| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan |
Hipertensi Vena Menahun Berakhir pada Ulkus Varikosis
Penanganan pasien dengan ulkus varikosis seringkali terabaikan. Pasien yang datang ke rumah sakit terkadang harus melalui beberapa poliklinik seperti bedah umum dan bedah plastik, baru sampai ke bagian bedah vaskular. Di sisi lain, kasus ulkus varikosis umumnya terjadi karena hipertensi vena, baik karena gangguan fungsi valve, obstruksi, ataupun penyebab lain. Hipertensi vena ini dapat terjadi karena riwayat pekerjaan yang membutuhkan posisi berdiri atau duduk lama dan riwa-yat trauma pada vena. Demikian pemaparan Dr. Ismon Kusasi, SpB(K)V, dalam sesi Venous Ulcer Management yang merupakan bagian dari rangkaian acara Vein Lymph Symposium Workshop, di Jakarta, 7 November 2010.

Ulkus varikosis yang terjadi pada pasien dapat bertambah berat dengan adanya trauma, infeksi sekunder, udema, malnutrisi, dan imobilisasi. Berdasarkan gambaran ulkus, lokasi ulkus yang lazim adalah di sepertiga betis bagian bawah. Gambaran lain yakni adanya udema, eksudat, dan di sekitar ulkus ada warna yang berbeda dengan kulit yang lain. Selain mengobati ulkus varikosis, penyakit penyerta yang diderita pasien juga harus diobati untuk mempercepat penyembuhan luka. “Dan yang penting diperhatikan adalah aktivitas fisik sehingga pompa pembuluh darah lebih berfungsi,” kata Dr. Ismon.
Hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan luka (ulkus) adalah irigasi yang baik untuk mengurangi infeksi, debridement, dan pemakaian dressing yang tepat. Tindakan konservatif terhadap ulkus varikosis dilakukan dengan tindakan kompresi, pemberian obat-obatan, dan pemakaian dressing. Sementara, untuk mengatasi permasalahan ulkus varikosis dapat dilakukan dengan tindakan bedah. Tindakan ini dimulai dengan debridement, graft, ligasi pembuluh darah, dan kadang-kadang diperlukan biopsi bila dicurigai ada kelainan pada ulkus. “Saat ini, tindakan debridement juga dapat dilakukan dengan bantuan ultrasonografi (USG),” ungkap Dr. Ismon. Cara kerja USG adalah dengan mengubah gelombang elektrik menjadi gelombang ultrasound pada kisaran 25 kHz dan dicampur dengan aliran air steril. Dengan demikian, cara ini dapat membunuh kuman, merangsang pertumbuhan, dan merangsang pembuluh darah. Debridement dengan alat ini tidak dapat dilakukan hanya sekali, tetapi beberapa kali.
Pada sesi tersebut juga dipaparkan rangkaian produk perawatan luka oleh Rosiana Megasari dari PT BSN medical Indonesia. Rangkaian produk perawatan luka yang dimiliki perusahaan yang berbasis di Jerman ini terdiri dari Cutimed® Sorbact, Cutimed® Sorbact® gel, Cutimed® Cavity, dan Cutimed ® Alginate. Cutimed® Sorbact®, seperti dikatakan Mega, merupakan dressing yang efektif untuk luka yang kotor, luka kolonisasi, dan luka infeksi. Bahan ini memiliki konsep antimikroba unik yang bekerja tanpa agen kimia aktif. Bahan ini bekerja mengikat bakteri secara ireversibel dan menginaktivasi patogen luka. Dengan demikian, dressing ini dapat menghindari efek samping seperti resistansi bakteri, efek sitotoksik, dan alergi yang mungkin berkaitan dengan penggunaan antimikroba biasa, serta menciptakan kondisi yang optimal bagi proses penyembuhan luka alami.Pada kesempatan tersebut juga dilakukan Hands on yang dipandu oleh Dr. Dedy Pratama, SpB(K)V. Hands on dilakukan terhadap pasien ulkus varikosis dan pasien luka bakar. Pada pasien ulkus varikosis, seperti halnya penanganan pasien lain, dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik pada ulkus varikosis dilakukan untuk mengetahui adanya refluks. Pemeriksaan refluks dapat dilakukan menggunakan USG atau pemeriksaan fisik konvensional. Pada USG refluks dapat diketahui melalui gambaran vena pasien. Pada refluks vena akan terlihat jelas saat pasien berktivitas fisik berat, misalnya mengejan. Selain itu, pembendungan pembuluh darah pada pasien yang berdiri tegak juga dapat mengetahui refluks pada ulkus varikosis. Cara ini dikenal dengan cara konvensional.
Perawatan luka pada pasien ulkus varikosis dimulai dengan membersihkan luka dengan larutan Chlorhexidine gluconate (Cutisoft® hand scrub). Setelah itu, dibilas kembali dengan larutan steril Normal Saline. Setelah luka bersih, baru dilakukan aplikasi dressing menggunakan Cutimed® Sorbact® yang disesuaikan dengan kedalaman dan ukuran luka. Terakhir, luka yang telah tertutup dressing, dibalut dengan Fixomull® stretch. (hidayati)







