Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Inter-University Joint Symposium, Program Baru WECOC 2010

 

Sejak 1988 Departemen Kar­dio­logi dan Kedokteran Vaskular FKUI secara rutin meng­adakan pertemuan ilmiah tahunan Weekend Course on Cardiology (WECOC). Tujuan pertemuan ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan memprom­osikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kardiovaskular. Acara yang dikemas dalam pendidik­an kedokteran berkelanjutan ini ditujukan untuk kardiolog, dokter umum, perawat, dan dokter spesialis lain yang terkait. Demikian dikatakan Prof. Dr. Ganesja M. Harimurti, SpJP(K) dalam sambutan pembukaan 22nd Weekend Course on Cardiology, di Jakarta, 29 Oktober 2010.

1012-keg-joinsympo-WecocPeserta yang hadir dalam WECOC kali ini berasal dari ber­bagai kota di seluruh Indonesia. Sementara pembicara yang hadir selain dari Indonesia, juga dari negara lain seperti Jepang, Belanda, Singapura, Australia, dan Austria. Pertemuan ilmiah yang dikemas dalam susunan program ilmiah yang padat ini akan diisi oleh nara sumbar yang ahli dalam bidangnya. Dengan berbagi pengalaman dan pe­nge­­tahuan diharapkan dapat membantu kardiolog mencapai tujuan dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular di Indonesia. “Saya percaya pertemuan ilmiah ini akan memberikan pengetahuan dan persenjataan baru bagi kami untuk melanjutkan perjuangan kami melawan penyakit kardiovaskular,” kata Prof. Ganesja.

Tahun ini penyelenggara me­nawarkan program baru yang disebut Inter-University Joint Symposium  ‘simposium kerjasama inter-universitas’. Diharapkan program ini dapat dilanjutkan dari semula berbagi pengalaman pada kegiatan kali ini, menjadi berbagi pengalam­an dalam bidang riset dan pendidikan pada masa yang akan datang. Prof. Ganesja juga memberikan apresiasi yang besar pada pakar dan ilmuwan dari luar negeri yang sudah bersedia datang ke Indonesia sehingga membuat kegiatan ini menjadi lebih bermanfaat. “Pertemuan kali ini tidak hanya menyediakan program ilmiah yang menarik, namun juga memperkuat per­sa­ha­batan lama dan membangun yang baru,” ujar Prof. Ganesja mengakhiri sambutannya. 

Selain program ilmiah, se­perti penyelenggaraan sebelum-sebelumnya WECOC selalu me­nyelenggarakan pameran yang diikuti oleh puluhan perusahaan farmasi di Indonesia. PT Darya Varia merupakan salah satu pe­se­rta pameran dalam kegiatan yang diadakan dari 29-31 Oktober 2010 ini. THERAVASK, agen untuk hipertensi, menjadi produk unggul perusahaan farmasi yang berkantor di Jakarta Selatan ini. Theravask dengan komposisi amlodipine besilate 5 mg dan 10 mg ini diindikasikan untuk hipertensi, angina stabil kronik, dan angina vasospastik.

Secara farmakologi, amlo­dipine merupakan antagonis calcium golongan dihydropyridine yang menghambat influks ion calcium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung. Amlodipine be­ker­j­a dengan cara menghambat in­flu­ks ion calcium secara selekti­f, di mana sebagian besar substansi ini  berefek pada sel otot polos vaskular dibandingkan sel otot jantung. Sebagaimana terapi hipertensi yang lain, antihiper­tensi ini juga memiliki aturan pem­bagian dosis tersendiri. Dosis awal yang dianjurkan bagi penderita hipertensi adalah 5 mg satu kali sehari, dengan dosi­s maksimum 10 mg satu kali sehari (litrasi dosis dalam waktu 7-14 hari).

Agen antihipertensi lain yang memiliki indikasi khusus untuk gagal ginjal atau diabetes adalah LIFEZAR. Agen dengan komposisi Losartan Potassium 50 mg dan Losartan Potassium 100 mg ini dapat menurunkan fibrosis kardiovaskular dan memperbaiki disfungsi ginjal. Seperti diketahui mekanisme kerja Losartan adalah secara selek­tif dan kompetitif bekerja terhadap subtipe reseptor AT1, sehingga efek Angiotensin II terham­bat, dengan demikian akan menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah. Absorbsi Losartan berlangsung dengan cepat, dan makanan tidak mempengaruhi absorpsi Losartan sehingga Losartan dapa­t diberikan sebelum atau setelah makan. Pada dasarnya Losartan diindikasikan untuk kasu­s-kasus hipertensi esensial ringan sampai berat, terutama bila pasien tidak dapat meno­leran­si efek samping batuk atau resisten terhadap antihipertensi golongan lain. (hidayati)

 
Banner