Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Pemilihan Dressing yang Tepat Selamatkan Kaki Diabetes

 

Selamatkan kaki dari ampu­tasi (saving limbs from amputation) merupakan salah satu gol terapi pasien diabetes kronis yang sudah menunjukkan gejala dan tanda kaki diabetes. Tun­tuan pelayanan di bidang kaki diabetes meningkat seiring ber­tambahnya jumlah pasien diabetes di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Sayangnya, belum semua klinisi dan pera­wat memahami tata laksana holistik kelainan ini. Untuk itulah, Divisi Metabolik Endokrin Depar­temen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM menyelenggarakan “Pelatihan Penatalak­sanaan Kaki Diabetik Secara Holistik bagi Perawat” pada 9-12 Novem­ber 2010 dalam rangkaian Jakarta Diabetes Week 2010.

Berdasarkan definisi WHO, kaki diabetik adalah “kaki pada pasien diabetes yang rentan ter­kena berbagai proses patologi, seperti infeksi, ulserasi, dan/atau destruksi pada jaringan kulit da­lam, yang berhubungan dengan abnormalitas saraf, berbagai derajat kelainan pembuluh darah perifer, dan komplikasi metabolik dari diabetes pada ekstremitas bawah”. Boulton dalam Jurnal Diabetes menyederhanakannya menjadi “patologi pada kaki yang disebabkan baik secara langsung maupun komplikasi jangka panjang dari diabetes”.  dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD dari Divisi Metabolik Endokrin me­nyampaikan, “trilogi kaki diabetes adalah neuropati, iskemia, dan infeksi.” Dengan demikian, tata laksana yang diberikan tak hanya sebatas kontrol metabolik, melainkan juga perawatan luka infeksi.

1012-keg-dressing-CutimedTerdapat beberapa derajat dari kaki diabetes. Masing-ma­sin­g derajat ini wajib dipahami oleh semua klinisi dan perawat. De­ra­jat satu dan dua adalah kaki normal dan kaki risiko tinggi. Kedua de­ra­jat terendah ini dapa­t ditata laksana dengan pen­cegahan primer. Artinya, seor­ang klinisi atau pera­wat dapat meng­anjurkan pasien un­tuk menjaga ka­dar glukosa darah dan HbA1c menggunakan mo­difi­kasi gaya hi­dup, obat-obatan, dan pencegahan kelainan kaki. Se­mentara, pada derajat tinggi (tiga sampai enam), ma­sing-masing terdiri dari kaki ulserasi (sudah mulai luka), kaki terinfeksi, kaki nekrotik, dan kaki yang harus menjalani amputasi (unsalvable foot). Pada derajat tinggi, kaki harus ditata laksana dengan pen­cegahan sekunder.

Bila masuk derajat tinggi, tata laksana luka sudah harus siap dijalankan oleh dokter dan perawat. Dalam kuliah yang dibawakan oleh Ns. Yunisar Gultom, SKp, MCIN, luka pada ulkus diabetik wajib dikenali dan ditata laksana secepatnya. Terapi menggunakan antibiotik merupakan sebuah keniscayaan dan hal ini dapat dikonsultasikan dengan dokter umum, penyakit dalam, atau sub-spesialis endokrinologi di rumah sakit yang bersangkutan. Selain itu, pera­watan luka yang tepat mampu menyelamatkan kaki dari infeksi berkelanjutan, nekrosis, dan ampu­tasi. Untuk perawatan luka, baik dokter maupun pera­wat merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses penyembuhan pasien.

“Jangan mudah putus asa dalam merawat kaki diabetes, jangan terburu-buru memutus­kan untuk amputasi,” demikian papar perawat senior yang ahli dalam perawatan kaki diabetik ini. Salah satu langkah awal dalam perawatan luka kaki diabetes adalah pengenalan jenis luka dan penentuan terapi apa yang sebaiknya diberikan pada pasien. Selanjutnya, pemilihan dressing yang sesuai adalah langkah vital dalam perawatan luka diabetes. Dressing yang baik adalah dressing yang memiliki spektrum pemakaian yang luas, terutama untuk luka bereksudat (mengandung pus) yang banyak. Dressing yang baik juga dapat dipakai baik pada luk­a superfisial, dalam, maupun luka berongga yang seringkali menyulitkan proses penutupan luka.

Dressing juga sebaiknya mempertahakan kelembaban luka sehingga luka tidak menjadi kering, menempel pada kassa, hal yang sangat menyulitkan proses penyembuhan luka dan menyakiti kaki. Selan itu, rasa nyaman yang diberikan dressing juga penting karena hal ini berhubungan dengan kualitas hidup pasien kaki diabetes. Tak banyak dressing yang memiliki beberapa sifat tersebut. Dressing berbahan dasar kalsium natrium alginate bersifat stimulasi hemosta­tik, sehingga dapat menyerap eksudat, cairan dan darah. Sementara, dressing yang bersifat hydrocolloid sterile memiliki lapisan perekat yang sesuai untuk luka eksudat ringan sampai sedang, serta mampu mempertahankan ke­lembaban luka.

Perawatan ulkus diabetik menggunakan dressing-dressing yang baik akan mempercepat penyembuhan luka, membantu penyerapan luka dengan baik (sesuai banyaknya eksudat yang dihasilkan). Selain itu, sifat lemba­­b, lentur, dan kuat yang di­beri­­kan juga memberikan rasa nya­ma­n kepada pasien. Pe­nyem­­buhan yang cepat me­ngem­balikan semangat dan rasa percaya diri pasien. Bersamaan dengan kontrol metabolik yang teratur (modifikasi gaya hidup, diet, olahraga, dan minum obat-obatan antidiabetik), masalah kaki diabetes dapat teratasi de­nga­n baik.

Saat ini, dressing yang me­miliki sifat, model, dan dibuat menggunakan berbagai tekno­lo­gi sehingga mampu memberi­kan “pelayanan” yang dibutuh­kan pasien kaki diabetes terhitung jarang. Hal ini menyebab­kan para klinisi dan perawat “frustrasi” mencari bahan-bahan dressing yang dapat meng­atasi masalah kaki diabetes pada pasien-pasien. Di antara yang jarang tersebut, ternyata BSN Medical telah mengeluarkan inova­si produknya dengan nama dagang Cutimed® Alginate dan Cutimed® Hydro. Kelebihan produk Alginate adalah superior dalam penanganan eksudat yang banyak, mendukung pe­nyembuhan luka, memberikan efek hemostasis, mengurangi risiko maserasi, dan membantu pembersihan luka. Sementara, kelebihan produk Hydro adalah superior mengatasi luka dengan eksudat yang lebih sedikit, me­miliki perekat yang kuat dan lentur, serta mempertahankan ke­lembaban luka. Keduanya pun memberikan rasa nyaman dan bersahabat bagi para pasien. (aswin)

 

 
Banner