| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan |
Penyakit Kardiovaskular Penyebab Kematian Utama di Indonesia
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu secara global dan diproyeksikan tetap menjadi penyebab utama kematian di Indonesia untuk beberapa tahun belakangan ini. Beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular yang teridentifikasi seperti hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes, dan kebiasaan merokok menjadi penyebab disfungsi endotel. Hal ini merupakan respons tetap faktor risiko kardiovaskular dan awal perkembangan aterosklerosis. Pada hiperkolesterolemia, endotel abnormal merupakan penyebab sekunder penurunan sintesis nitric oxide (NO) dan/atau peningkatan degradasi NO akibat interaksi dengan anion superoksida. Demikian disampaikan DR. Dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K), dalam salah satu sesi Weekend Course on Cardiology (WECOC), di Jakarta, 30 Oktober 2010.
Produksi radikal bebas superoksida akan mengaktivasi NO dan dengan cepat bereaksi dengan NO menjadi bentuk peroksinitrit (ONOO-) yang sangat reaktif dengan sifat sitotoksik, demikian terang Dr. Hananto. Pasien dengan hipertensi memiliki kelainan pada endotel yang berasal dari sistem nitric oxide yang dapat meningkatkan resistansi vaskular dalam kondisi basal dan gangguan respons endotel-terkait vasodilator. Telah diketahui, amlodipine merupakan obat utama pada terapi hipertensi, angina pektoris, dan penyakit arteri koroner. Obat ini menyebabkan relaksasi dan vasodilatasi pembuluh darah melalui ikatan calcium channel tipe-L pada otot halus. Obat ini juga meningkatkan produksi NO.
Obat lain, atorvastatin, seperti diterangkan Dr. Hananto, memiliki respons yang baik untuk menurunkan kadar low-density lipoprotein (LDL) plasma. Obat ini juga dapat berlaku sebagai antioksidan poten melalui peran metabolit hidroksi aktif. Kombinasi amlodipine dengan metabolit atorvastatin menunjukkan efek antioksidan sinergistik pada peroksidasi lipid LDL manusia dan memperkaya membran vesikula dengan asam lemak polyunsaturated. Penghambatan kerusakan radikal-oksi dengan kombinasi obat ini telah diobservasi lebih baik pada tingkatan terapeutik dibandingkan dengan kombinasi amlodipine dengan statin lain. Oleh karena itu, amlodipine-atorvastatin merupakan kombinasi obat sinergistik yang memiliki manfaat melawan hipertensi dan hiperkolesterolemia.
Selama penyelenggaraan WECOC, panitia juga mengadakan pameran farmasi yang diikuti oleh puluhan perusahaan farmasi di Indonesia. Salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam acara tersebut adalah PT Actavis Indonesia yang mengedepankan produknya Actalipid. Actalipid dengan komposisi atorvastatin calcium 10 mg dan 20 mg ini diindikasikan untuk terapi tambahan untuk menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL, apolipoprotein B, dan trigliserida pada pasien-pasien dengan hiperkolesterolemia primer, hiperlipidemia campuran, serta hiperkolesterolemia keturunan homozigot dan heterozigot bila respons terhadap diet dan terapi nonfarmakologis lain tidak adekuat.Obat ini dapat mencegah komplikasi kardiovaskular: pada pasien hipertensi (yang berusia 40 tahun atau lebih) dan dislipidemia dengan paling sedikit tiga faktor risiko untuk kejadian kardiovaskular seperti left venticular hipertrophy (LVH), abnormalitas echocardiography (ECG), NIDDM, penyakit pembuluh darah perifer, pascariwayat kejadian serebrovaskular, termasuk TIA ³ 3 bulan lalu, mikroalbuminuria/ proteinuria, kebiasaan merokok (lebih dari setahun paling tidak 20 batang/minggu), rasio kolesterol total/kolesterol HDL ³ 6, dan riwayat kejadian penyakit arteri koroner tahap awal sebelum usia 55 tahun (pria) atau 60 tahun (wanita). Atorvastatin diindikasikan untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner fatal dan infark miokard; menurunkan risiko stroke; dan menurunkan risiko prosedur revaskularisasi dan angina pektoris.
Penggunaan atorvastatin disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu berdasarkan kadar kolesterol LDL baseline, tujuan terapi, dan respons pasien. Setelah inisiasi dan/atau titrasi atorvastatin, kadar lipid harus dianalisis 2-4 minggu dan dosis disesuaikan. Untuk hiperkolesterolemia dan hiperlipidemia, kombinasi dosis atorvastatin adalah 10 mg sekali sehari. Sedangkan untuk hiperkolesterolemia familial homozigot, dosis atorvastatin 80 mg sehari sekali. Pada pasien hiperkolesterolemia familial homozigot pasien anak-anak (10-17 tahun), dosis atorvastatin yang dianjurkan adalah 10 mg/hari, dosis maksimum yang dianjurkan 20 mg/hari. Secara umum, penyesuaian dosis harus dilakukan pada kurun waktu 4 minggu atau lebih. (hidayati)






