PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Edisi Mei 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya!
camera slider joomla

14.04-KEG12-GBR1Acara telah dimulai sehari sebelumnya dengan workshop hipertensi yang dihadiri oleh kura­ng lebih 180 peserta dan konferensi pers. Pertemuan ilmia­h tahun ini dihadiri oleh sekitar 1.500 peserta dari berbag­ai pelosok Indonesia. Menurut dr. Yudha Turana, SpS, stroke dan jantung masih merupak­an penyebab kematian dan kecacatan tertinggi, dan hipertensi merupakan salah satu penyebab utama keadaan tersebu­t. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa mempunyai hipertensi. Dari 24% yang terdiag­nosis, hanya 18% yang terkontrol. Untuk mengatasinya, diperlukan penanganan yang komprehensif, dari pelayananan primer hingga lanjutan, dari pelayanan preventif hingga penanganan rutin. Inilah yang menyebabkan dipilihnya tema tahun ini, yaitu “Optimizing Hypertension Management in Primary and Referral Care for Morbidity and Mortality Reduction.

Dr. Pranawa, PhD, SpPD, KGH, FINASIM, sebagai per­wa­kila­n Ikatan Dokter Indonesia, memuji INASHsebagai perhimpunan yang paling aktif di antara perhimpunan dokter lain yang bernaung di bawah IDI. Perhimpunan profesi itu penting karena yang pertama kali membe­rikan kendali mutu dan kendali biaya dalam bidang kesehatan adalah perhimpunan profesi kedokteran, sebelum Kementerian Kesehatan mau­pun Perintah Presiden turun tanga­n. Caranya adalah melalui undang-undang praktik kedokteran. Sayangnya, profesi belum menggunakan undang-undang itu secara penuh, apalagi dalam membina kendali mutu dan kendali biaya pelayanan kesehatan. Dalam kendali mutu dan kendali biaya, juga termasuk mengendalikan protap dan jenis-jenis obat yang dimasukkan ke dalam daftar obat Sistem Jaminan Sosial Nasional atau SJSN. Menurut dr. Pranawa, IDI mengusulkan adanya gaji dasar sebelum kapitasi. Setelah itu, baru ditambah dengan kapitasi dan sebuah “fee for service, agar imbalan yang diterima oleh dokter mencukupi. IDI akan tetap memperjuangkan agar se­mu­a pihak, baik rakyat, dokter, maupun BPJS merasa puas.

Selanjutnya, dr. Nani Hersunarti, SpJP(K), FIHA, memberikan sambutan singkat. Menurut dr. Nani, pelaksanaan SJSN dapat menjadi rintangan atau tantangan dalam pelaksanaannya. SJSN merupakan kesem­patan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat. Oleh karena­nya, INASH akan selalu memberikan masukan kepada Kementerian Kesehatan untuk perbaikan pelayanan kesehatan, terutama dalam bidang hiper­tensi. Hal itu dimaksudkan agar pasien mendapatkan pengelolaan hipertensi yang terbaik dalam pelayanan kesehatan. Untuk lebih memajukan penge­lolaan hipertensi, Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk Kongres Perhimpunan Hiper­tensi Asia-Pasifik ke-11 pada 2015 di Bali. Dr. Nani juga memberikan berita duka cita atas me­ninggalnya dr. Pudji Rahardjo, SpPD-KGH, tahun lalu, dan meminta hadirin untuk meng­hening­kan cipta sejenak. Selanjutnya, opening ceremony PIT ke-8 INASH ditutup dengan doa dan pemukulan gong seban­yak tiga kali oleh dr. Nani dengan didampingi oleh dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD; dr. Yan Aslian Noor, MPH; dr. Yuda Turana, SpS; serta dr. Pranawa, PhD, SpPD, KGH, FINASI­M. (DIPN)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish