ini juga memiliki efikasi yang lebih baik (>60%) diban­ding­kan dengan obat tunggal originalnya (<30%). Di samping itu, obat kombinasi keluaran PT Merck ini memiliki efek samping metabolik minimal atau berbeda sedikit dari plasebo.  (hidayati)
 
Banner