Pertanyaaan yang dijawab adalah pada orang dewa­sa dengan hipertensi, apakah pemberian obat-obat antihipertensi pada tekanan darah tertentu akan memperbaiki hasil akhirnya? Apakah tera­pi anti­hiperte­nsi dengan targe­t ter­ten­t­u memperbaiki hasil akhirnya? Apakah berbagai obat anti­hipeten­si memiliki keun­tunga­n dan efek samping yang berbeda terhad­­ap hasil akhirnya? Pertanyaan-perta­nyaan tersebut menyebabkan JNC 8 tidak dapat dipakai sebagai guidelines untuk manajemen hipertensi. Menga­pa begini? Karena sebenarnya yang disebut sebagai JNC 8 sebenarnya adalah laporan dari panel JNC 8, guideline hiper­ten­si­nya masih belum dikeluarkan.

14.04-KEG15-GBR1Menurut dr. Erwin, dalam sebuah metaanalisis, pemakaian b-blocker secara intravena (IV) dalam jangka waktu pendek (beberapa hari) ditambah denga­n b-blocker oral selama 1 tahun, terjadi penurunan mortalitas sebanyak 4%. Sedangkan dalam penggunaan jangka panjan­g (1,5 tahun), pemberian b-blocker IV menurunkan morta­lita­s sebanyak 28%. Inilah yang mendasari anjuran penggunaan b-blocker untuk pasien CAD dengan disfungsi ventrikel kiri dengan fraksi ejeksi (EF) secondary prevention and risk reduction therapy). b-blocker yang dianjur­kan adalah carvedilol, metoprolol, bisoprolol, atau nebivolol (Class I-A). Terapi pemberian b-blocker ini juga sebaiknya diberikan selam­a 3 tahun setelah terdiagnosis (Class I-B). b-blocker juga boleh diberikan pada pasien dengan EF yang baik selama lebih dari 3 tahun (Class II-A).

Yang perlu dipertanyakan adalah apakah penggunaan b-blocker bermanfaat pada pasien CAD dengan hipertensi? Menurut dr. Erwin, berdasarkan penelitian-penelitian di atas, pemberian b-blocker rasional, tetapi harus diiringi pemberian ACE-Inhibitor atau statin. Sedangkan untuk pasien tanpa kondisi-kondisi seperti post-infar­k miokard, stable angina, heart failure, diabetes, dan post- stroke, penggunaan b-blocker masih kontroversial. Ada yang menganjurkan penggunaannya, ada yang tidak. Menurut JNC 8, penggunaan b-blocker tidak dianjurkan, sedangkan menurut ESH/ESC penggunaan b-blocker sama dianjurkannya dengan obat antihipertensi lain.

Selain itu, b-blocker masih diberikan pada pasien dengan CAD, tetapi data yang dipakai untuk mendukung pendapat ini adalah data lama, di mana pasien postinfark miokard tidak diberikan ACE-Inhibitor, statin, ataupun menjalani Percutaneous Coronary Intervention. Oleh karena itu, relevansinya dipertanyakan. Di antara yang termasuk CAD, stable angina adalah jenis yang jarang diteliti. Di antar­a penelitian tersebut, yang diteliti adalah gejala penyakitnya, bukan mortalitasnya.  Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa baik b-blocker maupun Calcium Channel Blocker (CCB) sama efektifnya dalam mengurangi nyeri pada saat uji treadmi­ll dengan kemungkinan terjadinya ST depresi dan ST depre­si maksimal sama. Dalam pemakaian selama 6 bulan, tingkat pengurangan nyeri pada pemakaian CCB dan b-blocker sama. Oleh karena itu, guidelines hipertensi 2013 memasukkan CCB dan b-blocker sebagai first-line drug untuk mengontrol denyut jantung dan gejala, bukan mortalitas. Tetapi, semua ini hanya berdasarkan ekstrapolasi atau perkiraan. Perlu diingat bahwa semua guideline pasti berdasarkan ekstrapolasi, dmi­kian yang ditekankan dr. Erwin.

Sedangkan dalam penata­lak­sanaan pasien dengan penya­ki­t ginjal hipertensi, b-blocker sama baiknya dengan ACE-Inhibitor dan CCB dalam menurunkan GFR pada pasien dengan penyakit ginjal hipertensi. Berdasarkan penelitian African American Study of Kidney Disease (AASK), ACE-Inhibitor dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) lebih baik daripada CCB dan b-blocker dalam mencegah munculnya new onse­t diabetes dan CCB lebih baik daripada b-blocker untuk mencegah new onset diabetes. Oleh karena itu, National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) dan ESH/ESC menyatakan bahwa b-blocker adalah fourth-line antihypertensive drug untuk new onset diabet­es atau berisiko tinggi untu­k diabetes. Karena dalam penelitian tersebut, b-blocker yang dipakai adalah b-blocker non-selektif, yang menghambat reseptor b-1 dan b-2. Sedangkan reseptor b-2 adalah yang meng­atur kinerja pankreas. Seharus­nya yang dipakai adalah b-blocker yang selektif yang tidak menghambat reseptor b-2, seperti bisoprolol yang merupakan isi kandungan dari B-Beta?, salah satu produk dari PT. Ferron Par Pharmaceuticals. (DIPN)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish