Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Profil

Dr. Samino, SpS(K)

Obat-obat Hipnotik Efektif untuk Pasien Insomnia

 

Tak menduga sebelumnya bahwa dokter menjadi profe­si yang digelutinya hingga sekarang ini. Sebenarnya, pria kelahiran Baturetno ini, bercita-cita menjadi tentara. Namun, karena tidak meme­nuhi syarat akhirnya cita-cita ter­sebut tak tergap­ai. Berkat do­rongan dari kakak sepupu­ny­a, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA1) Budi Utomo ini men­daftar di beberapa per­guru­an tinggi negeri seperti Istitut Teknologi Bandung, Uni­ver­sitas Indonesia, dan Beasis­wa Kolombo Plan. Akhir­nya, beliau diterima di Fakultas Kedokt­eran Universitas Indonesia. Dr. Samino, SpS(K) merupakan sosok dokter yang berpengetahuan luas dan aktif di berba­g­ai organisasi. Kami temui di sela-sela jadwal praktiknya di Rumah Sakit Islam Jakarta, be­ber­apa waktu lalu, Dr. Samino memaparkan kiprahnya dalam bidang spesialisasi saraf dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bidang tersebut.

1012-Profil-SaminoSalah satu organisasi profesi yang ditekuni dokter yang lulus sebagai spesialis saraf tahun 1977 ini, adalah Perhim­punan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Organi­sasi lain yang juga ditekuninya adalah Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI) dimana beliau menjabat sebagai ketua umum sejak 2000. Di balik pembentukan AAzI ini terselip cerita unik yang tidak dapa­t dilupa­kannya. Cerita berawal ketika beliau menghadiri konferensi Elderly People  penyandang deme­nsia tingkat Asia Pasifik yang berlangsung di Singa­pura, 1999. Dalam sesi Country Report , Dr. Samino yang kala itu hadir bersama kolegan­ya ditanya oleh peserta negara lain, “Indonesia kan negara dengan jumlah lansia yang cukup banyak. Kok belum ada organisasi yang memperhatikan masalah yang terkait lansia?” kenangnya. Cerita itu membuatnya tertantang untuk mendirikan organisasi pemerhati yang peduli terhadap masya­rakat lansia yang me­nyandang demensia. Oleh karena itu, pada tahun 2000, bersama dengan beberapa orang relawan beliau mendiri­kan organisasi pemerhati dan peduli masalah demensia Alzheimer’s di Indonesia.

Kemudian obrolan kami beralih pada bahasan tentang penyakit terkait gangguan saraf. Menurut ayah dari tiga anak ini, gangguan terbanyak yang sering ditangani dalam praktik sehari-hari adalah stroke, kasus-kasus trauma (brain injury), penyakit infeksi seperti meningitis, serta penya­kit degeneratif lain seperti par­kinson dan demensia Alzhei­mer. Selain itu, pasien yang mengalami gangguan tidur (inso­mnia) juga sering ditemu­kan. “Biasanya orang-orang lansia mengalami pe­ngu­r­ang­an waktu tidur dan kecepatan mudah tidur. Itu lazim pada orang-orang usia lanjut,” ungkapnya. Meski demikian, kasus-kasus insomnia pada orang muda juga tak kalah banyaknya. Pada pasien yang meng­alami gangguan tidur, penatalaksanaan dilak­ukan sesuai dengan berat-ringannya kasus dan sejauh mana insom­ni­­a mengganggu kualitas hidup pasien. “Pada orang-orang yang mengalami insomnia berat pada awalnya diperlukan obat-obat penenang atau obat yang memudahkan tidur. Kadang-kadang sampai obat-obat yang sifatnya hipnotik,” kata Dr. Samino.

Obat-obat yang bersifat hipnotik efekti­f untuk pasien insomnia. Namun demikian, bila gangguan insomnia disertai latar belakang psikiatris maka diperlukan juga psikotropika sehingga pasien harus dirujuk ke psikiater. Menurut dokter yang juga menjabat sebagai ketua Neuroscience Working Group Rumah Sakit Islam Jakar­ta ini, ada kriteria ter­sen­diri untuk memberikan obat-obat yang bersifat hipnotik. “Bila berdasarkan kete­rang­an pasien ia tidak bisa tidur sama sekali selama se­mingg­u maka obat-obat hipnotik diindi­kasi­­kan,” terang­nya. Selain itu, pem­berian obat-obat hipnotik juga diberikan ber­dasarkan latar belakang gangguan tidur yang dialami pasien. Pada pasien yang mengalami gangguan tidur karena an­sieta­s mak­a dapat diberikan obat hipnotik sesuai gangguannya. Bila dengan obat yang lebih ringan, misalnya golongan alpra­zolam, tidak efektif maka digunakan obat golongan lain seperti golongan esta­zol­am. “Estazolam diberikan mulai dari dosis 1 mg,” kata dr. Samino. Pada obat golongan ini, dosis dapat ditingkatkan sampai 2 mg. Mekanisme kerja estazolam yaitu pada kebugaran sel saraf. “Estazolam menekan eksitasi neurotransmiter sel-sel saraf,” terangnya.

Pada pasien yang diberikan estazolam biasanya gangguan tidur yang dialami pasien sudah tergolong berat. Berdasar­kan pengalaman beliau, pada praktik sehari-hari, pasien yang mengalami gangguan ansietas dan tension headache dapat ditera­pi dengan alprazolam. Namun, bila gangguan tersebut sudah disertai dengan gangguan tidur maka digunakan obat hipnot­ik golongan estazolam. “Bila pasien ketambahan tidak bisa tidur maka kita berali­h ke estazolam.” 

Pengujian preparat sebuah obat, menurut Dr. Samino, yang dapat dilakukan oleh seoran­g dokter adalah mendasarkan pada pengalaman. Sementara, pengujian-peng­uji­a­n farmakodinamik, bioekuiva­lensi, dan bioavailabilitas, menurut dokter yang pernah berkecimpung di bidang administrasi FKUI ini, dikerjakan di istitusi farmasi dan menjadi wewenang BPOM untuk me­nge­sahkan. Bila sebuah obat sudah boleh beredar menurut BPOM maka boleh dipakai. Pengujian bioavailabilitas (BA) dan bioekuivalensi (BE), menurut Dr. Samino, penting dilaku­kan. “Perusahaan farmasi ha­rus melakukan uji BA dan BE dan memberitahukan hasilnya kepada kita (dokter).” Dan yang lebih penting lagi, uji-uji tersebut harus dilakukan oleh institusi indep­enden.

Dalam pengujian BA/BE, Badan POM memegang peranan penting. Dalam hal ini, BPOM bertugas melindungi masyara­kat banyak, melindungi profesi dokter, dan melindungi produsen. “Produsen menge­luarkan suatu produk yang akan dikonsumsi masyarakat, maka produk tersebut harus sesuai dengan kaidah ilmiah, kaidah manfaat, dan kaidah keterjangkauan,” tegasnya.  (hidayati)

 

 
Banner