| Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Saripati |
Analisis Faktor yang Memengaruhi Outcome setelah Transplantasi Ginjal yang Didonorkan setelah Mati Jantung di Inggris: Studi Kohort
Summer DM, Johnson JR, Allen J, dkk.
The Lancet, Early Online Publication, 19 August 2010
Sepertiga dari seluruh donor ginjal di Inggris didonorkan setelah mati jantung, namun perhatian terhadap outcome jangka panjang transplantasi ini semakin mening-kat. Peneliti bertujuan menentukan outcome ginjal yang didonorkan setelah mati jantung versus mati otak, dan untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi survival serta fungsi transplantasi ini. Peneliti menggunakan data dari registrasi transplantasi Inggris untuk memilih kohort donor ginjal mendiang dan penerima cangkok yang sesuai (usia > 18 tahun) untuk transplantasi yang dilakukan antara 1 Januari 2000 hingga 31 Desember 2007. Estimasi Kaplan-Meier digunakan untuk menilai survival transplantasi dan fungsi ginjal jangka panjang, yang diukur dari estimated glomerular filtration rate (eGFR). Sebanyak 9.134 transplantasi ginjal telah dilakukan di 23 senter; sebanyak 8.289 ginjal telah didonorkan setelah mati otak dan 845 setelah mati jantung terkontrol. Penerima ginjal pertama dari donor mati jantung (n=739) atau donor mati otak (n=6.759) menunjukkan tidak ada perbedaan pada survival cangkok sampai lebih dari 5 (rasio hazard 1,01; 95% CI 0,83–1,19; p=0,97), atau pada eGFR pada 1–5 tahun setelah transplantasi (pada 12 bulan –0,36 mL/min per 1,73 m2; 95% CI –2,00 – 1,27; p=0,66). Untuk penerima ginjal dari donor mati jantung, peningkatan usia donor dan penerima, transplantasi ulangan, serta waktu iskemik lebih dari 12 jam berhubungan dengan perburukan survival cangkok; cangkok dari donor mati jantung yang HLA-nya kurang sesuai berhubungan dengan keluaran inferior yang tidak signifikan. Sebaliknya, keterlambatan fungsi cangkok dan waktu iskemik hangat tidak berdampak pada keluaran. Ginjal dari donor mati jantung terkontrol menghasilkan survival cangkok yang baik dan fungsinya sampai 5 tahun pada penerima pertama, serta ekuivalen pada ginjal dari donor mati otak. Alokasi kebijakan penggunaan donor ginjal penderita mati jantung dapat menurunkan waktu iskemik dingin, menghindarkan ketidakcocokan usia yang besar antara donor dan penerima, dan membatasi penggunaan ginjal yang kurang cocok dengan HLA pada penerima berusia muda.







