| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Artikel Penyegar |
Terapi Terbaru Diabetes Melitus Tipe 2
ALIUS CAHYADI
Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Pendahuluan
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit terpenting saat ini, di mana terjadi peningkatan insiden dan prevalensi sebanyak 3% setiap tahunnya di berbagai penjuru dunia.1-5 Diperkirakan, pada 2025 sekitar 350 juta penduduk dunia menderita penyakit ini.6 Prevalensi DM di Indonesia pada 2007 mencapai 1,1%. Menurut WHO, akan terjadi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada 2030.1,2
DM tipe 2 merupakan penyakit kronik dan kompleks yang melibatkan berbagai defek patofisiologis, meliputi gangguan fungsi pankreas dan resistansi insulin yang menyebabkan gangguan toleransi glukosa serta produksi yang tidak tepat dari glukosa hati yang tinggi saat puasa.5-7 Perkembangan dan progresivitas komplikasi dari penyakit ini, baik makrovaskular (penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, dan vaskular perifer) maupun mikrovaskular (nefropati, neuropati, retinopati) dapat diturunkan dengan meningkatkan pengendalian kadar glukosa darah secara optimal, di mana penurunan 1% dari hemoglobin glikosilasi (A1C) dapat menurunkan sekitar 37% risiko komplikasi mikrovaskular.3,6-9 Pengendalian kadar glukosa darah yang optimal ini dapat dilakukan dengan terapi gizi medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau insulin.1,9,10 Namun, masih banyak penderita DM tipe 2 ini yang belum bisa mencapai target kadar A1C yang dianjurkan, yaitu <7%, walaupun telah menggunakan dosis maksimal kombinasi OHO.6,9,10 OHO yang ada saat ini pada awalnya efektif untuk menurunkan kadar glukosa darah, tetapi tidak ada satu pun yang dapat mempengaruhi proses patogenesis DM tipe 2, yaitu menghentikan penurunan fungsi sel beta pankreas.7 Untuk mengatasi masalah ini, dikembangkanlah penghambat dipeptidyl peptidase IV (DPP4).
Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.







