| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Artikel Penyegar |
Irbesartan dalam Progresivitas Nefropati Diabetik: Studi In Vitro
Nefropati diabetik merupakan penyebab utama gagal ginjal pasien diabetes melitus tipe 2. Keadaan ini diperhitungkan sebagai penyebab kecacatan dan kematian yang tinggi. Pada kondisi ini, glomerulus pasien diabetes mengalami perubahan struktural serta fungsional, antara lain berupa hiperfiltrasi glomerulus, penebalan membran basalis glomerulus, dan perluasan matriks ekstraseluler mesangial. Hingga saat ini, telah diketahui bahwa perubahan pada tubulointerstisial merupakan proses yang lebih penting dibandingkan glomerulopati pada prognosis ginjal pasien nefropati diabetik.
Berbagai penelitian telah membuktikan peran aktif sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA) pada patogenesis nefropati diabetik ini. Di sisi lain, diketahui pula bahwa reaksi Maillard (yaitu suatu proses modifikasi protein non-enzimatik melalui reduksi gula) terjadi lebih cepat pada individu dengan diabetes, sehingga terbentuklah advanced glycation end products (AGE) secara in vivo. Saat ini diyakini bahwa aksis AGE dan reseptornya (RAGE) tersebut memberi andil dalam patogenesis nefropati diabetik. Ikatan AGE-RAGE akan mengaktivasi sinyal yang kemudian mencetuskan reaksi stres oksidatif, inflamasi, dan respons fibrogenik pada sel-sel renal. Keadaan inilah yang berpengaruh pada kejadian dan perkembangan nefropati diabetik. Belum diketahui ada tidaknya hubungan antara RAS dengan AGE pada patofisiologi nefropati diabetik. Manakah yang paling berpengaruh juga belum dapat dijelaskan.
Irbesartan, suatu angiotensin II type 1 receptor blocker (ARB), tidak hanya mampu menurunkan tekanan darah; tetapi sebagai inhibitor RAS agen ini juga memberi efek pleiotropik terhadap nefropati diabetik. Penelitian telah menunjukkan irbesartan secara signifikan mencegah progresivitas nefropati pada pasien diabetes melitus tipe 2 dibandingkan dengan pemberian penghambat kanal kalsium seperti amlodipin yang juga memiliki kekuatan efek penurunan tekanan darah yang sama.
Sebuah penelitian laboratorium terbaru dilakukan Matsui dkk., dan dipublikasikan pada 2010. Penelitian tersebut bertujuan mengetahui apakah irbesartan mampu mencegah apoptosis sel tubular renal (yang diinduksi AGE yang menyebabkan kerusakan dan kematian sel secara in vitro) dan bagaimanakah mekanisme kerjanya.Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.







