| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan |
Pendekatan Komprehensif untuk Penyakit Ginjal dan Hipertensi
Pada 22-24 Oktober 2010, PERNEFRI mengadakan Konker dan Pertemuan Ilmiah Tahunan dengan tema “A Comprehensive Approach to Kidney Disease and Hypertension” di Patra Semarang Convention Hotel, Semarang. Dalam sambutannya pada acara yang diselenggarakan secara rutin setiap 3 tahun ini, Dr. Shofa Chasani, SpPD-KGH, ketua panitia, menyatakan bahwa acara ini merupakan salah satu agenda terpenting di Indonesia dan merupakan ajang pertemuan ilmiah besar yang membicarakan mengenai berbagai perkembangan ilmu mutakhir di bidang nefrologi hipertensi. Acara dihadiri oleh segenap ahli nefrologi, spesialis penyakit dalam, dan disiplin ilmu lain, baik dari tingkat internasional maupun nasional. Salah satu kegiatan simposium adalah membahas Stress Oxidative in Chronic Disease (CKD) dengan pembicara Dr. Mochammad Thaha, PhD, SpPD-KGH dari FKU UNAIR; Prof. Dr. dr. I Gde Raka Widiana dari FKU UNUD; dan Dr. dr. Gunawan Subrata dari Jakarta.
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang berkembang di banyak negara. Prevalensi PGK telah meningkat sebesar 16% dari dekade sebelumnya. Pada pasien PGK dan pasien Gagal Ginjal Terminal (GGT), tingginya angka morbiditas dan kematian lebih disebabkan oleh Penyakit Kardiovaskuler (PKV), yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh faktor risiko klasik PKV. Pasien PGK dan GGT berada pada risiko lebih besar terkena aterosklerosis dibandingkan pasien dengan fungsi ginjal normal. Akibatnya, angka kematian pada pasien tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pada populasi umum, dan kematian terutama disebabkan oleh penyakit jantung. Ini terjadi karena disfungsi endotel, yang merupakan tahap awal terjadinya aterosklerosis pada pasien dengan faktor risiko seperti PGK, termasuk pada pasien dengan hipertensi dan diabetes melitus. Oleh karena itu, menurut Dr. Thaha, penurunan produksi dan/atau bioavaibilitas oksida nitrat (NO = nitric oxide) kemungkinan dapat menjelaskan hubungan faktor risiko tersebut terhadap kejadian kardiovaskular. Dr. Thaha menambahkan bahwa pada penelitian tersebut telah digunakan antioksidan N-asetilsistein (NAC). Disimpulkan dari penelitian tersebut bahwa antioksidan NAC mampu meningkatkan produksi oksida nitrat. Selain itu, NAC juga dapat mempotensiasi efek hemodinamik oksida nitrat dengan mengikat dan membentuk zat yang lebih stabil. Pengobatan NAC secara signifikan meningkatkan vasodilatasi endothelium dependen.
Di antara faktor risiko PKV yang muncul, stres oksidatif dan peradangan saat ini lebih ditekankan keterkaitannya pada pasien PGK dan GGT. Mereka mengalami disregulasi sistem kekebalan tubuh dan memperlihatkan generasi spesies oksigen reaktif (ROS = reactive oxygen species) yang berlebihan. Peningkatan stres oksidatif yang diinduksi oleh ROS dikaitkan dengan aterosklerosis dan morbiditas kardiovaskular serta kematian pada populasi umum, pasien PGK, dan GGT. Lebih lanjut Dr. Thaha menyatakan bahwa selain homosistein plasma, ternyata asymmetric dimethyl arginine (ADMA) juga terlibat pada progresivitas PGK. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa tingginya kadar ADMA plasma secara konsisten memprediksi laju yang lebih cepat berkurangnya fungsi ginjal pada pasien dengan PGK.
Dr. Gunawan menyatakan bahwa stres oksidatif ibarat ‘pedang bermata dua’: secara alami pada manusia sebagai bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh, tetapi aktivasi yang berlebihan pada kondisi patologis menyebabkan kerusakan jaringan. Pada pasien gagal ginjal, meningkatnya produksi ROS terutama disebabkan oleh peradangan, kekurangan gizi, infeksi, kehadiran oksidan endogen stabil dalam plasma uremik. Pada pasien dengan hemodialisis, stimulus tambahan yang meningkatkan produksi oksigen radikal bebas dapat terjadi dari prosedur hemodialisis itu sendiri. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivasi sel inflamasi akibat berkurangnya biokompatibel membran, yang diperkuat oleh berbagai produk bakteri yang melintasi dari dialisat ke kompartemen darah. Kenaikan kadar C-reactive protein (CRP) pada pasien hemodialisis (HD) diduga berhubungan dengan peningkatan produksi sitokin seperti faktor nekrosis tumor (TNF-a), IL-1, dan IL-6 selama sesi dialisis. Proses-proses peradangan merangsang peningkatan produksi ROS yang menyebabkan konsumsi antioksidan yang larut dalam lemak dan selanjutnya menghasilkan produk lipid peroksidasi dan LDL teroksidasi. Jadi, peradangan dan stres oksidatif dapat berperan dalam sinergi lingkaran setan, yang akhirnya mempercepat terjadinya aterosklerosis, berkontribusi terhadap peningkatan risiko PKV.Oleh karena itu, menurut beliau, administrasi antioksidan merupakan pendekatan yang menjanjikan dalam pengobatan CKD dan ESRD, yang bertujuan memperlambat perkembangan penyakit pasien dan meningkatkan kualitas hidup. Antioksidan dapat bertindak sebagai pencegahan atau bahkan memperbaiki penyakit.
Sementara itu, nefropati akibat penggunaan media kontras (RIN = radio-contrast induced nephropathy) adalah masalah klinis umum yang semakin penting dalam sejumlah tes dan prosedur yang memanfaatkan media kontras di bidang radiologi. Menurut Prof. Dr. dr. I Gde Raka Widiana, telah ada kecenderungan minat mengenai kemampuan NAC (N-acetylcysteine) untuk mengurangi risiko RIN tersebut. Namun demikian, hingga kini penilaian fungsi ginjal lebih didasarkan pada pengukuran kreatinin serum, meskipun biomarker ini memiliki beberapa keterbatasan. Ditambahkan oleh Dr. Gunawan dalam diskusinya bahwa antioksidan NAC mampu mencegah terjadinya disfungsi renal akut pada pasien PGK yang menjalani prosedur tes dengan penggunaan media kontras. Beliau menegaskan bahwa pemberian NAC sebagai upaya pencegahan adalah rasional, terutama pada pasien dengan risiko tinggi, dengan biaya yang sangat murah dan sedikit kemungkinan timbulnya efek samping.
N-asetilsistein (NAC), merupakan salah satu agen novel antioksidan saat ini yang banyak digunakan dalam model eksperimental dan klinis yang berhubungan dengan stres oksidatif seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), keracunan asetaminofen, pencegahan nefropati akibat radiocontrast, pre-eklampsia, PGK, GGT, sepsis, kanker, dan bukti klinis terbukti pada level evidens B. (ZK)







