steroids
Banner
Translate
Edisi No 09 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Penatalaksanaan Berbagai Jenis Luka Menggunakan Dressing  

Luka kronik adalah luka yang berada pada satu tahap pe­nye­mbuhan, biasanya tahap infla­masi, dan tidak dapat meng­alami proses lebih lanjut. Frank Werdin menyatakan bahwa luka kronik adalah luka yang tidak berhasil melalui prosesnya dan proses perbaikan yang tidak sesuai waktunya, yang meng­ha­sil­kan integritas fungsi dan ana­to­­mi selama periode 3 bulan. Menurut etiologi, luka kronik me­liputi insufisiensi vena, perfu­si arteri, diabetes, tekanan terus-me­nerus, dan faktor sistemik.   10-09-Keg-Soho-dressingPada dasarnya, setiap luka akan melalui fase penyembuhan sendiri. Fase penyembuhan yang terjadi pada setiap luka meliputi fase inflamasi yang berlangsung 4-6 hari; fase proliferasi yang me­liputi epitelisasi, angiogenesis, dan pembentukan matriks se­kitar 4-14 hari; dan fase ma­tura­si yang meliputi maturasi dan remodeling sekitar 8 hari sampai 1 tahun. Demikian dite­rangkan Dr. Imam Susanto, SpB, SpBP dalam simposium “Update on Wound Management” di Jakarta, 17 Juli 2010.

Pada luka akut, terapi di­laku­kan berdasarkan prinsip TIME, yakni benda asing dan jaringan nekrosis harus dibuang, jumlah bakteri harus dikurangi, keropeng harus dibuang, dan luka yang sehat harus dijaga. Selain itu, pembersihan dengan larutan NaCl sebelum menutup luka sangat membantu. Sedang­kan pemberian peroksida, iodine, dan alkohol akan menghambat penyembuhan. “Tujuan terapi setiap tipe luka adalah men­cipta­kan lingkungan yang kon­du­sif untuk penyembuhan,” kat­a Dr. Imam.

Beliau juga menjelaskan mengenai prinsip dasar dalam memilih dressing yang optimal. Prinsip tersebut meliputi: jika lu­k­a kering maka harus dilem­bab­kan; jika luka memiliki eksudat yang luas maka cairan harus di­se­rap; jika luka memiliki jaringan nekrotik atau debris asing maka jaringan tersebut harus dibuang; dan jika luka mengalami infeksi maka harus diterapi dengan antibi­otik.

Pada kesempatan yang sama, Prof.DR.Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE menerangkan tentang jenis-jenis dressing untuk pasien diabe­tes. Faktor yang mempe­nga­ruhi pemilihan dressing adalah ukur­an luka, jumlah eksu­dat, infeksi, nyeri, tahap penyembuhan luka, faktor pasien, ketersediaan produk, serta biaya dressing dan ases­o­risnya. Sementara, menurut jenisnya dressing yang dapat dipilih meliputi hydrogel, hydrocolloid, foam, silver, alginate, hydrofiber, film, enzymatic, impregnated dressing, dan collagen. Salah satu jenis dressing yang dapat dipilih adalah poly­urethane foam. Dressing ini memiliki beberapa kelebihan, seperti melindungi luka sesuai dengan permukaan tubuh serta dapat digunakan pada luka denga­n eksudat ringan sampai sedang dan luka infeksi. Selain itu, juga dapat digunakan se­bag­ai dressing sekunder untuk menghasilkan penyerapan tambahan. Dressing foam ini dapat digunakan untuk luka diabetik. Jika digunakan secara benar dan teratur, dressing foam dapat menyembuhkan luka diabetik.

Dressing foam juga dapat digunakan untuk luka bakar. Seperti diterangkan oleh  Prof.Wook Chun,MD.Ph.D. yang merupakan Associate Professor of Dept. of Burn Surgery dan Director of Burn Center di Hangang Sacred Heart Hospital, dan Hallym University Medical Center Seoul, Korea. penggunaan dressing foam memiliki beberapa keuntungan, seperti sangat mudah di­guna­kan dan efektif meng­oba­ti luka bakar tahap dua. Dalam menggunakan dressing foam, Prof. Wook memiliki bebe­ra­pa tips klinis “Dressing foam tidak me­nim­bul­kan aktivi­tas antibakteri, jadi kadang-ka­dang kami meng­gu­na­­kan salep antibiotik terutama jika ada indikasi infeksi,” kata­nya. Selain itu, untuk me­ning­kat­kan epitelisasi, beliau menggunakan dressing foam dengan epidermal growth factor (EGF), fibroblast growth factor (FGF), material dressing ko­lagen, dan dressing hyaluronic acid untu­k luka bakar tahap 3. Tips klinis yang juga patut diperhatikan adalah penggunaan Lidocaine gel untuk me­redakan nyeri saat mengganti dressing

Dressing foam yang digunakan oleh Prof. Wook adalah Wundres yang terdiri dari 2 lapisan, yaitu lapisan penyerap mengandung pori-pori yang sangat kecil dan homogen, yakni berukuran 50-100 mm dan memiliki daya serap yang tinggi, yakni 1,2 g/1 cm2. Studi klinis ter­hadap Wundres telah dila­kukan terhadap pasien dengan organ yang mengalami tandur kulit dan luka bakar. Sebanyak 24 pasien yang mengalami tandu­r kulit dan 31 pasien yang mengalami luka bakar dievalua­si. Wundres diganti setiap 2-3 hari dan semua luka diamati dengan kamera digital. Gambar ha­sil jepretan kamera digital dieva­luasi oleh dua ahli bedah luka bakar.

Hasil studi klinis pada pasien tandur kulit yakni rata-rata usia pasien adalah 42,3 tahun (4-87) tahun dan rata-rata area luka bakar 37,8% (5-72)%. Sebagian besar sisi tubuh yang mendapat tandur kulit lebih besar 1.000 cm2. Hasilnya, keseluruhan 24 pa­sien tandur kulit berhasil meng­alami re-epitelisasi pada rata-rata waktu 9,5 (7-15) hari sejak hari pertama tandur kulit dilakukan. Sedangkan hasil pada pasien luka bakar meliputi rat­a-rata usia 30,6 (1-77) tahun dan rata-rata area luka bakar 12,6 (1-18)%. Re-epitelisasi terjadi pada rata-rata 18,6 (5-29) hari pada 27 pasien. Pemisahan keropeng terjadi pada rata-rata 14,3 (12-18) hari pada 4 pasien dan tandur kulit dapat segera dilakukan ketika jaringan yang bergranulasi tampak di bawah keropeng. “Pada studi klinis tidak ada komplikasi atau efek samping yang terjadi pada keselu­ruhan pasien dan semua eksudat disera­p dengan baik,” ungkap Prof. Wook yakin.

Wundres yang dipasarkan oleh PT SOHO Industri Farmasi ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya menjaga kelembaban luka secara optimal, memberikan efek penyembuhan yang ideal dan cepat, mencegah terbentuknya scar dan meningkatkan epitelisasi, dan memiliki daya absorpsi tinggi. (hidayati)
 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm