| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan |
Dua Agen Antihipertensi dalam Satu Tablet untuk Hasil Lebih Baik
Pagi itu acara Lunch Symposium “Fixed Drug Combination, Any Radical Change?” berlangsung di ruang Indonesia, hotel Shangri-La Jakarta, Minggu, 14 November 2010. Simposium ini merupakan salah satu kegiatan ilmiah Ina SH (Indonesian Society of Hypertension) bekerja sama dengan Sevier.
Simposium diawali dengan dr. Arieska Ann S, FIHA, yang mengingatkan bahwa prevalensi hipertensi masih tinggi di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memiliki kecenderungan untuk terus meningkat. Pada 2000, sejumlah seperempat atau sekitar 1 miliar penduduk dunia terancam hipertensi, dan akan meningkat menjadi 29% atau sekitar 1.56 miliar pada 2025. Hipertensi sendiri dikaitkan dengan risiko berbagai penyakit kardiovaskular dan serebral sehingga menurunkan tekanan darah = menurunkan risiko penyakit dan diharapkan menurunkan mortalitas kardiovaskular.
Target terapi hipertensi adalah tekanan darah 140/90 mmHg atau 130/80mmHg pada pasien DM. Tetapi, Prof. Wiguno Prodjosudjadi, Sp PD, KGH, menggarisbawahi bahwa hanya sekitar 30% pasien yang mencapai target tersebut. Hal ini dikarenakan berbagai hal seperti terapi yang kurang adekuat, terapi yang belum menggunakan agen kombinasi, dan kepatuhan pasien yang rendah.
Untuk mengatasi masalah terapi yang kurang adekuat, Prof. Wiguno menghimbau agar para dokter tidak lagi ragu untuk menggunakan strategi terapi kombinasi. Terapi kombinasi sendiri memiliki berbagai keunggulan dibandingkan monoterapi, seperti pencapaian target tekanan darah lebih efektif dan dicapai pada lebih banyak pasien. Terapi kombinasi juga lebih cepat mencapai target terapi dibandingkan monoterapi. Hal ini penting terutama bagi pasien dengan risiko tinggi. Dengan mengombinasi obat, kita tidak perlu menaikkan dosis masing-masing obat setinggi pada terapi tunggal, karena kedua obat yang kita kombinasikan akan memberi efek sinergis menurunkan tekanan darah. Selain itu, efek samping yang timbul juga menjadi lebih sedikit.
Pada acara tersebut, pembicara tamu, Prof. Dr. Giuseppe M. C. Rosano, PhD, yang merupakan wakil ketua S.A.G. Cardiovascular of the European Medicine Evaluation Agency (EMEA) menyampaikan mengenai bukti-bukti kombinasi dari seluruh RAAS yang ada. Prof Rosano menyampaikan selama ini terdapat mitos bahwa semua ACEI adalah sama, ACEI dan ARB memiliki efek yang sama, dan proteksi kardiovaskular bergantung kepada penurunan tekanan darah. Prof Rosano menyampaikan dari seluruh studi yang ada, ada terdapat perbedaan antara ACEI, dan perindopril menunjukkan hasil yang lebih baik dalam perlindungan kardiovaskular karena Perindopril memiliki afinitas ACEI tissue dan rasio bradikinin-angiotensin 1 paling tinggi di antara ACEI lainnya, sehingga memberikan perbedaan yang lebih baik dalam penurunan tekanan darah dan perlindungan kardiovaskular.Prof Rosano juga menekankan bahwa ACEI dan ARB tidaklah sama. ACEI telah terbukti dalam banyak studi memberikan penurunan morbiditas dan mortalitas, dimana bukti ini tidak terlihat pada studi dengan ARB. Mitos mengenai penurunan tekanan darah sejalan dengan perlindungan kardiovaskular juga tidak terbukti dalam berbagai penelitian. Harus terdapat bukti yang konkret mengenai perlindungan kardiovaskular, tidak hanya mengenai penurunan tekanan darah.
Studi ASCOT-BPLA (Anglo-Scandinavian Cardiac Outcomes Trial-Blood Pressure Lowering Arm) merupakan sebuah penelitian uji klinik acak multicenter. Penelitian ini menemukan bahwa rejimen kombinasi amlodipin dan perindopril mencegah gangguan kardiovaskular lebih efektif dan menurunkan new onset diabetes dengan signifikan dibandingkan rejimen dengan atenolol dan beta blocker yang merupakan standard therapy selama ini. Kombinasi regimen Amlodipine + Perindopril adalah satu-satunya kombinasi yang memiliki bukti akan adanya penurunan mortalitas dan perlindungan kardiovaskular.
