Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Lactobacillus reuteri Membawa Banyak Manfaat bagi Saluran Cerna

 

Era probiotik telah menjelang bagi kesehatan saluran cerna seluruh umat manusia di dunia. Sejak ditemukan pertama kali oleh Ellie Metchnikoff pada abad ke-19, probiotik telah diteliti oleh ribuan ilmuwan lain, baik dokter maupun ahli biomedis dan nutrisi di seluruh dunia. Para dokter dan peneliti sangat gandrung terhadap “bakteri baik” yang menjadi baha­n makanan ini karena manfaatnya yang sangat besar bagi kesehatan. “Probiotik membantu regulasi homeostasis dalam tubuh, khususnya saluran cerna manusia,” papar Prof. dr. H. A. Aziz Rani, SpPD, KGEH, dalam Pertemuan Ilmiah Nasional Per­himpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PIN PAPDI) ke-8 di Malang, Jawa Timur, 5-7 Novem­ber, 2010 lalu.

Dalam kaitannya dengan imunitas, probiotik mening­kat­kan akses bakteri patogen ke sis­tem imun (Th 1 dan Th 2) se­hing­ga mencegah reaksi berle­bih­an dari sistem imun terhadap bakteri komensal. “Akibatnya, flo­ra normal usus terjaga de­ngan baik dan berbagai reaksi inflamasi yang merugikan dapat ditekan,” papar Prof. Aziz Rani. Ditambahkan oleh gastroenterolog senior dari FKUI/RSCM itu, normalisasi sistem imun usus dan degradasi antigen yang diberikan probiotik membuat makanan ini dapat dipakai se­bag­ai obat bagi irritable bowel syndrome atau IBS.

1012-keg-lactoba-PIN-PAPDISalah satu genus probiotik yang sangat terkenal sejak awal dekade ke-20 adalah Lacto­ba­cillus. Makanan ini memiliki kha­siat anti-inflamasi dan imunosti­mulator (membantu menstimulasi sistem imun) yang sangat baik. “Manfaatnya memang strain-specific,” ujar Prof. Aziz Rani. Hal itu membuat para peneliti cenderung melakukan studi mendalam terhadap ma­sin­g-masing spesies atau strain. “Penggunaan single-strain lebih populer dan bagus karena dapat ditelaah dengan detail manfaat yang diberikan oleh satu strain saja,” sambungnya. Di masa kini, beberapa strain atau spesies sudah menjadi bahan makanan yang dikonsumsi oleh masya­ra­kat awam. Selain itu, beberapa strain atau spesies lagi diguna­kan sebagai bahan dasar produk farmasetikal. “Keduanya merupakan pendekatan yang bagus bagi dunia kesehatan. Yang pasti, tingkat keamanannya suda­h teruji melalui studi klinis,” ucap Prof. Aziz Rani lagi.

 Pada dasarnya, manfaat probiotik yang sangat menonjol adalah mencegah kolonisasi bakteri patogen di lambung, duodenum, ileum, dan kolon. Aksi ini akan menurunkan risiko terkena berbagai penyakit sa­lura­n cerna seperti diare akibat berbagai macam infeksi, IBS, gastritis, ulkus peptikum, sampai kanker lambung dan kolon sebagai manfaat jangka panjang. “Probiotik akan merangsang mo­dulin bekerja mempertahan­kan keseimbangan ekologi salur­­an cerna,” papar dr. Marcellus Simadibrata, SpPD, KGEH, PhD dari FKUI/RSCM. Menambahkan apa yang telah dijelaskan senior­nya, dr. Marcellus memaparkan serangkaian penyakit yang dapa­t diturunkan kejadiannya dengan mengonsumsi pro­bio­tik. “Frekuensi dan lama dia­re in­feksi akut maupun kronis, diare oportunistik pada pasien HIV/ AIDS, diare akibat penggu­na­an antibiotik jangka panjang, serta menurunkan deraj­at infeksi Helicobacter pylor­i,” cetus peraih gelar PhD dari University of Amsterdam ini.

Strain Lactobacillus reuteri merupakan salah satu strain yang paling menonjol kelebih­an-kelebihannya. Hal itu ditunjukkan oleh ratusan penelitian klinis yang dilakukan para klinisi dan ahli biomedis serta nutrisi di seluruh dunia. Selain bekerja dengan menurunkan lama dan frekuensi diare dan mening­kat­kan sistem imun, strain ini juga menurunkan metabolit ammonium, enzim-enzim prakanker, memperbaiki profil tinja dan mencegah konstipasi, serta seca­ra umum menurunkan insidens berbagai kanker saluran cerna. “Penelitian-penelitian terhad­ap strain reuteri sudah mencapai tahap meta-analisis,” cetus Ketua Perkumpulan Endos­kopi Gastrointestinal Indonesia ini. “Salah satu meta-analisis yang dihasilkan D’Santa pada 2002 menunjukkan manfaat probiotik yang sangat besar bagi pencegahan diare terkait antibiotik (antibiotic-related diar­­r­hea),” lengkap dr. Marcellus. Sementara itu, ratusan peneliti­an lain dilakukan di berbagai pusat penelitian dan pendidikan gastroenterologi di berbagai belah­an dunia.

Di RSCM sendiri, Marcellus bersama beberapa sejawat dari Divisi Infeksi Tropik Ilmu Penyakit Dalam dan Departemen Patologi Klinik RSCM juga sudah melaksanakan penelitian terhadap Lactobacillus reuteri. Hasilnya, insi­dens diare akut terkait anti­bioti­k turun 9,6% pada pasien rawat inap di RSCM. Beberapa gejala juga berkurang seperti mual, muntah, kembung, dan nyeri epigastrium. “Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan probiotik protektif terhadap diar­e dan berbagai gejala terkait penggunaan antibiotik jangka panjang,” tegas dr. Marcellus mantap. dr. Marcellus juga menambahkan bahwa untuk penyakit-penyakit IBD (inflammatory bowel disease) seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, Lactobacillus reuteri sanga­t tepat dipakai sebagai maintenance therapy agar penyakit tidak berulang dan inflam­asi ditekan.

Sebagai presentasi pamung­kas, Karin Diderot, ahli gizi senio­r dari lembaga penelitian besar di Swedia, Biogaia, memaparkan penggunaan Lactoba­cillus reuteri secara klinik. “Hasil penelitian klinis terkait Lacto­bacillus reuteri sudah dipublikasikan secara resmi dalam 43 jurnal internasional dan dua tesis doktoral,” demikian ucap Diderot pagi itu. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaannya pada manusia sudah tidak perlu diragukan lagi. “Sebanyak 75% clinical trial dari semua peneliti­an terpublikasi resmi itu membe­rikan hasil yang positif terhadap penggunaan Lactobacillus reu­teri,” tegas perempuan asal Malmo, Swedia, itu.

Tak berbeda dari apa yang sudah dinyatakan oleh dr. Marcellus, Diderot juga memaparkan manfaat strain reuteri pada pasien diare akut dan kroni­s, diare terkait kemoterapi, diare terkait antibiotik, IBS, IBD, diare terkait obat-obatan era­dikasi Helicobacter pylori, serta menurunkan persentase gejala abdominal lainnya. “Diare kronis pada pasien HIV serta diare anak-anak juga sesuai men­da­pa­t Lactobacillus reuteri,” ucap Diderot. “Semuanya ber­dasar­kan pada evidence based medicine yang berkualitas,” tambah Diderot. Penggunaan­nya di klinik dapat dalam bentuk produk farmasetikal dan aman dikonsumsi jangka panjang. Di Indonesia, produk ber­ba­han dasar probiotik Lacto­bacillus reuteri diproduksi oleh Kalbe Farma dengan nama dagang Rillus. Sudah saatnya kesehatan saluran cerna kita berkenalan dengan probiotik. u (aswin)

 

 
Banner