| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan |
Perindopril (Bioprexum®): Cegah Komplikasi Hipertensi, Tekan Angka Kematian Kardiovaskular
Telah disepakati bahwa prinsip tata laksana hipertensi bukan sekadar menurunkan tekanan darah, namun juga mencegah komplikasi yang ditimbulkannya. Demikian ungkap dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K)-FIHA, pada acara 22nd Weekend Course on Cardiology (WECOC), 31 Oktober 2010 lalu. Salah satunya adalah dengan menggunakan antihipertensi yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS). Angiotensin II (AII) merupakan substrat yang berperan sentral pada kerusakan organ multipel, lanjut dr. Ann. AII di jaringan akan menimbulkan efek jangka panjang berupa remodeling organ seperti penebalan pembuluh darah. Efek vasokonstriksi dan penebalan pembuluh darah ini pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan beberapa organ dengan endpoint, di antaranya stroke, hipertensi, gagal jantung kongestif, dan gagal ginjal. dr. Ann mengingatkan bahwa dalam memilih antihipertensi yang ideal, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal, yakni rekomendasi panduan internasional, kemampuan mencapai target tekanan darah dan kendali 24 jam, profil toleransi yang baik, serta kemampuan memberikan proteksi tambahan. Pada sebuah panduan internasional, JNC VII, penyekat-ACE menempati rekomendasi terluas pada pasien dengan gagal jantung, pasca-infark miokard, risiko PJK, diabetes, penyakit ginjal kronik, dan
pencegahan rekurensi stroke. Lebih jauh lagi, di antara golongan penyekat-ACE, perindopril (Bioprexum®) memiliki kadar ACE jaringan yang paling tinggi. Hal ini membuktikan tingginya afinitas perindopril. Selain itu, perindopril (Bioprexum®) memiliki selektivitas tinggi dalam kaitannya dengan bradikinin. Ditinjau dari efek penurunan tekanan darah, perindopril lebih superior dibandingkan dengan obat golongan RAAS lainnya, dengan durasi terpanjang, yakni 24 jam. Hal ini penting dalam upaya pencegahan serangan infark miokard atau stroke. Tak hanya itu, perindopril (Bioprexum®) juga terbukti mampu menurunkan tekanan darah pada berbagai kondisi kelainan kardiovaskular, sekaligus menurunkan angka kejadian stroke berulang (28%), kematian kardiovaskular (18%), infark miokard (24%), angka rawat karena gagal jantung (64%), dan gangguan fungsi ginjal (21%) dengan total penurunan angka kematian secara keseluruhan sebesar 21%. Temuan yang paling mencengangkan adalah studi ADVANCE, yang menunjukkan adanya penurunan kematian kardiovaskular dan kejadian koroner sebesar 18% serta 14% pada populasi diabetes dengan terapi perindopril+indapamid (Bioprexum® Plus). Jika hasil ini diterapkan pada separuh saja populasi diabetes di dunia maka setidaknya kita dapat mencegah 1,5 juta kematian tahun ini.
Pembicara berikutnya, dr. Hananto Andriantoro, SpJP (K), FIHA, FICA, membahas mengenai mekanisme proteksi pembuluh darah yang mendasari penurunan mortalitas kardiovaskular pada terapi perindopril. Salah satunya dibuktikan oleh studi EUROPA yang menunjukkan adanya penurunan ukuran plak non-kalsifikasi pembuluh darah koroner pada kelompok perindopril dibandingkan dengan plasebo. Karena hipertensi merupakan penyakit akibat kelainan pembuluh darah, pendekatan tata laksananya diutamakan pada tata laksana kelainan pembuluh darah, ungkap dr. Hananto. Tidak hanya bersifat vaskuloprotektif, perindopril juga memiliki peran kardioprotektif, yakni memperbaiki keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, menurunkan preload dan afterload ventrikel kiri, menurunkan massa ventrikel kiri, dan menurunkan stimulasi simpatis. Oleh sebab itu, Perindopril merupakan pilihan terapi yang sangat menjanjikan bagi penurunan tekanan darah, morbiditas, serta mortalitas kardiovaskular yang ditimbulkannya. (diah)