Untuk mengatasi masalah kepatuhan pasien minum obat, Prof Rosano menyarankan untuk menggunakan terapi kombinasi berdosis tetap (fixed drug combination). Dengan pemberian fixed drug combination ini, jumlah pil yang harus pasien konsumsi sehari-hari akan berkurang, pasien akan lebih nyaman dan lebih patuh minum obat.
Pada studi EUROPA kombinasi perindopril dengan kalsium antagonis terbukti dapat menurunkan lebih banyak mortalitas dibandingkan kombinasi kalsium antagonis dengan plasebo (46% dibandingkan 35%). Selain itu, kombinasi perindopril dan amlodipin (salah satu penghambat kalsium) diketahui memiliki efek sinergis dalam menurunkan tekanan darah, menurunkan kerusakan target organ, menurunkan kejadian gangguan serebrovaskular, dan menurunkan mortalitas. Selain itu, variabilitas tekanan darah dapat dikurangi oleh kombinasi ini sehingga tekanan darah akan terkendali selama 24 jam, di samping kepatuhan pasien yang meningkat karena jumlah pil kombinasi dosis tetap yang harus dikonsumsi lebih sedikit dibanding mengombinasikan kedua pil obat yang bukan kombinasi dosis tetap.
Dr. Santoso Karo Karo, MPH, FIHA, menjelaskan mengenai hasil penelitian CAFE (Conduit Artery Function Evaluation) yang dilaporkan oleh Bryan Williams dan kawan-kawan. Mereka meneliti perbedaan luaran kejadian kardiovaskular pada terapi hipertensi, bukan sekadar penurunan tekanan darahnya. CAFE membandingkan kombinasi terapi perindopril+amlodipin dengan atenolol+tiazid. Dari 2199 pasien bertekanan darah 160 mmHg sistolik dari penelitian ASCOT (CAFE merupakan bagian dari ASCOT) yang diikuti selama 4 tahun. Ditemukan bahwa kombinasi amlodipin+perindopril menurunkan central aortic blood pressure lebih rendah sebesar 4.3 mmHg (95% CI 3.3-5.4; p<0.0001). Central aortic blood pressure ini yang menyebabkan rendahnya kejadian gangguan serebrovaskular dan gangguan ginjal pada pasien kelompok amlodipin-perindopril.
ACEI lebih efektif daripada CCB dalam pencegahan CHD, sedangkan CCB lebih efektif daripada ACEI dalam pencegahan stroke, sehingga ACEI dan CCB merupakan dua agen yang tepat untuk dikombinasikan. Tidak hanya itu, kombinasi Perindopril dan Amlodipine merupakan kombinasi yang kuat dalam penurunan tekanan darah dan penurunan total mortalitas. Pada studi STRONG, kombinasi Perindopril dan Amlodipine memberikan penurunan SBP hingga 63 mmHg pada pasien dengan tekanan darah >180 mmHg
Efek samping amlodipin yang sering muncul pada pemberian tunggal seperti edema tungkai tidak banyak terjadi pada kombinasi amlodipin dan perindopril ini. Pada pemberian amlodipin saja, ia akan mendilatasi arteriol sedangkan venula tidak, sehingga tekanan hidrostatik meningkat dan menimbulkan edema perifer. Dengan penambahan Perindopril, venula akan terdilatasi juga sehingga jarang terjadi edema.
Efek samping golongan ACE inhibitor yang banyak dikeluhkan yaitu batuk, sangat jarang terjadi pada perindopril dibandingkan agen ACE inhibitor lainnya. Kejadian ini bahkan lebih rendah lagi pada kombinasi perindopril dengan amlodipin dibandingkan perindopril saja (2,7% pada penelitian EUROPA dan 1,5% pada penelitian STRONG).
Dalam kesempatan ini, Prof Rosano juga menekankan bahwa tujuan pengobatan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah, menurunkan morbiditas serebrovaskular, menurunkan mortalitas serebrovaskular, dan meningkatkan kualitas hidup. Perlu digarisbawahi bahwa menurunkan tekanan darah saja seperti pada terapi dengan agen lain/strategi lain tidaklah cukup. Penurunan morbiditas dan mortalitas untuk meningkatkan kualitas hidup pasien adalah hal yang harus diperhatikan, seperti pada strategi terapi kombinasi ini. (nh_gita)






