steroids
Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXVI - 2010 - Kegiatan

Metformin, Masih menjadi Pilihan Pertama Terapi Diabetes

Setelah lebih dari 40 tahun menemani penderita diabetes, metformin masih merupakan pilihan utama terapi diabetes. Demikian ungkap Prof. Charles A Reisner, MD, FACE, FRCP, seorang pakar di bidang Endokrinologi Amerika, menanggapi pola diet tak sehat yang marak di masyarakat saat ini. Pada sebuah seminar Diabetes, Obesity, and Cardiovascular Link (DOC Link), 10 Juli 2010 lalu, Prof. Reisner menyampaikan bahwa pola makan dan gaya hidup sedenter mengakibatkan prevalensi obesitas meningkat secara tajam beberapa tahun terakhir, dan akan terus mengalami peningkatan. Sedangkan berbagai studi membuktikan bahwa kelainan metabolik meningkat seiring dengan peningkatan angka obesitas di populasi, lanjut Prof. Reisner. Sebuah studi terhadap populasi anak dari keluarga yang sama, dengan orang tua dan lingkungan yang sama, membuktikan bahwa terdapat peningkatan kadar glukosa, insulin, trigliserida, dan tekanan darah sistolik, disertai penurunan kadar kolesterol HDL yang bermakna pada kelompok anak dengan obesitas. Dengan kata lain, melalui suatu mekanisme, obesitas terbukti dapat meningkatkan angka terjadinya kelainan metabolik, di antaranya diabetes.

1008-keg-Merck-metforminHubungan antara kejadian diabetes dan obesitas, ungkap Prof. Reisner, terjadi akibat adanya deposit sel lemak yang tidak pada tempatnya, yakni pada sel otot dan pankreas. Sel lemak ektopik ini akan melepaskan asam lemak bebas yang bersifat toksik pada transporter glukosa di otot sehingga menginduksi terjadinya resistansi insulin. Selain itu, lipotoksisitas juga terjadi pada sel beta di pankreas sehingga terjadilah apoptosis dan disfungsi sel beta. Kedua defek ini, resistansi insulin dan disfungsi sel beta, merupakan patofisiologi utama yang mendasari terjadinya diabetes.

Penggunaan metformin sebagai terapi diabetes menjadi sangat popular sejak dilakukan sebuah studi oleh UKPDS, lanjut Direktur Utama Institut Diabetes Texas ini. Studi yang melibatkan 4.209 pasien yang baru terdiagnosis diabetes ini membagi subjeknya menjadi tiga kelompok terapi, yaitu diet, insulin/sulfonilurea, dan metformin. Pada akhir studi diketahui bahwa meskipun kendali glukosa darah antara insulin, sulfonylurea, dan metformin serupa, metformin terbukti dapat menekan angka kematian hingga 36% dibandingkan insulin dan sulfonilurea. Selain itu, penggunaan metformin dapat menurunkan risiko terjadinya serangan jantung hingga 39% dan kematian akibat kelainan koroner hingga 50% dibandingkan dengan insulin dan sulfonilurea. Penurunan angka kematian ini, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, disebabkan oleh mekanisme lain di samping kendali glukosa darah. Mekanisme tersebut di antaranya adalah penurunan berat badan, penurunan kadar kolesterol LDL dan trigliserida, serta peningkatan kadar kolesterol HDL. Berbagai studi terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan metformin berhubungan dengan penurunan risiko terjadinya keganasan melalui peningkatan kadar GLP-1.

Berbagai kelebihan metformin inilah yang melatarbelakangi dibuatnya sebuah revisi pada konsensus algoritma tata laksana diabetes oleh ADA/ EASD pada 2005. Konsensus ini menganjurkan modifikasi gaya hidup dan pemberian metformin sebagai terapi inisial diabetes melitus. Jika terapi ini belum mencapai target maka sulfonilurea atau insulin dapat ditambahkan pada terapi sebelumnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa pemberian metformin terkadang menemui beberapa kendala seperti pemberian dosis terbagi sebanyak 2-3 kali/hari dan efek samping berupa gangguan saluran cerna pada beberapa kasus. Kesulitan ini dapat diatasi dengan pemberian sediaan lepas lambat (Glucophage XR) yang hanya memerlukan satu kali pemberian di malam hari. Di samping itu, Glucophage XR dengan teknologi sistem difusi gellshield memungkinkan pelepasan metformin secara perlahan dan mencegah peningkatan kadar metformin secara mendadak di dalam darah sehingga mengurangi berbagai gejala gangguan saluran cerna.

Prof. Reisner juga menyampaikan bahwa terapi diabetes, jika diberikan secara tunggal, hanya dapat menurunkan kadar HbA1C tak lebih dari 1,5%. Oleh sebab itu, beberapa pasien dengan kadar HbA1C yang tinggi memerlukan kombinasi setidaknya dua jenis sediaan sekaligus. Glucovance, sebuah sediaan kombinasi metformin dengan glibenklamid terbukti dapat memperbaiki HbA1C lebih baik dibandingkan dengan pemberian metformin dan glibenklamid yang diberikan sebagai sediaan terpisah secara bersamaan. Hal ini tentunya tidak berkaitan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obat, melainkan karena partikel glibenklamid yang lebih kecil pada Glucovance sehingga glibenklamid mencapai kadar puncak secara lebih cepat dibandingkan dengan glibenklamid yang diberikan secara terpisah (2 jam vs. 8 jam). Sebelum bertolak ke San Antonio, Texas, Prof. Reisner tak lupa menyampaikan pesan “Jika kita dapat memberikan obat yang terbaik pada pasien kita, kenapa tidak?”  (diah)
 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm