steroids
Banner
Translate
Edisi No 09 Vol XXXVI - 2010 - Artikel Penyegar

Metformin: Aman dan Efektif Memperbaiki Fungsi Jantung pada Kasus Gagal Jantung

Satu dari empat penderita gagal jantung kronik adalah penyandang diabetes. Prevalensi penyandang diabetes ini bah­kan mencapai 44% pada kasus gagal jantung yang menjalani rawat inap. Tingginya angka diabetes pada penderita gagal jantung kemudian dijelaskan oleh berbagai studi yang menunjukkan bahwa hiperglikemia dan diabetes berhubungan dengan terjadinya gagal jantung, dengan peningkatan risiko 10-15% untuk setiap kenaikan 1% HbA1C. Sebuah pe­­ne­litian Studies of Left Ventricular Dysfunction berhasil membuktikan bahwa diab­etes bertanggung jawab terhadap perbur­ukan disfungsi ventrikel kiri asimtomatik menjadi gagal jantung simtomatik, dan peningkatan angka rawat serta mortalitas pada penderita gagal jantung.

Peran diabetes pada peningkatan mor­bi­di­tas dan mortalitas penderita gagal jantung tersebut menunjukkan perlunya sebuah panduan terapi diabetes bagi kelompok ini. Telah diketahui sebelumnya bahwa beberapa obat diabetes menimbulkan efek samping pada pasien gagal jantung. Insulin dan sulfonilurea, contohnya, dapat menyebabkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik, disfungsi endo­­tel, serta peningkatan mortalitas pada gagal jantung. Contoh lain adalah tiazolidinedion yang dapat memperburuk gejala gagal jantung, khususnya edema. Lain halnya dengan metformin, meskipun penggunaannya pernah dilarang pada penderita gagal jantung oleh karena risiko ‘teoretik’ terjadi­nya asidosis laktat, pada 2004 Food and Drug Administration (FDA) telah mencabut label kontraindikasi tersebut sehingga metformin saat ini dapat diberikan pada penderita gagal jantung.

Beberapa studi lain menunjukkan bahwa pemberian metformin mampu memperbaiki kondisi akhir penderita gagal jantung serta me­nurunkan mortalitas dan angka rawat inap kembali dibandingkan dengan sulfonilurea. Berbagai studi telah dilakukan, di antaranya melibatkan jumlah subjek yang cukup besar, yakni 20.450 penderita diabetes tipe 2. Berbagai studi tersebut secara konsisten menyatakan bahwa metformin dapat me­nurun­kan angka kejadian gagal jantung dibandingkan dengan obat golongan sulfonilurea dan insulin.

Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.{reg}

Untuk mengetahui hubungan antara pemberian metformin dan akibatnya pada pasien diabetes dengan gagal jantung tahap lanjut serta untuk menilai profil keamanan pemberian metformin maka dilakukan sebuah studi terhadap 401 pasien gagal jantung sistolik tahap lanjut (klasifikasi New York Heart Association (NYHA) III-IV) di sebuah pusat Gagal Jantung Ahmanson-UCLA Cardiomyopathy pada 1994-2008. Studi ini merupakan studi observasional, tidak acak, dengan jumlah subyek 401 pasien yang dibagi ke dalam dua kelompok, yakni kelompok metformin (n=99) dan kelompok non-met­for­min (n=302). Usia subjek berkisar antara 20-84 tahun (rerata=56+11 tahun), dengan kelas NYHA III (42%) dan IV (45%). Rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri adalah 24+7%, de­nga­n penyebab gagal jantung berupa kondisi iskemik (60%), idiopatik (20%), dan kelainan katup (3%).

 

Metformin dan Fungsi Jantung

Rerata awal fraksi ejeksi ventrikel kiri pada seluruh subjek penelitian adalah 24+7%. Nilai ini mengalami peningkatan yang bermakna setelah pemantauan selama 6 bula­n pada kelompok metformin, dengan perbaikan ejeksi fraksi mencapai 30+10%. Perbaikan fraksi ejeksi ini bermakna jika dibandingkan dengan kelompok terapi non-metformin (27+9%, P=0,02). Di samping itu, pada kelompok metformin didapatkan lebih banyak subjek yang mengalami perbaikan fungsi jantung (64%) dibandingkan dengan kelompok non-metformin (48%, P=0,04). Meskipun demikian, jika dianalisis meng­gu­na­kan metode multivariat dengan penyesuai­a­n terapi menggunakan ACE Inhibitor/ARB atau ?-blocker, meskipun penggunaan metformin menunjukkan kecenderungan perbaikan fungsi jantung, secara statistik nilainya tidak bermakna.

 

Metformin dan Mortalitas

Ditinjau dari segi survival rate, kelompok metformin menunjukkan angka yang lebih tinggi secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok non-metformin. Pada studi ini, persentase survival rate setelah 1 tahun dan 2 tahun untuk kelompok metformin adalah 91% dan 76% (P=0,007), sedangkan pada kelompok non-metformin adalah 78% dan 63% (P=0,007) (Grafik 1A). Selain itu, risiko kematian atau transplantasi jantung darurat lebih tinggi secara bermakna pada kelompok non-metformin dibandingkan denga­n kelompok metformin. Hal ini dapat dilihat dari persentase survival rate tanpa kema­tian dan transplantasi jantung darurat pada kelompok metformin dibandingkan dengan kelompok non-metformin, yakni 84% vs 67% pada tahun pertama (P=0,004) dan 72% vs 54% pada tahun kedua (P = 0,001) (Grafik 1B).

10-09-APR-Metfor-gb-1

Grafik 1: Metformin dan keluaran 2 tahun pasca-pemantauan.
(A) Survival rate 2 tahun, (B) Survival rate 2 tahun tanpa
kematian atau transplantasi jantung darurat.

 

Meskipun demikian, hubungan antara survival rate dengan penggunaan metformin ini tidak bermakna secara statistik jika dinilai menggunakan analisis multivariat dengan penyesuaian usia, jenis kelamin, fraksi ejeksi ventrikel kiri, fungsi ginjal, indeks massa tu­bu­h, durasi diabetes, hemoglobin, peng­gu­na­an ACE Inhibitor/ARB, dan ?-blocker.

Mekanisme kerja metformin dalam memperbaiki fungsi jantung dan survival rate diperkirakan melalui pengaruh pada aktivitas adenosine monophosphate (AMP)-activated protein kinase, sebuah enzim yang berperan sentral dalam homeostasis energi jantung dan jaringan lainnya serta berperan pada patofisiologi kelainan kardiovaskular dan metabolik. Sebuah studi yang dilakukan pada mencit yang menderita gagal jantung menunjukkan bahwa metformin memperbaiki fungsi ventrikel kiri dan survival rate melalui aktivasi AMP-activated protein kinase dan mediatornya. Bukti ini menunjukkan bahwa metformin bersifat kardioprotektif tanpa dipengaruhi oleh efek antihiperglikemi. Diperkirakan mekanisme ini terjadi melalui peningkatan efisiensi miokard ventrikel kiri pada tingkat molekuler.

 

Kesimpulan

Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa pemberian metformin aman bagi penderita gagal jantung sistolik lanjut dan mungkin berhubungan dengan gejala klinis yang lebih baik. Pada kelompok metformin, ditemukan perbaikan pada fraksi ejeksi ventrikel kiri yang lebih besar serta survival rate yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok non-metformin. Karena studi ini merupakan studi ob­ser­vasi maka untuk menentukan hubungan kausalitas masih diperlukan penelitian lebih lanjut. n  (Diah)

 

Disarikan dari:

Shah DD, Fonarow GC, Horwich TB. Metformin Therapy and Outcomes in Patients With Advanced Systolic Heart Failure and Diabetes. Journal of Cardiac Failure. 2009.p.1-7.

 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm