PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Lomba Foto

Diadakan sampai 28 Februari 2016

Edisi Januari 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya
camera slider joomla

Meski sering dikaitkan, mual dan muntah tak selalu berhubungan dengan masalah saluran cerna. Sejumlah gangguan gastro­intes­tinal seperti infeksi, inflamasi, dan obstruk­si memang sering menimbulkan mual muntah, namun penyakit non-saluran cerna seperti infark miokardium, motion sickness, keganasan, hingga masalah psikiatrik juga dapat menimbulkan mual muntah. Selain itu, mual muntah juga telah menjadi perhatian utama  penanganan pascaoperasi, kemotera­pi, dan radioterapi, serta menjadi masalah “lazim” selama kehamilan.1,2

Pada dasarnya, mual dan muntah ialah respo­ns protektif lambung dan usus terhadap zat toksik guna mencegah absorpsi toksin tersebut lebih lanjut. Muntah (emesis) didefinisikan sebagai ekspulsi oral isi gastrointestinal, sementara mual (nausea) ialah sensasi subjektif ingin muntah.1,2 Proses terjad­inya emesis pun sangat kompleks serta melibatkan banyak reseptor muntah yang tersebar di berbagai organ.

Emesis dimulai dengan fase pre-ejeksi, yakni relaksasi otot gaster dan retroperistalsis, yang dilanjutkan dengan fase peregangan. Tahap kedua ini melibatkan kerja ritmis dari otot-otot respiratorik serta kontraksi otot abdo­minal, interkostal, dan diafragma sebagai respons dari penutupan glotis. Pada fase terakhir, fase ejeksi, terjadilah kontraksi kuat otot abdominal dan relaksasi sfingter eso­fageal atas sehingga makanan keluar melalui mulut.

Selain memahami proses mekanik tersebu­t, muntah juga perlu dipandang dari aspek neurosains. Muntah diatur oleh pusat muntah, yaitu formasio retikularis lateralis, yang berdekatan dengan chemoreceptor trigge­r zone (CTZ) di area postrema, di dasar ventrikel keempat dan nukleus traktus solitari­us nervus vagus. Untuk sampai ke lokasi sentral tersebut, sinyal muntah akan ditrans­misikan melalui dua jalur utama: (1) sinyal dari pencernaan yang akan nervus vagu­s cabang traktus solitarius, dan (2) dari aferen splanknikus yang berjalan melalui medula spinalis. Input lain juga diperoleh dari aparatu­s vestibularis yang sering terjadi pada kasus motion sickness atau gangguan vestibular lain.2

Proses transmisi sinyal ke pusat muntah melibatkan beberapa neurotransmiter (dan reseptornya) yang kini menjadi target peng­obat­an. Beberapa yang diketahui ber­peran pen­ting antara lain serotonin (5-hidrok­sitrip­tamin-3 atau 5-HT3), opioid, serta dopamin (D2) pada CTZ. Reseptor untuk enkefalin, hista­min, asetilkoline, dan 5-HT3 ditemukan sangat dominan pada traktus solitario­us.2,3

Masing-masing penyebab muntah memili­ki jalur dan sinyal yang berbeda untuk menyebabkan muntah. Pada kasus muntah akibat kemo- atau radioterapi, sebagai contoh, paparan zat radikal bebas akan mengaktiv­asi sel-sel enterokromafin pada saluran cerna sehingga terjadi pelepasan 5-HT yang selanjutnya menstimulasi reseptor 5-HT3 pada neuron aferen vagus. Uniknya, masing-masing agen sitotoksik tersebut da­pa­t menyebabkan pola muntah yang berbeda. Cisplatin, misalnya, sering menyebabkan muntah dengan pola bifasik: awitan akut (puncak pada 4 jam) dan muncul lagi pada 48-72 jam, sementara siklofosfamid dan carbopla­tin menyebabkan muntah awitan lambat (6-10 jam pascaterapi). Pemahaman tentang neurotransmiter inilah yang menjadi dasar untuk pengembangan agen antiemetik saat ini dan, mungkin, masa depan.2,3

Selain menjadi jalur poten untuk mual muntah akibat kemoterapi dan terapi radiasi, reseptor 5-HT3 juga berperan pada muntah yang terjadi pascaoperasi, beberapa kasus motion sickness, bahkan gastroenteritis. Ondansetron adalah salah satu obat golongan ini yang telah banyak dipakai dan diteliti efikasinya.

 

{pub}Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.{/pub}{reg}

Perlunya Kerja Cepat

Dalam konsensus manajemen Posto­perative Nausea and Vomiting (PONV)  2013, para pakar telah merekomendasikan penting­nya pengenalan dan stratifikasi risiko muntah untuk setiap prosedur operasi. Pemberian antiemetik secara dini pun telah terbukti efektif, baik untuk pencegahan maupun pengob­atan. Di antaranya, ondansetron telah menjadi antiemetik utama dalam penanga­nan mual muntah pascaoperasi (number needed-to-treat/NNT=6 untuk pencegahan muntah dan NNT=7 untuk pencegahan mual). Rekomendasi pemberian dini tersebut tidak lepas dari profil farmakologis ondan­setron yang memiliki awitan kerja lebih cepat dibandingkan agen lain. Efek puncak akan diperoleh setelah 10 menit untuk rute intravena.3

Sebuah studi randomized-placebo controll­ed-double blind  yang melibatkan 164 subjek laparoskopik ginekologis mencoba melihat waktu pemberian ondansetron yang optimal, dari segi awitan kerja, potensi, serta kepuasan dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini dibagi menjadi empat grup: kelompok A mendapatkan plasebo, ke­lompo­k B diberi ondansetron 2 mg sebelum operasi dan 2 mg sesudah operasi, kelompok C diberi ondansetron 4 mg sebelum induksi, dan kelompok D mendapatkan ondansetron 8 mg setelah operasi. Dari studi tersebut, peneliti menemukan bahwa ondansetron 4 mg intravena paling baik diberikan segera setelah operasi (p<0,05). Lebih lanjut, pemberian segera ondansetron setelah prosedur disimpulkan mampu meningkatkan kemampuan makan dan minum, serta kepuasan pasien (p<0,05).4

 

Aman untuk Anak dan Kehamilan

Meski utamanya dipakai pada kasus kemoter­api atau pascaoperasi, beberapa literat­ur juga melaporkan manfaat dan keaman­an agen 5-HT3 pada anak dan ibu hamil. Beberapa pakar menilai, antiemetik pad­a anak dibutuhkan pada kasus muntah akibat gastroenteritis, terutama bila me­nyulitkan pemberian cairan rehidrasi dan nutri­si oral. Demikian halnya dengan emesis atau hiperemesis gravidarum pada ibu hamil.5,6

Pada 2011 lalu, The Cochrane Colla­boration menerbitkan telaah sistematis untuk menilai potensi berbagai antiemetik dalam penanganan muntah pada kasus gastroenteritis anak. Dari tujuh penelitian penting yang diikutsertakan, salah satu kesimpulan yang dikemukakan ialah pemberian ondansetron dosis tunggal (0,1 mg/Kg) secara oral dan intravena pada kasus gastroenteritis dengan dehidrasi ringan-sedang bermanfaat untuk mengurangi kejadian muntah, mengurangi kebutuhan rehidrasi intravena, serta lama rawat pasien. Apabila dibandingkan dengan plasebo maka pemberian ondansetron terbukti efektif dalam mencegah kejadian muntah berulang dalam 24 jam (p=0,048). Efektivitas pencegahan muntah jug­a lebih tinggi pada kelompok yang diberi ondansetron intravena (58% subjek bebas muntah), dibandingkan metoklopramid intraven­a dan plasebo (p=0,039), dalam 24 jam pengamatan.5

Peran ondansetron dalam kehamilan juga telah diteliti manfaat dan keamanannya. Kejadian mual muntah pada kehamilan paling sering terjadi pada usia gestasi 3-8 minggu (puncaknya pada 8-12 minggu) dan 10-15% di antara ibu hamil tersebut membutuhkan terapi medikamentosa. Namun, tidak banyak obat yang aman diberikan pada trimester pertama karena efek teratogeniknya.6

Ondansetron juga dinilai aman bagi kehamilan. Hasil penelitian kohort terhadap 608.385 wanita hamil di Denmark menunjuk­kan bahwa ondansetron tidak berhubungan dengan kejadian aborsi spontan, baik pada usia kehamilan 7-12 minggu (HR 0,49; 95%CI 0,27-0,91) maupun usia 13-22 ming­g­u (HR 0,60; 95%CI 0,29-1,21). Ondan­setron juga tidak berhubungan dengan kejadian stillbirths, defek mayor kongenital, bayi lahir dengan berat badan rendah, serta usia kelahiran prematur.6

Sebagai kesimpulan, penanganan muntah perlu disesuaikan dengan etiologi dan mekanisme dasar penyebabnya. Namun, di lain sisi, terapi antiemetik secara dini juga diperlukan untuk mencegah perburukan, memperbaiki asupan oral, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Selain awitan cepat, aspe­k keamanan juga penting dipertimbang­kan dalam memilih agen yang tepat. n 

 

Daftar Pustaka

1.    Aapro M. Optimising antiemetic therapy: what are the problems and how can they be overcome? Curr Med Res Opin. 2005;21(6):885-97.

2.    Hsu ES. A review of granisetron, 5-hydroxytryptamine3 receptor antagonists and other antiemetics. Am J Ther. 2010;17(5):476-86.

3.    Gan TJ, Diemunsch P, Habib AS, Kovac A, Kranke P, Meyer TA, et al. Consensus guidelines for the management of postoperative nausea and vomiting. Anesth Analg. 2014;118(1): 85-113.

4.    Tang J, Wang B, White PF, Watcha MF, Qi J, Wender RH. The effect of timing of ondansetron administration on its efficacy, cost-effectiveness, and cost-benefit as a prophylactic antiemetic in the ambulatory setting. Anesth Analg. 1998;86(2):274-82.

5.    Fedorowicz Z, Jagannath VA, Carter B. Anti emetics forreducing vomiting related to acute gastroenteritisin children and adolescents. Cochrane Database Syst Rev. 2011 Sep 7;(9):CD005506.

6.    Pasternak B, Svanström H, Hviid A. Ondansetron in pregnancy and risk of adverse fetal outcomes.N Engl J Med. 2013;368(9):814-23.{/reg}


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Login Form

Who's Online

Kami memiliki 47 tamu dan satu anggota online

  • SayNo