PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Edisi April 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya!
camera slider joomla

Sampai saat ini belum ada pemeriksaan fisik dan laboratorium yang spesifik untuk mendiag­nosa IBS.2 IBS menjadi sebuah masa­lah karena akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap produktivitas dan kehidupan sosial penderita IBS. Namun sejauh ini IBS belum dikaitkan dengan penyaki­t- penyakit lain dengan mortalitas yang tinggi ataupun sebagai lesi pre-maligna.1

Gambaran global dari prevalensi IBS di seluruh dunia belum cukup lengkap dengan banyaknya kekurangan data dari beberapa negara, termasuk dalam hal ini adalah Indonesia.4 Kejadian IBS mencapai 15% dari penduduk Amerika.2 Prevalensi IBS juga dilapor­k­an terus meningkat di negara-negara Asia Pasifik, khususnya di negara berkembang. Kejadian IBS muncul terutama pada usia 15 sampai dengan 65 tahun.4 Rata-rata umur saat datang ke dokter adalah 35 tahun.3 Kejadian IBS juga dilaporkan lebih banyak pada perempuan dan dilaporkan mencapai tiga kali lebih besar dari laki-laki.2 Salah satu kesulitan di dalam mendapatkan data mengenai prevalensi IBS adalah penggu­naan kriteria diagnostik yang berbeda antara negara yang satu dengan yang lainnya.4

 

Definisi

Pada 1970, Manning dan kawan-kawan membuat kriteria diagnostik IBS untuk pertama kalinya yang kemudian dikenal dengan Kriteria Manning (Tabel 1). Kriteria Manning dibuat dengan membandingkan gejala-gejala pada pasien dengan nyeri perut yang me­miliki gangguan organik dan pasien dengan nyeri perut yang tidak memiliki gangguan organ­ik.1

Dalam 10 tahun terakhir, perhatian terhadap IBS meningkat dan suatu kelompok kerja di Roma berhasil mengelaborasi suatu kriteria diagnostik yang lebih detail, akurat dan berguna. Kriteria Roma sudah mengalami beberapa kali revisi. Kriteria Roma I muncul pertama kali pada tahun 1990 dan banyak mengadopsi kriteria Manning. Tahun 1999, Kriteria Roma I direvisi menjadi kriteria Roma II yang kembali direvisi pada tahun 2006 menjadi Kriteria Roma III (Tabel 2) yang digunakan secara luas hingga saat ini.1,5

Klasifikasi2,6

Berdasarkan gejala gangguan pola defekasi, IBS diklasifikasikan ke dalam beberapa sub-grup menurut kriteria Roma III, yaitu:

∑ IBS pre-dominan konstipasi (IBS-Constipa­tion, IBS-C): Feses keras pada > 25% defekasi; Feses lunak berair pada < 25% defekasi; Defekasi sering tidak lampias; Biasanya feses disertai dengan lendir tanpa darah.IBS pre-dominan diare (IBS-Diarrhea, IBS-D): Feses lu­na­k berair pada > 25% defekasi; Feses keras pada < 25% defekasi; Diare pada pagi hari se­ring dengan urgensi; Biasanya disertai de­nga­n rasa sakit yang hilang dengan defekasi.

∑ IBS tipe campuran (IBS-Mixed, IBS-M): Feses lunak berair pada < 25% defekasi; Feses lunak berair pada < 25 % defekasi; Pola defekasi yang berubah-ubah (diare dan konstipasi); Sering feses keras di pagi hari diikuti dengan beberapa kali defekasi dan feses menjadi cair pada sore hari.

∑ IBS yang tidak tergolongkan (Unspecified IBS): Perubahan konsistensi dari feses tidak dapat memenuhi kriteria untuk IBS-D, IBS-C maupun IBS-M.

Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish