PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Edisi April 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya!
camera slider joomla

Pertanyaaan yang dijawab adalah pada orang dewa­sa dengan hipertensi, apakah pemberian obat-obat antihipertensi pada tekanan darah tertentu akan memperbaiki hasil akhirnya? Apakah tera­pi anti­hiperte­nsi dengan targe­t ter­ten­t­u memperbaiki hasil akhirnya? Apakah berbagai obat anti­hipeten­si memiliki keun­tunga­n dan efek samping yang berbeda terhad­­ap hasil akhirnya? Pertanyaan-perta­nyaan tersebut menyebabkan JNC 8 tidak dapat dipakai sebagai guidelines untuk manajemen hipertensi. Menga­pa begini? Karena sebenarnya yang disebut sebagai JNC 8 sebenarnya adalah laporan dari panel JNC 8, guideline hiper­ten­si­nya masih belum dikeluarkan.

14.04-KEG15-GBR1Menurut dr. Erwin, dalam sebuah metaanalisis, pemakaian b-blocker secara intravena (IV) dalam jangka waktu pendek (beberapa hari) ditambah denga­n b-blocker oral selama 1 tahun, terjadi penurunan mortalitas sebanyak 4%. Sedangkan dalam penggunaan jangka panjan­g (1,5 tahun), pemberian b-blocker IV menurunkan morta­lita­s sebanyak 28%. Inilah yang mendasari anjuran penggunaan b-blocker untuk pasien CAD dengan disfungsi ventrikel kiri dengan fraksi ejeksi (EF) secondary prevention and risk reduction therapy). b-blocker yang dianjur­kan adalah carvedilol, metoprolol, bisoprolol, atau nebivolol (Class I-A). Terapi pemberian b-blocker ini juga sebaiknya diberikan selam­a 3 tahun setelah terdiagnosis (Class I-B). b-blocker juga boleh diberikan pada pasien dengan EF yang baik selama lebih dari 3 tahun (Class II-A).

Yang perlu dipertanyakan adalah apakah penggunaan b-blocker bermanfaat pada pasien CAD dengan hipertensi? Menurut dr. Erwin, berdasarkan penelitian-penelitian di atas, pemberian b-blocker rasional, tetapi harus diiringi pemberian ACE-Inhibitor atau statin. Sedangkan untuk pasien tanpa kondisi-kondisi seperti post-infar­k miokard, stable angina, heart failure, diabetes, dan post- stroke, penggunaan b-blocker masih kontroversial. Ada yang menganjurkan penggunaannya, ada yang tidak. Menurut JNC 8, penggunaan b-blocker tidak dianjurkan, sedangkan menurut ESH/ESC penggunaan b-blocker sama dianjurkannya dengan obat antihipertensi lain.

Selain itu, b-blocker masih diberikan pada pasien dengan CAD, tetapi data yang dipakai untuk mendukung pendapat ini adalah data lama, di mana pasien postinfark miokard tidak diberikan ACE-Inhibitor, statin, ataupun menjalani Percutaneous Coronary Intervention. Oleh karena itu, relevansinya dipertanyakan. Di antara yang termasuk CAD, stable angina adalah jenis yang jarang diteliti. Di antar­a penelitian tersebut, yang diteliti adalah gejala penyakitnya, bukan mortalitasnya.  Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa baik b-blocker maupun Calcium Channel Blocker (CCB) sama efektifnya dalam mengurangi nyeri pada saat uji treadmi­ll dengan kemungkinan terjadinya ST depresi dan ST depre­si maksimal sama. Dalam pemakaian selama 6 bulan, tingkat pengurangan nyeri pada pemakaian CCB dan b-blocker sama. Oleh karena itu, guidelines hipertensi 2013 memasukkan CCB dan b-blocker sebagai first-line drug untuk mengontrol denyut jantung dan gejala, bukan mortalitas. Tetapi, semua ini hanya berdasarkan ekstrapolasi atau perkiraan. Perlu diingat bahwa semua guideline pasti berdasarkan ekstrapolasi, dmi­kian yang ditekankan dr. Erwin.

Sedangkan dalam penata­lak­sanaan pasien dengan penya­ki­t ginjal hipertensi, b-blocker sama baiknya dengan ACE-Inhibitor dan CCB dalam menurunkan GFR pada pasien dengan penyakit ginjal hipertensi. Berdasarkan penelitian African American Study of Kidney Disease (AASK), ACE-Inhibitor dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) lebih baik daripada CCB dan b-blocker dalam mencegah munculnya new onse­t diabetes dan CCB lebih baik daripada b-blocker untuk mencegah new onset diabetes. Oleh karena itu, National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) dan ESH/ESC menyatakan bahwa b-blocker adalah fourth-line antihypertensive drug untuk new onset diabet­es atau berisiko tinggi untu­k diabetes. Karena dalam penelitian tersebut, b-blocker yang dipakai adalah b-blocker non-selektif, yang menghambat reseptor b-1 dan b-2. Sedangkan reseptor b-2 adalah yang meng­atur kinerja pankreas. Seharus­nya yang dipakai adalah b-blocker yang selektif yang tidak menghambat reseptor b-2, seperti bisoprolol yang merupakan isi kandungan dari B-Beta?, salah satu produk dari PT. Ferron Par Pharmaceuticals. (DIPN)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish