Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVI - 2010 - Saripati

Hubungan Upaya Bunuh Diri dengan Gangguan Jerawat dan Terapi dengan Isotretinoin: Studi Kohort Retrospektif Swedia

 

Sundström A, Alfredsson L, Forsberg GS, dkk.

BMJ 2010; 341:c5812 doi: 10.1136/bmj.c5812 (Published 11 November 2010)

Studi ini dilakukan untuk menilai risiko upay­a bunuh diri sebelum, selama, dan setelah terapi dengan isotretinoin untuk gangguan jerawat berat. Studi didesain secara kohort retrospektif yang meng­hu­bung­kan nama pasien yang terdaftar sebagai pengguna isotretinoin (1980-1989) dengan data pasien keluar dan daftar penyebab kematian (1980-2001). Populasi studi ini terdiri 5756 pasien berusia 15-49 tahun yang diresepkan isotretinoin untuk gangguan jerawat berat yang diobservasi untuk 17197 orang-tahun sebelum terapi, 2905 orang-tahun selam­a masa terapi, dan 87120 orang-tahun setelah terapi. Rasio insidens terstandar (jumlah yang diobservasi dibagi dengan jumla­h upaya bunuh diri yang diperkirakan yang diterstandar dengan jenis kelamin, usia, dan tahun kalender), dihitung sampai tiga tahun sebelum, selama, dan sampai 15 tahun setelah terapi berakhir. Sebanyak 128 pasien dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan karena upaya bunuh diri. Selama setahun sebelum terapi, rasio insidens terstandar upaya bunuh diri meningkat: 1,57 (95% confidence interval 0,86 –2,63) un­tuk keseluruhan upaya (termasuk peng­ulang­an) dan 1,36 (0,65—2,50) jika dihitung ha­nya upaya pertama. Rasio insidens terstandar selama dan enam bulan setelah tera­pi sebesar 1,78 (1,04—2,85) untuk keseluruhan upaya dan 1,93 (1,08—3,18) untuk upaya pertama. Tiga tahun setelah terapi dihe­ntikan, jumlah upaya yang diobservasi mendekati jumlah yang diperkirakan dan tetap sama selama 15 tahun follow up: rasio insidens terstandar 1,04 (0,74—1,43) untuk semua upaya dan ),97 (0,64—1,40) untuk upaya pertama. Duabelas (38%) dari 32 pa­sien yang melakukan upaya bunuh diri pertamanya sebelum terapi melakukan upaya baru atau berkomitmen untuk bunuh diri setelah itu. Sebagai perbandingan, sepuluh (71%) dari 14 yang melakukan upaya baru 6 bulan setelah terapi, berhenti berusaha atau  melakukan bunuh diri selama follow up (tes proporsi 2 sample , P=0,034). Jumlah yang diperlukan adalah 2300 terapi enam bulan baru per tahun untuk satu tambahan upaya bunuh diri pertama sampai terjadi dan 5000 terapi per tahun untuk satu tambahan peng­ulangan upaya. Peningkatan risiko upaya bunuh diri terlihat jelas sampai enam bulan setelah akhir pengobatan dengan isotre­tinoin, yang memotivasi pemantauan lebih dekat pada pasien untuk perilaku bunuh diri sampai satu tahun setelah terapi berakhir. Namun risiko upaya bunuh diri sudah me­ningkat sebelum terapi, jadi risiko tambahan akibat terapi isotretinoin tidak dapat ditentu­kan. Karena pasien yang mempunyai riwaya­t upaya bunuh diri sebelum terapi melakukan upaya baru lebih sedikit dibandinngkan denga­n pasien yang memulai perilaku tersebut dalam hubungan dengan terapi, pasien dengan gangguan jerawat berat tidak perlu dilarang  mendapat terapi isotretinoin karena riwayat upaya bunuh diri.

 

 
Banner