| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Artikel Penyegar |
Hipotiroidisme pada Usia Lanjut
INDRA KURNIAWAN
Puskesmas Pangkalbalam, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.
Pendahuluan
Hipotiroidisme sering dijumpai seiring dengan peningkatan usia. Pada kaum usia lanjut (lansia), prevalensi hipotiroidisme antara 5-20% pada wanita dan 3-8% pada pria. Defisiensi hormon tiroid dapat terjadi sebagai akibat kegagalan produksi hormon dari kelenjar tiroid itu sendiri (hipotiroidisme primer), atau yang lebih jarang, akibat produksi Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang tidak adekuat karena kelainan pada hipotalamus atau hipofisis (hipotiroidisme sentral atau sekunder).1,2Pada lansia, hipotiroidisme seringkali mengalami underdiagnosis dikarenakan manifestasi klinisnya yang sering bersifat atipikal dan seringkali dipikirkan berkaitan dengan proses penuaan. Mengingat hormon tiroid berperan di dalam metabolisme hampir semua organ di dalam tubuh maka hipotiroidisme dapat menimbulkan banyak tanda dan gejala klinis pada berbagai sistem organ.1,2
Untuk dapat melakukan manajemen penderita hipotiroidisme dengan baik, terlebih dahulu perlu dipahami mengenai fungsi hormon-hormon yang terlibat pada regulasi kelenjar tiroid. Hipotalamus mensekresi Thyrotropin Releasing Hormone (TRH), yang dapat menstimulasi pengeluaran Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dari hipofisis. TSH akan meningkatkan sintesis dan pelepasan hormon-hormon tiroid (T3 dan T4) pada kelenjar tiroid.3
Apabila produksi hormon-hormon tiroid telah dianggap cukup maka hormon-hormon tersebut akan menghambat produksi hormon lebih lanjut dengan menghambat produksi TSH. Saat konsentrasi hormon T3 dan T4 di dalam jaringan tubuh menurun, akan terjadi pelepasan TRH kembali, dan kemudian terjadi stimulasi TSH untuk kembali memproduksi hormon-hormon tiroid.3
Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.







